Oleh: Yusriah Rizky
Suara USU, Medan. Kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya terlihat dari ragam bahan pangan yang digunakan, tetapi juga dari cara masyarakat mengolah sumber daya di sekitarnya menjadi hidangan khas. Salah satunya ialah gulai siput, makanan tradisional masyarakat Melayu yang dikenal di Riau dan Kepulauan Riau. Hidangan ini menggunakan siput sebagai bahan utama yang dimasak dengan santan dan aneka rempah, menghasilkan kuah bercita rasa gurih, pedas, dan sedikit asam.
Bagi sebagian orang, siput mungkin bukan bahan pangan yang lazim dikonsumsi. Namun, bagi masyarakat Melayu di sejumlah daerah, bahan tersebut telah lama dimanfaatkan dalam tradisi memasak. Gulai siput memperlihatkan bagaimana bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi hidangan khas dan diwariskan antargenerasi.
Nama gulai siput juga beragam menurut daerahnya. Di Kabupaten Kuantan Singingi, hidangan ini dikenal sebagai gulai cipuik, sedangkan masyarakat Melayu Rokan menyebutnya rengkitang. Sebutan lain yang digunakan ialah gulai tengkuyung dan gulai siput sedut. Perbedaan penamaan tersebut mencerminkan keragaman istilah kuliner dalam masyarakat Melayu.
Salah satu bahan yang digunakan ialah siput sedut atau belitung, yang memiliki cangkang keras dengan daging di bagian dalam. Siput ini dapat ditemukan di pasar tradisional di sejumlah wilayah Melayu sehingga masyarakat dapat memperolehnya tanpa harus mencari langsung di alam. Ketersediaan bahan tersebut turut mendukung keberlanjutan tradisi memasak gulai siput.
Keistimewaan hidangan ini terletak pada perpaduan santan dan rempah-rempah. Bumbu yang umum digunakan meliputi kunyit, cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, dan serai. Daun salam serta daun kunyit juga dapat ditambahkan untuk memperkaya aroma. Komposisi bumbu dapat berbeda sesuai resep dan kebiasaan memasak masyarakat setempat.
Sejumlah variasi gulai siput turut menggunakan sayuran, seperti daun ubi jalar, pakis, daun talas, atau terung asam. Bahan tambahan tersebut memberikan variasi tekstur dan cita rasa.
Proses memasak gulai siput diawali dengan membersihkan siput secara menyeluruh. Setelah itu, siput direbus hingga matang. Pada sejumlah resep, bagian ujung cangkang yang runcing dipotong agar daging lebih mudah dikeluarkan saat disantap. Tahapan ini perlu dilakukan dengan hati-hati agar cangkang tidak pecah berlebihan.
Selanjutnya, bumbu halus ditumis hingga harum bersama rempah tambahan, seperti serai dan lengkuas. Santan kemudian dituangkan dan dimasak sambil diaduk agar kuah tidak mudah pecah. Siput yang telah direbus dimasukkan ke dalam kuah hingga bumbu meresap. Jika menggunakan sayuran, bahan tersebut ditambahkan sesuai kebutuhan dan waktu memasaknya.
Kebersihan dan keamanan bahan tetap menjadi perhatian utama dalam pengolahan gulai siput. Bahan harus berasal dari sumber yang aman untuk dikonsumsi, dibersihkan dengan benar, dan dimasak hingga matang. Langkah tersebut penting untuk menjaga mutu hidangan sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat bahan pangan yang tidak diolah secara tepat.
Keunikan gulai siput juga terlihat dari cara menyantapnya. Daging berada di dalam cangkang sehingga penikmatnya biasanya menyedot bagian dalam melalui ujung cangkang yang telah dipotong. Bagi orang yang belum terbiasa, cara ini mungkin terasa berbeda. Namun, cara tersebut menjadi bagian dari pengalaman menikmati gulai siput sedut.
Hidangan ini umumnya disajikan bersama nasi putih hangat. Kuah santan dan rempah dapat dinikmati bersama nasi, sedangkan daging siput memberikan tekstur kenyal. Di sejumlah wilayah Melayu, gulai siput juga dikenal sebagai salah satu pilihan hidangan saat Ramadan, termasuk untuk berbuka puasa. Meski demikian, kebiasaan penyajian dan waktu konsumsinya dapat berbeda di setiap daerah.
Sebagai bagian dari tradisi kuliner Melayu, gulai siput memiliki potensi untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Rumah makan khas Melayu, kegiatan promosi kuliner daerah, dan media sosial dapat menjadi sarana untuk mengenalkan bahan, proses pengolahan, serta keunikan hidangan ini. Penyampaian informasi yang tepat juga membantu masyarakat memahami kekhasan makanan tradisional tanpa melepaskannya dari latar budaya.
Pelestarian gulai siput tidak hanya berkaitan dengan upaya mempertahankan resep, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang bahan pangan lokal dan teknik pengolahannya. Ketersediaan bahan baku yang aman serta penerapan kebersihan selama memasak perlu diperhatikan agar hidangan ini dapat terus dinikmati.
Dengan demikian, gulai siput menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tumbuh dari kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan yang tersedia di lingkungan mereka. Perpaduan santan dan rempah, penggunaan siput sebagai bahan utama, serta cara penyajian yang khas menjadikan hidangan ini bagian dari warisan kuliner Melayu yang layak dikenal lebih luas.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment