Oleh: Suci Rahmawati Siregar dan Siti Farhatun Nafis Azhari
Suara USU, Medan. Menjelang sore, massa aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara masih bertahan di depan Gedung DPRD Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026). Setelah berulang kali meminta pimpinan DPRD Sumut menemui massa, situasi perlahan memanas ketika permintaan tersebut belum kunjung dipenuhi.
Sekitar pukul 16.30 WIB, mahasiswa yang dipimpin BEM Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menyerukan agar Ketua DPRD Sumut menemui massa. Desakan tersebut juga disampaikan Ketua BEM Politeknik Negeri Medan (POLMED), Ahmad Arya Attalah sekaligus koordinator wilayah Sumut, yang meminta pimpinan DPRD Sumut menghadapi massa dan berdialog secara langsung.
Situasi kemudian memanas sekitar pukul 16.43 WIB ketika para presiden mahasiswa diminta membentuk lingkaran. Api dinyalakan di tengah barisan dengan diiringi lagu Tanah Airku. Salah satu orator, Itsqon Wafi, demisioner Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED), menyerukan persatuan mahasiswa dalam perjuangan.
“Sadarkan diri kita bahwa kita bersatu untuk berjuang, maka hari ini ketua DPRD yang sudah dipilih, tolong hadir di sini,” serunya.
Orator lain turut menyuarakan kekecewaannya atas lambannya respons pimpinan DPRD Sumut yang tak kunjung menemui massa. Ia mempertanyakan urgensi pertemuan apabila pimpinan DPRD tidak bersedia membuka ruang diskusi dengan mahasiswa.
“Tidak ada gunanya bertemu dengan mereka jika tidak bisa diajak berdiskusi. Kenapa tidak keluar? Kenapa sampai harus bakar ban?” ujarnya.
Pada pukul 16.54 WIB, BEM USU memberikan kesempatan kepada massa untuk menyampaikan aspirasi melalui mimbar bebas. Namun, hingga sekitar pukul 17.15 WIB, pimpinan DPRD Sumut masih belum menemui massa. Sirine kemudian dibunyikan dan sejumlah massa mulai memanjat pagar gedung DPRD Sumut.
Ketegangan kembali meningkat ketika massa mendesak untuk masuk ke dalam gedung. Dalam situasi tersebut, seorang peserta aksi mengalami luka setelah terkena bagian besi pagar saat memanjat.
Sekitar pukul 17.20 WIB, salah seorang petugas kepolisian menyampaikan bahwa pimpinan DPRD Sumut akan menemui massa aksi. Tak lama kemudian, Ketua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus, S.H., M.Kn., turun menemui demonstran.
Dalam dialog yang berlangsung, perwakilan mahasiswa menyampaikan sejumlah persoalan, termasuk kasus Andrie Yunus, tindakan kepolisian, serta persoalan kriminalitas di Sumatera Utara. Ketua BEM USU, Angga Al Maaris Harahap, kemudian meminta pandangan Erni mengenai keresahan masyarakat terhadap kondisi keadilan di Indonesia setelah 81 tahun kemerdekaan.
Angga, selaku Koordinator Lapangan, dalam wawancara bersama Suara USU menyampaikan bahwa BEM Siantar saat ini masih mengalami kendala. Informasi yang diperoleh masih akan diperjelas dan dikonfirmasi lebih lanjut, sebelum nantinya disampaikan melalui pernyataan resmi
Erni menjelaskan bahwa agenda DPRD Sumut pada hari tersebut cukup padat dan menyampaikan alasan dirinya baru dapat menemui massa pada sore hari.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Erni menegaskan bahwa keresahan yang dirasakan mahasiswa juga dirasakannya.
“Apa yang kalian rasakan maka saya juga merasakan hal tersebut. Jika kalian merasa tidak merdeka maka saya juga merasa demikian,” ujarnya.
Setelah dialog berlangsung, perwakilan mahasiswa membacakan tuntutan aksi. Seluruh tuntutan yang dibawa massa kemudian disetujui dan secara resmi ditandatangani oleh Ketua DPRD Sumut sekitar pukul 17.40 WIB.
Aksi kemudian ditutup dengan suasana yang lebih khidmat. Pada pukul 17.48 WIB, massa kembali membentuk lingkaran dan menyalakan lilin dengan diiringi lagu Tanah Airku. Bunga dilemparkan ke arah spanduk sambil menyanyikan lagu mars mahasiswa. Bendera dari masing-masing perguruan tinggi turut dikibarkan.
Aksi resmi diakhiri dengan doa bersama pada pukul 18.04 WIB. Setelahnya, massa membersihkan area demonstrasi sebelum kembali ke Taman Bunga yang menjadi titik kumpul. Massa kemudian berkumpul kembali untuk bersama-sama kembali menuju Gelanggang Mahasiswa USU.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment