Home Kuliner Di Balik Gurihnya Kerak Telor, Tersimpan Sejarah dan Filosofi Betawi
Kuliner

Di Balik Gurihnya Kerak Telor, Tersimpan Sejarah dan Filosofi Betawi

Share

Oleh: Intan Nurhaliza

Suara USU, Medan. Kerak telor merupakan jajanan tradisional khas Betawi, Jakarta, yang dikenal dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah pada bagian luarnya. Kuliner ini terbuat dari beras ketan dan telur yang dimasak menggunakan tungku arang. Penyajiannya dilengkapi taburan kelapa sangrai, ebi, dan bawang merah goreng. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan aroma serta rasa khas yang membuat kerak telor tetap dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional Jakarta.

Keunikan kerak telor tidak hanya terletak pada bahan dan rasanya, tetapi juga pada proses pembuatannya. Berbeda dengan telur dadar atau omelet yang umumnya dimasak menggunakan minyak atau mentega, kerak telor dibuat tanpa minyak. Adonan dimasak menggunakan wajan kecil di atas tungku arang. Ketika bagian bawahnya mulai matang, wajan dibalik menghadap bara api agar bagian atas adonan ikut matang dan membentuk lapisan kerak yang renyah. Teknik memasak tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakannya dari olahan telur lainnya.

Bahan utama yang digunakan untuk membuat kerak telor terdiri atas beras ketan putih yang telah direndam, telur ayam atau telur bebek, ebi atau udang kering, serta kelapa parut yang disangrai. Cita rasanya diperkuat dengan berbagai bumbu, seperti cabai merah, kencur, jahe, kunyit, serai, merica, garam, dan gula pasir. Proses pembuatannya diawali dengan memasak beras ketan di atas wajan, kemudian menambahkan kocokan telur dan bumbu. Setelah matang, kerak telor diberi taburan kelapa sangrai, ebi, dan bawang merah goreng sebelum disajikan dalam keadaan hangat.

Menurut sejarah, kerak telor diperkirakan mulai dikenal pada masa kolonial Belanda, tepatnya sekitar tahun 1920-an. Kuliner ini disebut tercipta secara tidak sengaja melalui percobaan sekelompok masyarakat Betawi yang tinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Melimpahnya buah kelapa di daerah tersebut mendorong masyarakat untuk mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan, salah satunya kerak telor. Seiring waktu, jajanan ini semakin digemari masyarakat Betawi dan mulai dikenal lebih luas.

Pada 1970-an, masyarakat Betawi mulai menjajakan kerak telor di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas). Sejak saat itu, kuliner ini semakin melekat dengan identitas Jakarta. Perkembangannya juga terlihat dari tempat dan konsep penjualannya. Jika dahulu lebih identik dengan pedagang kaki lima dan gerobak sederhana, kini kerak telor juga banyak dijumpai dalam festival budaya, pameran kuliner, dan kegiatan pariwisata. Kehadirannya dalam berbagai acara tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kuliner Betawi kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menarik minat wisatawan.

Dalam perkembangannya, kerak telor juga mengalami beberapa penyesuaian sesuai dengan selera konsumen. Salah satunya terlihat dari pilihan telur yang digunakan, yakni telur ayam atau telur bebek. Perbedaan bahan tersebut memberikan variasi cita rasa pada hidangan. Meskipun demikian, beras ketan, telur, dan kelapa sangrai tetap menjadi unsur utama yang mempertahankan karakteristik kerak telor.

Selain dikenal melalui cita rasa dan proses pembuatannya, kerak telor juga dikaitkan dengan makna filosofis tentang kepemimpinan dan keberagaman. Telur diibaratkan sebagai sosok pemimpin yang berada di atas berbagai perbedaan sifat individu. Sementara itu, rempah dan bumbu melambangkan keberagaman karakter yang disatukan oleh pemimpin tersebut. Pemaknaan ini menggambarkan pentingnya kepemimpinan dalam menyatukan perbedaan di tengah kehidupan masyarakat.

Di tengah beragamnya pilihan kuliner modern, kerak telor tetap mempertahankan daya tarik melalui bahan sederhana, teknik memasak tradisional, dan cita rasanya yang khas. Saat ini, keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Betawi, tetapi juga daya tarik pariwisata yang mencerminkan nilai-nilai lokal. Pengenalannya melalui berbagai kegiatan budaya turut membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan menjaga keberadaan kuliner tradisional.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.