Oleh: Adelia Jasmine Efendi
Suara USU, Medan. Di tengah kehidupan yang menuntut anak muda untuk terus berprestasi dan mencapai kesuksesan, penyesalan atas pilihan masa lalu kerap membuat seseorang sulit menghargai kehidupan yang sedang dijalani. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga dapat memunculkan perasaan tertinggal dan mempertanyakan keputusan yang telah diambil. Melalui novel The Midnight Library, penulis asal Inggris, Matt Haig, mengajak pembaca memahami bahwa kehidupan tidak harus berjalan sempurna untuk menjadi bermakna. Novel fantasi yang diterbitkan pada 2020 ini menyoroti hubungan antara penyesalan, berbagai kemungkinan hidup, dan keberanian untuk kembali menghargai kesempatan yang masih tersedia.
Cerita berpusat pada Nora Seed, seorang perempuan yang merasa hidupnya dipenuhi kegagalan dan kesempatan yang terlewatkan. Ia menyesali berbagai keputusan, mulai dari pekerjaan, hubungan dengan orang-orang terdekat, hingga impian yang tidak pernah diwujudkan. Nora membayangkan bahwa kehidupannya mungkin akan lebih baik jika dahulu ia memilih jalan yang berbeda. Penyesalan tersebut membuatnya kesulitan menemukan alasan untuk menghargai kehidupan yang sedang dijalaninya.
Hingga suatu ketika, Nora menemukan sebuah perpustakaan misterius yang memberinya kesempatan untuk menjelajahi berbagai kemungkinan kehidupan. Perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang yang mempertemukannya dengan kehidupan alternatif berdasarkan pilihan yang pernah diambil maupun kesempatan yang dilewatkan. Dengan bantuan Mrs. Elm, seorang pustakawan yang pernah dikenalnya, Nora mulai melihat bagaimana kehidupannya dapat berubah jika ia mengambil keputusan yang berbeda pada masa lalu.
Pada awalnya, Nora berharap dapat menemukan kehidupan yang benar-benar sempurna. Ia ingin mengetahui apakah ada pilihan yang dapat membawanya pada kebahagiaan tanpa menghadapi berbagai penyesalan. Namun, semakin banyak kehidupan yang dijelajahi, semakin jelas bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Kehidupan yang tampak ideal dari luar ternyata tidak selalu berjalan sesuai harapan, sedangkan pilihan yang dahulu dianggap menjanjikan kebahagiaan juga dapat menghadirkan persoalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Melalui perjalanan Nora, Matt Haig memperlihatkan bahwa manusia kerap hanya berfokus pada hal-hal yang tidak dimiliki tanpa benar-benar memahami konsekuensi dari pilihan lain. Keinginan untuk memiliki kehidupan yang berbeda memang wajar, tetapi terus membayangkan jalan yang tidak ditempuh dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menghargai kehidupan yang sedang dijalani.
Gagasan tersebut dekat dengan pengalaman mahasiswa yang sedang menentukan arah masa depan. Masa perkuliahan sering kali diisi dengan berbagai tuntutan, mulai dari pencapaian akademik, keikutsertaan dalam organisasi dan perlombaan, hingga persiapan memasuki dunia kerja. Berbagai kesempatan tersebut terkadang menimbulkan anggapan bahwa setiap peluang harus dimanfaatkan agar tidak tertinggal dari orang lain.
Ketika melihat teman memperoleh prestasi, mendapatkan kesempatan magang, atau mencapai target tertentu, seseorang dapat mulai meragukan pencapaiannya sendiri. Keputusan yang sebelumnya terasa tepat pun kembali dipertanyakan setelah melihat keberhasilan orang lain. Pilihan jurusan, kegiatan yang diikuti, hingga rencana karier dapat menjadi sumber penyesalan ketika terus dibandingkan dengan perjalanan hidup orang lain.
Kondisi tersebut semakin terasa di tengah penggunaan media sosial yang membuat berbagai pencapaian mudah terlihat. Seseorang dapat menyaksikan keberhasilan orang lain tanpa mengetahui keseluruhan proses, kesulitan, dan pengorbanan yang menyertainya. Akibatnya, kehidupan yang ditampilkan seolah-olah selalu berjalan baik dapat membuat seseorang merasa tertinggal, meskipun setiap individu memiliki tantangan dan perjalanan yang berbeda.
Dalam konteks ini, The Midnight Library mengingatkan pembaca bahwa membandingkan kehidupan nyata dengan kemungkinan yang hanya dibayangkan dapat membuat seseorang sulit menghargai proses yang sedang dijalani. Keinginan untuk berkembang bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, keinginan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan menerima bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi dan tidak semua kemungkinan dapat dijalani sekaligus.
Salah satu pesan penting dalam novel ini adalah bahwa menerima masa lalu bukan berarti menyerah terhadap keadaan. Penyesalan dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memahami kesalahan, dan menentukan langkah yang lebih baik. Akan tetapi, penyesalan juga dapat menghambat seseorang ketika ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang tidak lagi dapat diubah.
Bagi mahasiswa, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju masa depan tidak selalu berlangsung sesuai rencana. Ada kesempatan yang terlewatkan, keputusan yang perlu dievaluasi, dan kegagalan yang menjadi bagian dari proses belajar. Pengalaman tersebut tidak serta-merta menentukan nilai diri seseorang karena masih ada kesempatan untuk memperbaiki keputusan, mencoba hal baru, dan mengembangkan kemampuan.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment