Home Tulisan Lingkungan yang Baik Adalah Hak Warga, Respons Masyarakat terhadap Banjir di Medan
Tulisan

Lingkungan yang Baik Adalah Hak Warga, Respons Masyarakat terhadap Banjir di Medan

Share

Oleh: Hana Zuhriyah, Dafa Abyan, Estheria Y.R. Br. Manurung, Marwan Rizly, Dela Mayasnu Sagala, Mariska Triena, Theofany Harianja

Banjir merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang kerap terjadi di Kota Medan dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Ketika hujan deras mengguyur selama berjam-jam, genangan air dapat memasuki kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas warga. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya curah hujan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi drainase, perubahan penggunaan lahan, serta rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Banjir pun dapat merusak fasilitas umum, menimbulkan kerugian material, dan mengganggu kenyamanan warga. Oleh karena itu, penanganan banjir menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai hak setiap warga negara.

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak dasar masyarakat yang harus dijamin dan dilindungi. Namun, banjir yang terus berulang menunjukkan bahwa pemenuhan hak tersebut masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut Fadilah dkk. (2025), hak atas lingkungan hidup yang sehat merupakan bagian dari hak asasi manusia yang perlu diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan secara bertanggung jawab. Dalam konteks Kota Medan, permasalahan banjir membutuhkan perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan keamanan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Untuk melihat bagaimana masyarakat menghadapi persoalan tersebut, penelitian dilakukan pada 29 September 2026 di Jalan Abdul Hakim, Setia Budi (Pasar 1), Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan wawancara langsung dengan masyarakat terdampak banjir. Narasumber yang diwawancarai meliputi Bapak Sapron Dali Munthe, Bapak Hendri, dan Bang Rizky. Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui penyebab banjir, dampak yang dirasakan masyarakat, bentuk respons warga, serta harapan mereka terhadap pemerintah dalam menangani permasalahan lingkungan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi di lokasi penelitian.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, banjir di lokasi penelitian umumnya terjadi ketika air hujan tidak dapat mengalir secara optimal melalui saluran drainase. Hujan deras yang berlangsung lebih dari dua jam dapat menyebabkan air menggenangi kawasan permukiman. Meskipun genangan biasanya surut dalam waktu kurang dari 24 jam, kondisi tersebut tetap mengganggu aktivitas warga. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas saluran air belum mampu menampung debit air hujan secara maksimal. Selain itu, penyempitan dan pendangkalan parit turut menghambat kelancaran aliran air menuju saluran pembuangan.

Selain keterbatasan drainase, penumpukan sampah menjadi salah satu faktor yang memperburuk permasalahan banjir. Sampah yang dibuang sembarangan dapat masuk ke dalam parit dan menyebabkan penyumbatan sehingga air lebih mudah meluap ketika hujan deras terjadi. Damanik dkk. (2025) menjelaskan bahwa banjir di Kota Medan berkaitan dengan kondisi drainase yang kurang baik, penyempitan sungai, perubahan penggunaan lahan, serta perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah dan pemeliharaan saluran air perlu menjadi perhatian bersama untuk mengurangi risiko banjir di kawasan permukiman.

Di tengah permasalahan tersebut, masyarakat tidak hanya menunggu penanganan dari pemerintah, tetapi juga melakukan berbagai upaya secara mandiri. Berdasarkan hasil wawancara, warga bergotong royong membersihkan parit dan saluran pembuangan air yang tersumbat. Selain itu, masyarakat berupaya membangun parit pembuangan secara swadaya agar aliran air menjadi lebih lancar. Tindakan ini menunjukkan adanya kepedulian dan tanggung jawab warga terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal mereka. Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus memperjuangkan hak untuk memperoleh tempat tinggal yang aman dan sehat.

Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan banjir. Warga perlu memahami bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memperburuk kondisi drainase dan meningkatkan risiko genangan air. Menurut Prayogi dkk. (2025), partisipasi masyarakat dalam mitigasi banjir di kawasan Sungai Babura, Kota Medan, masih cenderung bersifat reaktif, yaitu dilakukan ketika banjir terjadi atau setelah banjir surut. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat agar upaya pencegahan, seperti membersihkan saluran air dan mengelola sampah, dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Banjir yang terjadi di kawasan permukiman juga menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama berupa kerugian material. Berdasarkan hasil wawancara, air yang masuk ke dalam rumah dapat merusak perabotan rumah tangga dan kendaraan, termasuk sepeda motor milik warga. Meskipun genangan umumnya surut dalam waktu kurang dari 24 jam sehingga tidak didirikan posko pengungsian khusus, kerugian yang ditimbulkan tetap menjadi beban bagi masyarakat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa banjir tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi warga yang terdampak.

Di samping upaya masyarakat, peran pemerintah menjadi faktor penting dalam penanganan banjir. Berdasarkan keterangan narasumber, pada kejadian banjir sebelumnya warga belum memperoleh bantuan. Sementara itu, pada kejadian yang lebih baru, mulai terdapat bantuan logistik berupa sembako, khususnya beras. Bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek, tetapi belum menyelesaikan penyebab utama banjir. Karena itu, masyarakat mengharapkan pemerintah melakukan perbaikan infrastruktur melalui pelebaran dan pendalaman parit serta mempercepat penyelesaian pembangunan kolam retensi yang belum berfungsi. Sari dan Siahaan (2024) menekankan pentingnya respons pemerintah terhadap permasalahan drainase melalui komunikasi dengan masyarakat dan tindakan perbaikan saluran air.

Penanggulangan banjir membutuhkan kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan infrastruktur drainase yang memadai, memperbaiki sistem pengelolaan sampah, serta memastikan pembangunan fasilitas pengendalian banjir berjalan secara optimal. Sementara itu, masyarakat berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan, merawat saluran air, dan meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya. Keterlibatan mahasiswa dan generasi muda juga diperlukan, antara lain melalui edukasi lingkungan dan kegiatan sosial. Dengan kerja sama seluruh pihak, upaya penanggulangan banjir diharapkan dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pemenuhan hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik, sehat, dan aman.

Berdasarkan hasil penelitian, permasalahan banjir di Jalan Abdul Hakim, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, berkaitan dengan tingginya curah hujan, penyempitan dan pendangkalan drainase, serta penumpukan sampah pada saluran air. Masyarakat telah menunjukkan kepedulian melalui kegiatan gotong royong, pembersihan parit, dan pembangunan saluran pembuangan secara mandiri. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi permasalahan banjir tanpa dukungan pemerintah. Banjir yang masih terjadi menunjukkan bahwa pemenuhan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan penanganan banjir yang efektif dan berkelanjutan.

Pemerintah Kota Medan diharapkan meningkatkan upaya penanggulangan banjir melalui perbaikan, pelebaran, dan pendalaman saluran drainase serta mempercepat penyelesaian pembangunan kolam retensi agar dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan pengelolaan sampah dan melakukan pemeliharaan infrastruktur secara berkala. Masyarakat juga diharapkan lebih disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta aktif mengikuti kegiatan gotong royong. Mahasiswa dan generasi muda dapat berkontribusi melalui kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan. Dengan adanya tanggung jawab bersama, risiko banjir diharapkan dapat berkurang sehingga masyarakat dapat menikmati lingkungan yang lebih aman, bersih, dan sehat.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.