Home Buku Melihat Depresi Lebih Dekat melalui Buku Loving the Wounded Soul 
Buku

Melihat Depresi Lebih Dekat melalui Buku Loving the Wounded Soul 

Share

Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga

Suara USU, Medan. Ketika Depresi Perlu Dipahami, Bukan Diadili.

“Saya merasa hidup saya tidak ada gunanya… Sudah sebulan ini saya selalu merasa sedih setiap hari… Pikiran saya dipenuhi rasa bersalah. Saya tidak bisa tidur, saya kehilangan nafsu makan, saya ingin… menyerah.” (halaman 57)

Rangkaian kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan kesedihan. Di baliknya, ada sosok yang sedang berjuang menghadapi perubahan besar dalam cara berpikir, merasakan sesuatu, berhubungan dengan orang lain, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Sayangnya, depresi masih sering dianggap sebagai stres biasa atau kesedihan yang akan hilang dengan sendirinya.

Persoalan tersebut dibahas Regis Machdy melalui Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia. Buku yang pertama kali diterbitkan pada 30 September 2019 oleh Gramedia Pustaka Utama ini terdiri atas 324 halaman. Judulnya sendiri sudah memperlihatkan arah pembahasan. Bukan sekadar menjelaskan depresi sebagai gangguan yang harus dihindari atau ditakuti, buku ini mengajak pembaca untuk memahami dan bahkan “mencintai” jiwa yang terluka.

Cara Machdy membahas depresi terasa dekat karena ia memiliki pengalaman langsung dengan kondisi tersebut. Selain memiliki latar belakang akademis di bidang psikologi, ia juga merupakan orang yang pernah mengalami depresi. 

Pengalaman tersebut ikut membentuk cara Machdy menjelaskan berbagai persoalan dalam buku ini. Istilah psikologi dan penjelasan ilmiah berjalan berdampingan dengan pengalaman yang lebih personal, sehingga pembaca dapat melihat depresi dari sisi pengetahuan sekaligus pengalaman manusia yang menjalaninya.

Machdy menjelaskan depresi sebagai gangguan suasana hati yang dapat berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dampaknya dapat terlihat dari cara seseorang memandang dirinya sendiri, berinteraksi dengan orang lain, menjalankan kegiatan sehari-hari, hingga kondisi fisiknya. Oleh karena itu, anggapan seperti “kurang bersyukur”, “terlalu banyak berpikir”, atau sekadar “sedih” tidak cukup untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami depresi.

Buku ini kemudian memperlihatkan betapa kompleksnya faktor yang dapat berkaitan dengan depresi. Aspek psikologis memang mendapat perhatian besar, tetapi Machdy turut membicarakan faktor biologis seperti gen dan kondisi otak, faktor sosial seperti budaya dan lingkungan, serta aspek mental yang berkaitan dengan cara berpikir, tujuan, dan pemaknaan hidup. Berbagai unsur tersebut dapat saling berkaitan dalam pengalaman seseorang.

Wilayah pembahasannya bahkan bergerak ke persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, yakni iman, kehidupan, dan cinta. Ketiga hal tersebut dapat menjadi bagian dari cara seseorang menemukan makna, menghadapi pergulatan batin, atau memahami dirinya ketika berada dalam masa sulit.

Pandangan masyarakat terhadap gangguan mental juga menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam buku ini. Banyak orang masih menggunakan kata “gila” untuk menyebut seseorang yang mengalami gangguan mental. Sebutan tersebut sering membuat gangguan mental dianggap sebagai aib, kelemahan, atau sesuatu yang memalukan. Akibatnya, orang yang mengalami depresi dapat merasa takut untuk bercerita dan memilih menyembunyikan kondisinya.

Melalui pembahasannya, Machdy mengajak pembaca memahami bahwa depresi merupakan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian dan penanganan, seperti halnya penyakit fisik. Seseorang yang mengalami depresi perlu didengarkan dan dibantu, bukan dihakimi. Pemahaman ini penting karena dukungan dari lingkungan dapat mendorong seseorang untuk mencari bantuan profesional dan menjalani proses pemulihan.

Machdy menjelaskan bahwa depresi dapat ditandai dengan suasana hati depresif, kehilangan minat, perubahan berat badan, gangguan tidur, perlambatan psikomotorik, kelelahan, perasaan tidak berharga atau bersalah berlebihan, serta pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Kemunculan lima atau lebih gejala tersebut perlu mendapat perhatian serius dan menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, guna memperoleh penanganan yang tepat.

Pengaruh depresi juga dapat dirasakan melalui gangguan fisik, seperti nyeri tulang belakang, gangguan lambung, badan bergetar, konstipasi, radang tenggorokan, dan gejala lainnya. Machdy membahasnya melalui konsep psikosomatis, yaitu kondisi ketika tekanan atau persoalan emosional turut memengaruhi keadaan fisik seseorang.

Machdy turut menekankan bahwa seseorang yang pernah mengalami depresi tetap memiliki kemungkinan besar mengalaminya kembali pada masa mendatang. Oleh karena itu, meredanya gejala tidak selalu berarti persoalan tersebut telah berakhir sepenuhnya. Mengenali kondisi diri, memahami tanda-tanda yang muncul, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan menjadi bagian dari proses menghadapi depresi.

Dari segi penyajian, Loving the Wounded Soul cukup ramah bagi pembaca awam. Terdapat daftar istilah di bagian awal buku yang membantu pembaca terkait terminologi psikologi. Istilah-istilah yang kurang umum juga dijelaskan dalam pembahasan, sehingga pembaca tidak harus memiliki pengetahuan psikologi terlebih dahulu untuk mengikuti isinya.

Meski demikian, keluasan materi membuat beberapa bagian terasa lebih informatif daripada argumentatif. Pembaca yang sudah cukup familiar dengan isu kesehatan mental mungkin menemukan beberapa penjelasan yang terasa umum atau sudah pernah dibahas dalam sumber lain. Namun, hal ini masih dapat dipahami karena buku memang diarahkan untuk memperkenalkan depresi kepada masyarakat luas. Bagi pembaca pemula, penjelasan yang sistematis justru dapat menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan kesehatan mental dengan lebih baik.

Hadirnya buku Loving the Wounded Soul ini mengajak pembaca melihat depresi dengan sudut pandang yang lebih manusiawi. Pengalaman Machdy sebagai orang yang pernah mengalami depresi membuat uraian mengenai kondisi tersebut terasa dekat dan tidak berjarak. Buku ini dapat dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenali depresi, memahami orang terdekat yang sedang mengalaminya, atau membangun pemahaman yang lebih tepat mengenai kesehatan mental.

Depresi memiliki banyak sisi yang tidak selalu tampak dari luar. Ada perubahan pada pikiran, tubuh, hubungan sosial, keyakinan, tujuan hidup, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Setelah membaca buku ini, depresi menjadi lebih sulit untuk disederhanakan sebagai “kesedihan biasa”. Jiwa yang terluka memiliki alasan untuk dipahami, dan pemahaman itu dapat menjadi langkah awal untuk memperlakukannya dengan lebih manusiawi.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.