Home Tulisan Partisipasi Gen Z USU dalam Menyikapi Banjir di Kota Medan
Tulisan

Partisipasi Gen Z USU dalam Menyikapi Banjir di Kota Medan

Share

Oleh: Kelompok 10 MKWK Pendidikan Kewarganegaraan (Kezia Yulan Sari Parhusip Kayla Lumongga Manurung, Yitro Alfredo Tarigan, Tri Benta Barus, Shyella Tyas Sabrina, Echa Raisa Situmorang, Keisya Herdinda)

Bagi warga Medan, pemandangan jalan yang tergenang atau banjir yang tiba-tiba datang meski hujan tidak terlalu deras sudah terlalu akrab. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) pun tidak terkecuali. Dari situ, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana mahasiswa Generasi Z benar-benar terlibat dalam menghadapi persoalan banjir yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apakah mereka berhenti pada rasa peduli, ikut bersuara, atau sudah bergerak? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan civic engagement, yaitu keterlibatan warga negara dalam menyikapi persoalan di lingkungannya.

Untuk mengetahui keterlibatan mahasiswa dalam menyikapi persoalan banjir, Kelompok 10 MKWK Pendidikan Kewarganegaraan melakukan mini riset melalui penyebaran kuesioner kepada 62 mahasiswa USU dan wawancara dengan lima mahasiswa dari fakultas berbeda, yaitu Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kesehatan Masyarakat, Pertanian, dan Teknik. Berdasarkan hasil kuesioner, sebanyak 64,5% responden tinggal bersama orang tua atau keluarga, sedangkan 35,5% lainnya tinggal di kos atau kontrakan. Sebagian besar responden (95,2%) berasal dari angkatan 2026. Hasil kuesioner memberikan gambaran umum mengenai keterlibatan mahasiswa, sedangkan wawancara melengkapi temuan tersebut melalui pengalaman dan pandangan para narasumber.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa banjir bukan hal yang asing bagi mahasiswa. Sebanyak 51,6% responden pernah menjadi korban banjir meskipun hanya sesekali, sedangkan 6,5% mengaku sering mengalaminya. Gambaran serupa muncul ketika responden ditanya tentang kondisi tempat tinggal saat hujan deras berlangsung lebih dari satu hingga dua jam. Sebanyak 54,8% menyatakan wilayahnya terkadang tergenang dan 6,5% mengaku sering mengalami banjir hingga air masuk ke rumah atau kos.

Pengalaman tersebut juga diceritakan oleh Keiko, mahasiswa Teknik Elektro. Ia mengatakan bahwa banjir sering datang tiba-tiba ketika hujan tidak terlalu deras, tetapi berlangsung cukup lama. Aktivitasnya terhambat dan barang pribadinya sempat rusak. Sementara itu, Cecilia dari Ilmu Komunikasi memang belum pernah mengalami banjir di tempat tinggalnya, tetapi pernah terkena cipratan air dari genangan di lubang jalan dekat Gerbang 4 saat menggunakan ojek daring.

Dalam hal informasi, media sosial menjadi sumber yang paling banyak digunakan mahasiswa. Sebanyak 90,3% responden atau 56 orang memperoleh informasi mengenai banjir melalui media sosial. Berita daring berada di urutan berikutnya dengan 74,2%, disusul teman atau keluarga sebesar 67,7% dan televisi sebesar 43,5%. Sementara itu, lingkungan kampus menjadi sumber informasi yang paling sedikit dipilih, yakni 22,6%.

Dari sisi pengetahuan, 59,6% responden mengaku tahu atau sangat tahu tentang upaya mengurangi risiko banjir, sedangkan 35,5% menyatakan cukup tahu. Namun, intensitas mengikuti informasi tersebut belum tinggi. Sebagian besar responden memilih skor tengah ketika ditanya mengenai kebiasaan mengikuti berita banjir (64,5%) maupun mencari tahu penyebabnya (51,6%). Nazwa dari Kesehatan Masyarakat menyebutkan bahwa banjir tidak dibahas secara rutin, tetapi menjadi ramai ketika ada berita yang viral di media sosial atau televisi.

Keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat juga terlihat dari hasil kuesioner. Sebanyak 38,7% responden menyatakan berani atau sangat berani menyampaikan pendapat maupun saran tentang pencegahan banjir, sedangkan 45,2% menyatakan cukup berani. Diskusi langsung menjadi cara yang paling banyak dipilih (61,3%), diikuti media sosial (41,9%).

Namun, forum atau organisasi mahasiswa hanya dipilih oleh 6,5% responden. Sementara itu, penyampaian pendapat kepada pihak berwenang atau pemerintah hanya dilakukan oleh 3,2% responden. Sebanyak 19,4% bahkan mengaku belum pernah menyampaikan pendapat sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa suara mahasiswa lebih banyak disampaikan melalui obrolan sehari-hari dan media sosial dibandingkan melalui jalur yang lebih resmi.

Para narasumber memiliki pandangan yang beragam mengenai efektivitas media sosial. Orin dan Cecilia menilai media sosial dapat meningkatkan kepedulian masyarakat sekaligus memperlihatkan dampak banjir kepada pemerintah. Keiko sependapat bahwa media sosial efektif menarik perhatian, tetapi menilai cara tersebut belum cukup untuk mendorong penanganan oleh pemerintah. Menurutnya, masih diperlukan aksi yang lebih besar dan keterlibatan langsung.

Sementara itu, Amirul berpendapat bahwa membagikan ulang peringatan banjir kurang efektif jika hanya berhenti pada penyebaran informasi tanpa keterlibatan langsung. Menurutnya, tindakan yang lebih berarti adalah terjun langsung ke lapangan.

Dalam hal tindakan, kebiasaan pribadi sehari-hari menjadi bentuk keterlibatan yang paling menonjol. Sebanyak 95,2% responden atau 59 orang mengaku tidak membuang sampah sembarangan. Sebanyak 50% pernah membersihkan lingkungan atau selokan, 32,3% pernah mengedukasi orang lain, dan 17,7% pernah membantu korban banjir. Hanya 3,2% responden yang mengaku belum pernah melakukan tindakan apa pun.

Situasinya berbeda ketika menyangkut kegiatan bersama. Hanya 12,9% responden yang pernah mengikuti kegiatan sosial terkait banjir. Sebanyak 74,2% jarang atau belum pernah mengikuti diskusi maupun kegiatan kampus tentang banjir. Sementara itu, 51,6% jarang mengikuti kegiatan pencegahan atau pengurangan dampak banjir, sedangkan responden yang sering terlibat hanya 17,7%. Ketika diminta menilai keterlibatannya secara keseluruhan, 62,9% responden memilih tingkat sedang. Sebanyak 24,2% menilainya rendah atau sangat rendah, sedangkan 12,9% menilainya tinggi atau sangat tinggi.

Dalam wawancara, tindakan yang disebutkan juga sederhana. Nazwa dan Keiko membuang sampah pada tempatnya. Nazwa bahkan ikut membersihkan sampah yang berserakan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan, sedangkan Keiko mengajak teman-temannya menjaga sumber aliran air tetap bersih. Orin dan Cecilia berusaha mengurangi penggunaan kemasan plastik dengan membawa tumbler. Amirul menekankan pentingnya mengajak teman-teman bergotong royong membantu korban banjir dan mengumpulkan sumbangan.

Temuan penting dari mini riset ini menunjukkan bahwa kepedulian mahasiswa terhadap persoalan banjir cukup tinggi. Sebanyak 98,4% responden menyatakan bersedia membantu jika banjir terjadi di sekitar tempat tinggal atau kampus. Selain itu, 83,9% menilai peran mahasiswa dalam pencegahan dan penanganan banjir penting atau sangat penting.

Lalu, apa yang menghambat keterlibatan mereka? Kendala yang paling banyak dipilih adalah kurangnya waktu, yakni sebesar 56,5%. Selain itu, tidak adanya kegiatan yang dapat diikuti dan ketidaktahuan mengenai tindakan yang perlu dilakukan masing-masing dipilih oleh 29% responden. Sebanyak 25,8% juga menyebut kurangnya informasi. Sementara itu, hanya 9,7% responden yang memilih kurangnya kepedulian sebagai kendala, sedangkan 21% menyatakan tidak mengalami kendala.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keinginan mahasiswa untuk terlibat belum sepenuhnya diikuti oleh kesempatan dan arahan yang memadai. Para narasumber mengusulkan pembentukan komunitas peduli lingkungan, kegiatan sosialisasi, serta ajakan untuk turun langsung ke lapangan guna membantu masyarakat dan mencari solusi. Dengan adanya wadah dan kegiatan yang jelas, kepedulian mahasiswa diharapkan dapat berkembang menjadi keterlibatan yang lebih nyata dalam menghadapi persoalan banjir.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos.,M.Si

Redaktur : Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.