Oleh: Adelia Jasmine Efendi
Suara USU, Medan. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam memahami dunia, mengembangkan kemampuan, dan menghadapi tantangan hidup. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi penghalang, bahkan dapat menjadi kekuatan ketika dipahami dan dikembangkan dengan tepat. Hal inilah yang tergambar dalam perjalanan hidup Mary Temple Grandin, seorang ilmuwan, penemu, dan advokat autisme asal Amerika Serikat yang membuktikan bahwa cara berpikir berbeda dapat menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Lahir pada 29 Agustus 1947, Temple Grandin dikenal melalui kontribusinya dalam bidang ilmu hewan sekaligus upayanya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap autisme. Ia merupakan anggota fakultas Ilmu Hewan di Colorado State University dan dikenal karena mengembangkan rancangan fasilitas penanganan ternak yang mempertimbangkan perilaku serta kesejahteraan hewan. Di balik pencapaiannya, terdapat perjalanan panjang dalam menghadapi tantangan komunikasi dan interaksi sosial sejak masa kanak-kanak.
Grandin didiagnosis autistik ketika masih kecil. Pada masa itu, ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Ia juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Namun, pengalaman tersebut tidak menghentikannya untuk mengembangkan kemampuan dan menemukan bidang yang menarik perhatiannya.
Ketertarikan Grandin terhadap hewan mulai berkembang ketika ia bersekolah di sebuah sekolah berasrama di New Hampshire yang memiliki peternakan kecil. Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ketika ia menghabiskan waktu di peternakan milik bibinya di Arizona. Melalui pengamatan terhadap perilaku hewan, Grandin mulai memahami bahwa hewan memiliki respons yang berbeda terhadap lingkungan, termasuk suara, bayangan, gerakan, dan ruang yang mereka lalui.
Pengalaman tersebut turut membentuk cara Grandin melihat dunia. Ia dikenal memiliki kemampuan berpikir visual, yakni memahami berbagai hal melalui gambaran atau citra dalam pikirannya. Cara berpikir ini membantunya membayangkan bagaimana hewan merespons suatu tempat sebelum rancangan diterapkan. Dengan memahami sudut pandang hewan, ia berupaya menciptakan fasilitas penanganan ternak yang dapat mengurangi ketakutan dan tekanan selama proses pemindahan maupun penanganan.
Untuk mengembangkan ketertarikannya, Grandin menempuh pendidikan tinggi secara bertahap. Ia lulus dari Hampshire Country School pada 1966, kemudian memperoleh gelar sarjana psikologi manusia dari Franklin Pierce College pada 1970. Ia melanjutkan pendidikan magister ilmu hewan di Arizona State University pada 1975 dan meraih gelar doktor di bidang yang sama dari University of Illinois at Urbana–Champaign pada 1989. Setahun setelahnya, ia bergabung dengan Colorado State University sebagai pengajar di bidang Ilmu Hewan.
Perjalanan akademik dan profesional tersebut menunjukkan bagaimana ketertarikan yang terus dikembangkan dapat menjadi landasan bagi lahirnya kontribusi yang lebih luas. Grandin tidak hanya memanfaatkan pengetahuannya untuk merancang fasilitas peternakan, tetapi juga memperkenalkan pendekatan yang menempatkan perilaku dan kesejahteraan hewan sebagai pertimbangan penting. Karyanya turut mendorong perhatian terhadap cara lingkungan dapat memengaruhi respons hewan dalam berbagai situasi.
Di luar bidang keilmuannya, Grandin juga aktif menyuarakan penerimaan terhadap individu autistik. Ia membagikan pengalaman pribadinya untuk membantu masyarakat memahami bahwa autisme tidak membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar, berkarya, atau memberikan dampak. Menurut pendekatan yang ia tunjukkan melalui perjalanan hidupnya, setiap orang memiliki karakteristik dan cara memahami sesuatu yang perlu dikenali, bukan sekadar dibandingkan dengan standar orang lain.
Pengaruh Grandin mendapat pengakuan luas. Pada 2010, majalah Time memasukkannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam kategori Heroes. Pada tahun yang sama, kisah hidupnya diangkat melalui film biografi Temple Grandin, yang memperoleh sejumlah penghargaan, termasuk Primetime Emmy Awards dan Golden Globe. Pengakuan tersebut memperluas perhatian masyarakat terhadap kiprahnya sekaligus membuka ruang diskusi mengenai autisme dan keberagaman cara berpikir.
Kisah Grandin memberikan pelajaran bahwa setiap orang tidak harus menempuh jalan yang sama untuk mencapai sesuatu yang berarti. Kesulitan dalam berkomunikasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan bukanlah satu-satunya hal yang mendefinisikan seseorang. Di balik tantangan, terdapat kemampuan, minat, dan potensi yang dapat berkembang ketika memperoleh kesempatan serta dukungan yang sesuai.
Dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa yang sedang mencari arah dan membangun masa depan, perjalanan Grandin dapat menjadi pengingat agar tidak terburu-buru mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain. Ada orang yang unggul dalam berbicara, ada yang lebih nyaman menyampaikan gagasan melalui tulisan, dan ada pula yang memiliki kemampuan mengamati serta memahami persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak serta-merta menentukan siapa yang lebih berharga.
Hal itu bukan berarti setiap kritik harus diabaikan atau semua keterbatasan dapat diatasi tanpa usaha. Sebaliknya, mengenali diri sendiri merupakan langkah awal untuk mengetahui kemampuan yang perlu dikembangkan dan tantangan yang perlu dihadapi. Dukungan lingkungan juga berperan penting agar setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh tanpa terus-menerus dituntut menjadi sama dengan orang lain.
Pada akhirnya, perjalanan Temple Grandin menunjukkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mirip dirinya dengan orang lain, melainkan juga oleh bagaimana ia mengenali potensi, mengembangkan kemampuan, dan menggunakannya untuk memberikan kontribusi. Perbedaan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan atau diubah agar dapat diterima. Dengan kesempatan, usaha, dan pemahaman yang tepat, perbedaan justru dapat menjadi sumber kekuatan.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment