Oleh: Aprilia Nadia Salsabila
Suara USU, Medan. Di tengah dominasi bioskop modern dan layanan streaming, Rajawali Cinema di Purwokerto, Jawa Tengah, masih mempertahankan tradisi melukis poster film dengan tangan. Sejak berdiri pada 1980 di Jalan Jenderal S. Parman, bioskop ini telah melewati berbagai perubahan dalam industri perfilman, mulai dari teknologi pemutaran hingga strategi promosi. Meski beradaptasi dengan perkembangan zaman, poster lukis tetap menjadi identitas yang membedakan Rajawali Cinema dari bioskop lainnya.
Ketika pertama kali beroperasi, Rajawali Cinema bukan satu-satunya tempat hiburan di Purwokerto. Saat itu, terdapat sejumlah bioskop lain, seperti Garuda, Nusantara, Kamandaka, President, Srimaya, dan Dinasti. Namun, industri bioskop mengalami perubahan besar, terutama setelah krisis moneter 1998. Sejumlah bioskop berhenti beroperasi, sedangkan Rajawali Cinema tetap bertahan dan menjadi salah satu tempat masyarakat menikmati film.
Perjalanan tersebut turut disaksikan Eny Kuswati, Humas Rajawali Cinema yang telah bekerja sejak 1993. Ketika mulai bekerja, bioskop ini memiliki dua studio yang kemudian berkembang menjadi empat studio. Menurut Eny, keberlangsungan Rajawali tidak terlepas dari keputusan pengelola untuk mempertahankan operasional di tengah berbagai kesulitan.
Seiring waktu, teknologi pemutaran film di Rajawali Cinema juga mengalami perubahan. Pada masa awal, film diputar menggunakan teknologi lama yang terkadang menyebabkan keterlambatan penayangan. Peralihan ke sistem digital kemudian memudahkan bioskop ini menayangkan film-film terbaru sesuai dengan perkembangan industri perfilman Indonesia.
Perubahan serupa terjadi dalam strategi promosi. Dahulu, Rajawali Cinema menggunakan mobil publikasi yang berkeliling ke berbagai daerah di sekitar Purwokerto untuk memperkenalkan film yang akan ditayangkan. Mobil tersebut membawa poster berukuran besar sebagai sarana promosi. Namun, seiring berkembangnya internet dan media sosial, metode tersebut perlahan ditinggalkan. Kini, Rajawali memanfaatkan platform seperti Instagram dan Facebook untuk menjangkau penonton.
Di tengah berbagai perubahan tersebut, poster film yang dilukis secara manual tetap dipertahankan. Poster dibuat di atas papan untuk mempromosikan film yang sedang atau akan ditayangkan. Tradisi ini melibatkan Parsan, pelukis yang telah lama membuat poster untuk Rajawali Cinema dan meneruskan praktik yang telah ada sejak bioskop tersebut berdiri.
Keberadaan poster lukis menjadi ciri khas tersendiri ketika promosi film kini didominasi desain digital. Setiap lukisan menghadirkan sentuhan artistik yang berbeda sekaligus merekam cara promosi film pada masa lalu. Bagi pengunjung, poster-poster tersebut juga menjadi daya tarik yang membuat Rajawali Cinema memiliki karakter berbeda dari bioskop modern.
Lebih dari empat dekade bertahan, Rajawali Cinema tidak hanya menjadi tempat menonton film, tetapi juga menyimpan jejak perubahan teknologi, strategi promosi, dan perjalanan para pekerjanya. Di tengah industri perfilman yang semakin digital, bioskop ini menunjukkan bahwa beradaptasi dengan perkembangan zaman tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Poster-poster yang dilukis dengan tangan menjadi penanda identitas Rajawali Cinema sekaligus bagian dari sejarah hiburan masyarakat Purwokerto.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment