Home Tentang Kami

Tentang Kami

1. Pendahuluan: Ekologi Sosial Politik Pers Mahasiswa di Sumatera Utara

1.1 Mandat Teoritis Pers Mahasiswa

Untuk memahami sejarah dan signifikansi Suara USU, pertama-tama kita harus meletakkannya dalam kerangka teoritis pers mahasiswa Indonesia ( Pers Mahasiswa atau Persma ) yang lebih luas. Secara historis, Persma telah menempati ruang unik dalam ekologi politik bangsa . Berbeda dengan media komersial yang digerakkan oleh keuntungan, atau media pemerintah yang digerakkan oleh kebijakan, pers mahasiswa digerakkan oleh idealisme dan keresahan intelektual civitas akademika.

Di Universitas Sumatera Utara (USU), sebuah universitas negeri terkemuka di Medan, mandat ini menjadi semakin penting. Sebagai institusi publik yang besar dengan demografi yang beragam dan lapisan birokrasi yang kompleks, kebutuhan akan saluran informasi yang independen sangatlah penting. Suara USU tidak hanya berfungsi sebagai buletin, tetapi juga sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang beroperasi di tingkat universitas. Perbedaan ini sangat penting; tidak seperti lembaga pers tingkat fakultas, Suara USU mengemban tanggung jawab untuk mewakili seluruh mahasiswa, menjembatani kesenjangan antara kebijakan Rektorat dan realitas kehidupan mahasiswa.

“Tipe Ideal” organisasi pers mahasiswa biasanya berosilasi antara dua kutub fungsional:

  1. Pengawas: Entitas penting yang memantau tata kelola universitas, transparansi biaya kuliah (UKT), dan infrastruktur kampus.
  2. Mitra: Entitas pengembangan yang menyoroti prestasi mahasiswa, mempromosikan penghargaan universitas, dan menumbuhkan merek kelembagaan yang positif.

Laporan ini mengandaikan bahwa sejarah Suara USU merupakan kronik ketegangan antara dua kutub ini, ketegangan yang meletus pada tahun 2019 dan kini sedang dinegosiasikan ulang pada tahun 2025.

1.2 Konteks Kelembagaan: Universitas Sumatera Utara (USU)

Suara USU tidak berdiri sendiri; kesuksesannya bergantung pada institusi yang dicakupnya. Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan universitas terkemuka di Indonesia, dengan peringkat 1201-1400 dalam QS World University Rankings dan 601-800 dalam THE World Impact Rankings. Dengan jumlah fakultas yang sangat besar , terdiri dari 218 Profesor dan ratusan Lektor Kepala dan Asisten Profesor, serta mahasiswa yang mencakup program vokasi, sarjana, dan doktoral, kebutuhan informasi kampus sangatlah besar.

Visi universitas untuk menghasilkan “inovasi yang bermanfaat… bagi masyarakat luas” dan pencitraannya sebagai “USU Berdampak” menciptakan ekspektasi khusus bagi organisasi kemahasiswaannya. Pihak administrasi mengharapkan badan mahasiswa untuk selaras dengan citra keunggulan dan integrasi global ini. Namun, sifat inheren pers mahasiswa adalah mempertanyakan metrik keberhasilan tersebut. Gesekan struktural ini—antara keinginan universitas akan citra yang terkurasi dan keinginan pers mahasiswa akan kebenaran yang hakiki—membentuk latar belakang bagi seluruh keberadaan Suara USU.

2. Genesis dan Zaman Keemasan (1995–2018)

2.1 Fondasi pada Orde Baru Akhir (1995–1998)

Suara USU resmi berdiri pada 1 Juli 1995. Waktu ini penting secara historis. Pertengahan 1990-an di Indonesia ditandai oleh “kegelapan menjelang fajar” rezim Suharto. Sementara media arus utama menghadapi sensor ketat di bawah Kementerian Penerangan, kampus-kampus universitas menjadi kantong-kantong perlawanan dan pemikiran kritis.

Tokoh pendiri Suara USU, termasuk Rusdi Harahap —yang kemudian dihormati sebagai Pemimpin Umum pertama —memimpin organisasi tersebut sebagai wahana pembebasan intelektual. Di era di mana informasi dikontrol, pendirian media mahasiswa independen di Medan merupakan tindakan politik yang berani.

Publikasi awal sebagian besar berbasis cetak. Organisasi ini menerbitkan Majalah Mahasiswa SUARA USU dan Tabloid Mahasiswa SUARA USU. Ini bukanlah brosur promosi yang mengilap; melainkan naskah ketikan kasar yang beredar dari tangan ke tangan, membahas topik-topik yang tabu dalam wacana nasional: korupsi, nepotisme, dan pengekangan kebebasan akademik.

2.2 Era Reformasi dan “Fifth Estate” (1999–2010)

Setelah runtuhnya Orde Baru pada Mei 1998, pers mahasiswa di Indonesia memasuki “Zaman Keemasan”. Terbebas dari ancaman langsung represi militer, Suara USU memperluas operasinya. Organisasi ini menjadi pemain kunci dalam gerakan mahasiswa di Sumatra, mendokumentasikan transisi yang berliku menuju demokrasi.

Selama periode ini, organisasi tersebut memantapkan strukturnya. Itu menjadi tempat pelatihan bagi para jurnalis yang akan terus mengisi ruang berita media nasional. Jaringan alumni mulai mengeras menjadi sistem pendukung yang kuat. Menariknya, era ini juga melihat kaburnya garis antara kritikus dan administrator. Misalnya, Elvi Sumanti , yang menjabat sebagai Pemimpin Umum pada tahun 1997 (tahun kedua organisasi), akhirnya naik menjadi Kepala Hubungan Masyarakat ( Humas ) untuk USU. Lintasan ini menggambarkan jalur kompleks yang dibuat Suara USU: menghasilkan individu-individu yang memahami media secara mendalam, beberapa di antaranya menggunakan pengetahuan itu untuk menantang sistem, sementara yang lain menggunakannya untuk mengelola citra sistem.

2.3 Tantangan dan Intimidasi

Perjalanan jurnalisme kritis tak pernah mulus. Bahkan di era demokrasi, Suara USU menghadapi intimidasi dari berbagai pihak, termasuk kelompok paramiliter mahasiswa dan organisasi eksternal yang tidak puas dengan liputan mereka.

Sebuah insiden penting terjadi pada Mei 2004. Sekretariat Suara USU dirusak, dengan tulisan “Anjing SUARA USU” (Anjing Suara USU) disemprot cat merah di dinding.8 Tim redaksi, yang saat itu dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Ressi Dwiana (Kepala Litbang/Litbang), menggambarkan suasana saat itu sebagai “duka cita dan amarah.” Namun, organisasi tersebut tidak bubar. Sebaliknya, ancaman-ancaman ini seringkali membangkitkan semangat para anggota, memperkuat identitas mereka sebagai “anjing penjaga” kampus.

2.4 Poros Digital (2011–2018)

Konsumsi media cetak secara global, Suara USU beradaptasi. Organisasi ini beralih dari tabloid fisik ke platform digital. Situs web suarausu.co menjadi pusat operasional harian, menerbitkan berita, opini, dan karya sastra.

Edisi cetak terus berlanjut, tetapi menjadi koleksi yang lebih sporadis. Pada tahun 2016, majalah tersebut telah mencapai edisi ke-7, dan tabloid tersebut telah mencapai edisi ke-109. Fokus beralih ke media sosial, khususnya Instagram, di mana mereka mulai mengumpulkan pengikut yang signifikan (mencapai 13.000 pengikut pada pertengahan 2020-an). Era ini ditandai dengan modernisasi konten—bergerak menuju siklus berita yang lebih pendek dan lebih cepat, sekaligus mempertahankan kedalaman investigatif era cetak.

3. Perpecahan Institusional 2019: Studi Kasus Sensor Akademik

Tahun 2019 menandai momen paling menentukan dalam sejarah Suara USU. Tahun tersebut merupakan tahun kehancuran dan kelahiran kembali, sebuah momen “Ship of Theseus” di mana organisasi tersebut dibongkar dan dirakit ulang, mengubah sifat dasarnya.

3.1 The Catalyst: “Ketika Semua Orang Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”

In March 2019, the editorial board, under the leadership of Editor-in-Chief Yael Stefani Sinaga and Managing Editor Widiya Hastuti, published a short story titled “Ketika Semua Orang Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” (When Everyone Refuses My Presence Near Them).

Cerita ini merupakan karya fiksi yang menggambarkan monolog internal dan perjuangan sosial seorang tokoh lesbian. Cerita ini bukanlah manifesto politik, melainkan eksplorasi sastra tentang marginalisasi. Namun, di tengah atmosfer Sumatera Utara yang semakin konservatif, cerita ini menjadi viral karena alasan yang salah. Cerita ini ditandai oleh kelompok mahasiswa konservatif dan organisasi eksternal sebagai “mempromosikan LGBT”, sebuah sikap yang sering dibingkai sebagai kontradiksi dengan nilai-nilai agama dan budaya di Indonesia .

3.2 Palu Administratif

Tanggapan dari Rektorat Universitas, yang dipimpin oleh Rektor Runtung Sitepu , cepat dan tanpa kompromi. Pihak administrasi memandang penerbitan tersebut bukan sebagai bentuk kebebasan bersastra, melainkan sebagai pelanggaran standar etika universitas.

Urutan kejadiannya cepat:

  1. Pemanggilan dan Ultimatum: Dewan redaksi dipanggil dan diperintahkan untuk menghapus berita tersebut. Ketika mereka berusaha mempertahankan independensi redaksi, konflik semakin memanas.
  2. Pengusiran: 18 anggota tim manajemen diberi waktu 48 jam untuk mengosongkan sekretariat Suara USU.
  3. Pemadaman Digital: Penyedia server untuk suarausu.co menangguhkan situs web tersebut, yang kabarnya atas perintah administrasi universitas. Mahasiswa berhasil bermigrasi ke domain baru untuk sementara waktu agar cerita tersebut tetap dapat diakses, sebuah tindakan pembangkangan digital.
  4. Pembubaran (SK): Rektor Runtung Sitepu menerbitkan SK Rektor Nomor 1319/UN5.1.R/SK/KMS/2019 pada tanggal 25 Maret 2019. SK ini secara resmi membubarkan seluruh jajaran pengurus Suara USU, yang secara efektif memberhentikan mahasiswa dari jabatannya di UKM.

3.3 Pertarungan Hukum: Suara USU vs Rektor USU

Siswa yang dibubarkan tidak pergi diam-diam. Diwakili oleh Perhimpunan Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU) , serta didukung koalisi LSM termasuk Human Rights Watch dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Yael Stefani dan Widiya Hastuti menggugat Rektor ke Pengadilan Tata Usaha Negara Medan (PTUN Medan).

Argumen:

  • Mahasiswa: Menyatakan pembubaran tersebut sewenang-wenang, melanggar asas kemerdekaan pers (UU Pers), dan melanggar hak akademik mahasiswa.
  • Universitas: Berpendapat bahwa UKM berada di bawah kewenangan langsung Rektor, dan konten yang dipublikasikan melanggar visi, misi, dan tata tertib etika universitas.

Putusan:

Pada November 2019, PTUN Medan memutuskan memenangkan Rektor. Pengadilan tersebut pada dasarnya menegakkan hak universitas untuk mengatur organisasi kemahasiswaannya sendiri, dengan memprioritaskan hierarki administratif di atas otonomi pers mahasiswa. Kekalahan hukum ini merupakan pukulan telak bagi gerakan pers mahasiswa di Indonesia, yang menciptakan preseden bahwa rektor universitas memegang kekuasaan absolut atas badan-badan media mahasiswa.

3.4 Perpecahan Besar: Kelahiran BOPM Wacana

Setelah kekalahan hukum, anggota yang dipecat dihadapkan pada pilihan: meminta maaf dan mencari pemulihan jabatan (yang tidak mungkin dan secara ideologis tidak dapat diterima) atau menempuh jalan baru. Mereka memilih yang terakhir.

Pada tanggal 3 Januari 2020 , kelompok yang dikeluarkan secara resmi mendeklarasikan pembentukan organisasi media baru yang independen: Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana .

  • Filosofi: “Pers Mahasiswa Bukan Humas Kampus” (Pers Mahasiswa Bukan Humas Kampus).
  • Struktur: Mereka beroperasi di luar pendanaan dan hierarki struktural universitas, mengandalkan sumbangan dan pendapatan independen.
  • Warisan: BOPM Wacana mengklaim garis keturunan ideologis Suara USU pra-2019, memandang Suara USU resmi saat ini sebagai institusi yang direbut.

4. Rekonstruksi: Suara USU yang “Baru” (2020–2024)

Sementara anggota yang dikeluarkan membentuk Wacana, administrasi universitas bergerak untuk membentuk kembali Suara USU. Infrastruktur fisik (sekretariat), nama merek, pendanaan, dan peralatan tetap berada di tangan universitas. Rekrutmen baru pun dimulai untuk mengisi kekosongan tersebut.

4.1 Identitas “Kapal Theseus”

Suara USU pasca-2019 merepresentasikan paradoks klasik “Kapal Theseus”. Setiap komponen (anggota) diganti, tetapi entitas tersebut tetap mempertahankan nama dan sejarah yang sama. Para anggota baru, yang direkrut di bawah pengawasan ketat pihak administrasi, menghadapi krisis legitimasi. Bagi gerakan mahasiswa radikal, mereka dianggap sebagai “koruptor” atau “boneka”. Bagi mahasiswa pada umumnya, mereka hanyalah staf baru koran kampus.

4.2 Membangun Kembali Legitimasi

Pemerintahan baru Suara USU bekerja keras untuk membangun kembali kepercayaan. Mereka melakukannya dengan:

  1. Merebut Kembali Sejarah: Mereka terus merayakan tanggal pendiriannya di tahun 1995, menolak untuk memutar ulang waktu. Hal ini menegaskan bahwa lembaga ini lebih besar daripada generasi anggota mana pun.
  2. Berfokus pada Profesionalisme: Mereka mengalihkan fokus ke arah pengembangan keterampilan—pelatihan jurnalisme, videografi, dan manajemen media digital—yang menarik keinginan siswa untuk kesiapan karier daripada radikalisme politik.
  3. Menetralkan Konten: Strategi konten bergeser ke topik yang kurang kontroversial: prestasi mahasiswa, acara kampus, seni sastra (puisi/prosa), dan gaya hidup umum. Meskipun masih meliput berita kampus, nadanya menjadi lebih “konstruktif” daripada “konfrontatif”.

4.3 Transisi Kepemimpinan

Transisi menjadi stabil di bawah kepemimpinan berikutnya. Pada periode 2023/2024, organisasi telah menormalkan operasinya. Kepemimpinan Balqis Aurora (sebelum serah terima pada tahun 2025) mengawasi periode konsolidasi yang tenang, memastikan organisasi bertahan dari tahun-tahun pandemi dan penurunan pasca-skandal .

5. Dinamika Operasional Kontemporer (Periode 2025/2026)

Pada tahun 2025, Suara USU telah sepenuhnya bangkit kembali sebagai unit kegiatan mahasiswa yang tangguh dan berbasis digital. Kepengurusan saat ini, yang dilantik pada April 2025, mencerminkan pendekatan modern dan terstruktur dalam pengelolaan media.

5.1 Hirarki Organisasi

Struktur kepemimpinan saat ini ditetapkan oleh Dewan Pengurus periode 2025/2026 yang resmi dilantik pada tanggal 21 April 2025 di Aula Mikie Wijaya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USU.

Kepemimpinan Utama:

  • Pemimpin Umum (Pemimpin Umum):Reinhard Halomoan Lumban Tobing .
    • Profil: Reinhard menggantikan Balqis Aurora. Pidato pelantikannya menekankan pentingnya “menghilangkan hambatan” antar anggota dan membangun tim yang solid dan bersatu. Gaya kepemimpinannya tampak inklusif dan berorientasi pada tim.
  • Badan Pengurus Harian (BPH): Inti eksekutif yang mengelola tugas administratif dan keuangan sehari-hari.

5.2 Divisi Fungsional

Beban kerja operasional didistribusikan ke empat divisi strategis, masing-masing dengan mandat khusus :

Nama DivisiMandat StrategisKegiatan Utama
Divisi Redaksi (Editorial)Pembuatan Konten & Kontrol KualitasMemproduksi artikel berita, fitur, opini, dan karya sastra. Memastikan semua konten mematuhi kode etik jurnalistik yang diperbarui.
Divisi MultimediaKomunikasi Visual & Branding DigitalMengelola umpan Instagram, memproduksi konten YouTube (podcast, dokumenter), fotografi, dan desain grafis.
Divisi Perusahaan (Business)Keberlanjutan Keuangan & KemitraanMendapatkan sponsor untuk acara (misalnya, Ultras Fest), mengelola penjualan barang dagangan, dan menangani kemitraan eksternal (mitra media).
Divisi PSDM (HRD)Rekrutmen & Pengembangan KapasitasMengelola proses Open Recruitment (Oprec), penyelenggaraan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar/Lanjut (PJTLN), dan internal bonding.

5.3 Rekrutmen dan Pelatihan: Mekanisme PJTLN

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar/Lanjut (PJTLN) tetap menjadi landasan regenerasi Suara USU. Ini bukan sekedar lokakarya; itu adalah indoktrinasi ke dalam nilai-nilai organisasi.

  • Kurikulum: Meliputi penulisan berita, teknik investigasi (dikelola dengan cermat), etika media, dan perangkat digital.
  • Mentoring: Menariknya, pelantikan tahun 2025 dihadiri oleh Rusdi Harahap , Pemimpin Umum pertama (1995). Kehadirannya menandakan rekonsiliasi krusial antara Suara USU “Baru” dan generasi pendiri “Lama”, yang memberikan legitimasi historis bagi dewan pengurus saat ini.

6. Analisis Konten Strategis dan Jejak Digital

Dalam lanskap media tahun 2025, Suara USU telah secara efektif beralih dari mentalitas “utamakan media cetak” menjadi “utamakan konten”.

6.1 Ekosistem YouTube “Suara USU Official”

Kanal YouTube organisasi ini (@suarausuofficial3885) menawarkan gambaran tentang prioritas editorial mereka saat ini. Kontennya beragam, menyasar demografi Gen Z.

  • Podcast: Format dengan interaksi tinggi yang membahas isu-isu mahasiswa yang relevan. Contohnya:
    • “Obrolan dengan Mahasiswa Internasional” (Perspektif Global)
    • “Dampak Negatif Trauma Bullying” (Fokus Kesehatan Mental).
    • “Dari Nol Menjadi Pemimpin” (Kepemimpinan & Pengembangan Diri).
  • Liputan Acara: Film-film berkualitas tinggi setelah acara kampus seperti “Gema Kampus USU 2025” dan “Grand Final Duta Mahasiswa USU 2025.”
  • Komentar Sosial: Video yang meliput protes mahasiswa (misalnya, “Aksi Damai Tano Batak Memanggil”) menunjukkan bahwa semangat “pengawas” belum sepenuhnya mati; ia hanya bermigrasi ke esai video dan reportase visual.

6.2 Instagram sebagai Umpan Berita Utama

Dengan lebih dari 13.000 pengikut, Instagram (@suarausuofficial) adalah lengan organisasi yang tanggap terhadap situasi.

  • “Proyeksi Mingguan”: Intisari berita kampus mingguan.
  • Jurnalisme Visual: Infografis yang menjelaskan kebijakan universitas yang kompleks (misalnya, perubahan UKT, kalender akademik).
  • Ruang Sastra: Mempromosikan puisi dan cerita pendek, melanjutkan tradisi sastra yang memicu krisis 2019, meskipun dengan pengawasan editorial yang mungkin lebih ketat.

6.3 Acara Besar: Ultras Fest

Ultras Fest (Festival Ulang Tahun Suara USU) merupakan acara tahunan unggulan.

  • Ultras Fest 5.0 (Juli 2025): Merayakan Ulang Tahun Suara USU ke-30.
  • Tema: “Bersatu dalam Warna, Melangkah Maju dengan Karya” (Bersatu Warna, Maju Berkarya).
  • Makna: Acara ini berfungsi sebagai deklarasi keberlangsungan. Dengan merayakan “30 Tahun”, dewan direksi saat ini secara eksplisit mengklaim seluruh sejarah organisasi, menghapus perpecahan tahun 2019 dari narasi perayaan.

7. Lintasan Masa Depan dan Rekomendasi Strategis

7.1 Tantangan Legitimasi

Tantangan terbesar Suara USU tetaplah persepsinya di kalangan mahasiswa kiri radikal. Untuk sepenuhnya memulihkan statusnya sebagai “Pihak Kelima”, Suara USU harus menunjukkan bahwa mereka masih dapat meminta pertanggungjawaban Rektorat, bahkan ketika beroperasi di bawah pembatasan pasca-2019. Liputan protes “Tano Batak” merupakan tanda positif bahwa mereka terlibat dalam isu-isu keadilan sosial eksternal.

7.2 Monetisasi Digital

Dengan Divisi Perusahaan yang kuat, Suara USU berada di posisi yang tepat untuk memonetisasi aset digitalnya. Seri podcast ini menawarkan peluang sponsor, dan jumlah pengikut Instagram yang besar merupakan saluran utama untuk kemitraan berbayar dengan merek-merek yang relevan bagi mahasiswa (teknologi, kuliner, pendidikan).

7.3 Melibatkan Kembali Alumni

Kehadiran Rusdi Harahap pada pelantikan tahun 2025 merupakan sebuah kemenangan strategis. Suara USU harus memperkuat hal ini, dengan membentuk “Dewan Alumni” untuk memberikan bimbingan dan bahkan mungkin sebagai penyangga terhadap tindakan administratif yang berlebihan di masa mendatang.

8. 30 Tahun Suara USU: Menggemakan Inspirasi, Merawat Integritas

Selamat Datang di Suara USU

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalistik dan media di Universitas Sumatera Utara. Didirikan pada tanggal 1 Juli 1995, Suara USU telah tumbuh menjadi saksi sejarah dan pencatat dinamika kehidupan kampus selama tiga dekade.

Sebagai “Corong Aspirasi Mahasiswa,” kami hadir tidak hanya sebagai penyampai berita, tetapi sebagai laboratorium intelektual yang melahirkan ribuan alumni berdedikasi di berbagai bidang profesional.

Visi & Misi Kami

Visi:

Menjadi pusat kreativitas dan informasi mahasiswa yang independen, berintegritas, dan inklusif di era digital.

Misi:

  1. Jurnalisme Berkualitas: Menyajikan informasi yang faktual, berimbang, dan relevan bagi civitas akademika USU dan masyarakat umum.
  2. Laboratorium Pendidikan: Menjadi wadah pengembangan hard skill (menulis, fotografi, videografi, desain) dan soft skill (kepemimpinan, manajemen organisasi) bagi mahasiswa.
  3. Inovasi Digital: Beradaptasi dengan perkembangan teknologi media melalui konten kreatif di YouTube, Instagram, dan Portal Berita Online.
  4. Mitra Kritis: Menjalankan fungsi kontrol sosial yang konstruktif demi kemajuan Universitas Sumatera Utara.

Sejarah Singkat: Perjalanan 30 Tahun

Perjalanan kami dimulai di penghujung era Orde Baru, diprakarsai oleh mahasiswa-mahasiswa visioner yang merindukan kebebasan berekspresi. Di bawah kepemimpinan Pemimpin Umum pertama, Bapak Rusdi Harahap, Suara USU lahir sebagai media cetak yang kritis.

Melewati era Reformasi 1998, kami terus berevolusi. Dari lembaran buletin dan majalah dinding, kami bertransformasi menjadi Tabloid Mahasiswa, dan kini berkembang menjadi ekosistem media multi-platform.

Tahun 2025 menandai tonggak sejarah baru dengan perayaan 30 Tahun Suara USU (Ultras Fest 5.0). Mengusung semangat “Bersatu dalam Warna, Melangkah Maju dengan Karya,” kami berkomitmen untuk terus relevan, adaptif, dan berdampak.

Struktur & Divisi (Periode 2025/2026)

Di bawah kepemimpinan Pemimpin Umum Reinhard Halomoan Lumban Tobing, Suara USU digerakkan oleh empat pilar divisi utama:

  1. Divisi Redaksi: Jantung organisasi yang memproduksi berita, artikel opini, sastra, dan laporan mendalam.
  2. Divisi Multimedia: Garda terdepan kreativitas visual, mengelola konten Podcast, Dokumenter, dan Desain Grafis.
  3. Divisi Perusahaan: Pengelola manajerial bisnis, sponsorship, dan kemitraan strategis.
  4. Divisi PSDM: Pusat pengembangan kapasitas anggota melalui pelatihan rutin (PJTLN) dan kaderisasi.

Bergabunglah Bersama Kami

Suara USU adalah rumah bagi mereka yang ingin belajar, berkarya, dan bersuara. Kami mengundang mahasiswa aktif USU untuk menjadi bagian dari keluarga besar ini melalui seleksi Open Recruitment tahunan.

Hubungi Kami: