Home Tulisan Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Panti Ini Jadi Gerbang Harapan bagi Anak-anak
Tulisan

Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Panti Ini Jadi Gerbang Harapan bagi Anak-anak

Share

Oleh : Nurul Nazwar Khairani, Alya Rahmani Ulfa Nasution, Ezra Azzahra Hasibuan, Adyu Tsabitha Desyalavina, Fajar Utama Ritonga

Suara USU, Medan. Kami, dari kelompok 11 yang beranggotakan Nurul Nazwar Khairani dengan NIM 240902053, Alya Rahmani Ulfa Nasution dengan NIM 240902069, Ezra Azzahra Hasibuan dengan NIM 240902093, Adyu Tsabitha Desyalavina dengan NIM 240902067, mahasiswa semester dua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, dengan dosen pengampu mata kuliah Metode-Metode Pekerjaan Sosial Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., telah melaksanakan observasi dan wawancara di Panti asuhan (LKSA Cinta Kasih Medan) yang beralamat di Jl. Sei Brantas No.70, Babura Sunggal, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara 20154. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2025. Salah satu tujuan kami melakukan observasi wawancara di panti asuhan ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi metode pekerjaan sosial yang dilaksanakan di panti tersebut.

Pendidikan adalah hak fundamental setiap anak, dan negara memiliki kewajiban untuk memastikannya dapat diakses secara adil dan merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin, anak yatim piatu, dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil. Anak-anak ini rentan terhadap keterputusan pendidikan akibat kondisi ekonomi, sosial, dan struktural. Dalam konteks inilah peran lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) atau yang lebih dikenal sebagai panti asuhan menjadi sangat vital. LKSA tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga berperan sebagai agen pemberdayaan sosial melalui pelayanan pendidikan. Salah satu contoh yang menonjol adalah LKSA Cinta Kasih Medan yang berdiri sejak tahun 2020, tepatnya saat pandemi COVID-19 mulai berdampak luas terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Lembaga ini didirikan sebagai respons terhadap anak-anak dari daerah pedalaman dan keluarga tidak mampu yang kehilangan akses terhadap pembelajaran daring karena tidak memiliki perangkat dan koneksi internet. Sejak awal, LKSA ini berkomitmen dalam mendampingi dan menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak yang ditampung.

Sebagai lembaga yang berbasis pada pelayanan sosial, LKSA Cinta Kasih Medan menerapkan metode pekerjaan sosial untuk meningkatkan pendidikan anak-anak asuhnya. Metode yang digunakan mencakup beberapa aspek penting, mulai dari bantuan administratif, pembinaan kegiatan harian yang terstruktur, hingga pendekatan psikososial. Implementasi metode pekerjaan sosial dimulai dari pengurusan dokumen legalitas seperti kartu keluarga, akta kelahiran, Kartu Indonesia Pintar (KIP), hingga kepesertaan BPJS. Hal ini menjadi landasan agar anak-anak dapat mengakses pendidikan formal dan layanan sosial lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Pengurus panti juga telah mengikuti pelatihan dari Dinas Sosial untuk memahami proses administratif tersebut, meskipun pelatihan itu belum menyentuh aspek-aspek psikososial atau teknik pendekatan terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan adaptasi atau trauma masa lalu.

Selain pendekatan administratif, panti ini juga mengatur struktur kehidupan sehari-hari anak-anak dalam bentuk jadwal yang terorganisir. Anak-anak dibiasakan bangun pukul 04.30 pagi, melaksanakan ibadah, mengerjakan tugas rumah tangga, sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Setelah kembali dari sekolah, anak-anak kembali melaksanakan ibadah, belajar sore hari, dan di malam hari melakukan aktivitas spiritual sebelum tidur. Rutinitas ini tidak hanya melatih kedisiplinan tetapi juga memberikan rasa stabilitas dan tanggung jawab. Kegiatan belajar tambahan atau bimbingan belajar dilakukan tiga kali seminggu, yaitu hari Selasa, Kamis, dan Jumat, untuk memperkuat pemahaman akademik mereka. Selain itu, pelatihan keterampilan seperti menjahit juga diberikan agar anak-anak memiliki keahlian yang dapat digunakan di kemudian hari. Pola ini mencerminkan pendekatan task-centered dalam pekerjaan sosial, di mana pembiasaan kegiatan yang bermakna menjadi strategi untuk membangun kemandirian dan ketahanan sosial anak.

Di sisi lain, tantangan yang paling signifikan dalam pelaksanaan metode pekerjaan sosial di panti ini adalah menangani anak-anak remaja. Anak-anak dalam usia ini sering kali membawa latar belakang pengalaman yang berat, seperti kehilangan orang tua, kekerasan, atau penelantaran. Hal ini menyebabkan sebagian dari mereka bersikap tertutup, memberontak, atau kehilangan motivasi belajar. Untuk itu, diperlukan pendekatan psikososial yang lebih personal dan berkesinambungan. Pengurus panti berusaha untuk membentuk hubungan yang akrab dan penuh pengertian dengan anak-anak ini, agar mereka merasa diterima dan dihargai. Meski belum memiliki latar belakang profesional sebagai psikolog atau konselor, para pengurus berupaya menggunakan pendekatan empatik dan relasional dalam membina mereka. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pekerjaan sosial yang menempatkan individu dalam lingkungannya (person-in- environment), yakni memahami bahwa perilaku dan kebutuhan anak tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial tempat mereka berasal dan berkembang.

Walaupun metode-metode tersebut telah diterapkan, pelaksanaannya masih menemui berbagai kendala. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber daya manusia. Dengan hanya lima orang pengurus yang harus mengelola hampir 50 anak dari berbagai jenjang usia dan kebutuhan, pengawasan dan pendampingan secara individual menjadi kurang maksimal. Selain itu, tidak adanya pelatihan khusus bagi pengasuh dalam hal konseling, pendekatan psikososial, dan penanganan masalah perilaku menjadi hambatan dalam memberikan intervensi yang tepat. Dukungan dari pihak luar seperti psikolog, relawan pendidikan, maupun tenaga sosial profesional masih sangat dibutuhkan agar layanan yang diberikan kepada anak-anak menjadi lebih menyeluruh dan berdampak jangka panjang.

Meskipun demikian, hasil dari penerapan metode pekerjaan sosial di LKSA Cinta Kasih Medan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dua anak binaan telah berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi, yang menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat dan lingkungan yang mendukung, anak-anak dari kelompok rentan pun dapat mencapai jenjang pendidikan yang tinggi. Ini merupakan capaian yang tidak hanya mencerminkan keberhasilan program pendidikan, tetapi juga menunjukkan efektivitas metode pekerjaan sosial dalam membantu anak-anak membangun masa depan yang lebih baik. Pengurus panti juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang sesuai potensi mereka masing-masing, dan proses pengasuhan dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan yang membuat mereka merasa aman dan diterima.

Penting untuk diakui bahwa peran panti seperti LKSA Cinta Kasih tidak dapat berdiri sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan masyarakat luas sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa pendekatan pekerjaan sosial dapat diimplementasikan secara lebih komprehensif. Pemerintah diharapkan dapat memberikan pelatihan rutin bagi pengasuh panti, memperluas akses terhadap fasilitas pendidikan, serta menyediakan bantuan profesional seperti konselor dan psikolog yang terjangkau atau bahkan ditempatkan secara berkala di panti-panti tertentu. Dengan kolaborasi yang baik, intervensi yang dilakukan akan semakin efektif, dan dampaknya akan lebih terasa dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, implementasi metode pekerjaan sosial di LKSA Cinta Kasih Medan telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak panti. Melalui intervensi yang berbasis administrasi, rutinitas yang terstruktur, dan pendekatan psikososial, panti ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang suportif, membangun karakter anak, dan mengarahkan mereka menuju kemandirian. Kendala yang dihadapi memang masih cukup besar, namun semangat pelayanan dan komitmen sosial yang kuat dari pengelola menjadi fondasi penting dalam membangun sistem perlindungan anak yang tangguh dan berkelanjutan. Masa depan anak-anak panti bukan hanya bergantung pada apa yang diberikan hari ini, tetapi juga pada sejauh mana kita membangun sistem sosial yang inklusif, peduli, dan manusiawi untuk mereka jalani.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Muliah Metode Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.