Oleh: Rafael Benitez Silaban
Suara USU, Medan. Rendang daging kuda menjadi salah satu kuliner khas Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Hidangan ini menggunakan daging kuda yang dimasak bersama santan dan beragam rempah hingga bumbunya meresap. Berbeda dari rendang pada umumnya, olahan ini memiliki cita rasa sedikit manis, tekstur daging yang cukup empuk, serta aroma yang tidak amis. Masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar daerah dapat menemukan hidangan ini di sejumlah rumah makan di Doloksanggul.
Saat disajikan, rendang daging kuda memiliki warna cokelat tua dan terkadang menyerupai kalio, yaitu olahan rendang dengan kuah yang masih agak basah. Sementara itu, rendang yang dimasak lebih lama memiliki warna lebih gelap dan tekstur cenderung kering. Dagingnya biasanya disajikan bersama nasi putih hangat dan dilengkapi sup kuda serta sayuran. Selain disantap langsung, olahan daging kuda juga tersedia dalam bentuk kemasan kering yang dapat dijadikan oleh-oleh.
Pengolahan rendang daging kuda tidak jauh berbeda dari rendang berbahan daging sapi atau ayam. Bahan utamanya dimasak menggunakan bumbu yang terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, jintan, ketumbar, daun kunyit, daun jeruk, serai, dan pekak. Santan serta kelapa parut turut digunakan untuk menghasilkan bumbu yang lebih pekat. Proses memasaknya membutuhkan waktu cukup lama agar daging menjadi empuk dan bumbu meresap hingga ke dalam serat daging.
Daging kuda memiliki serat yang relatif lebih besar dan tekstur yang berbeda dari daging sapi maupun kerbau. Setelah dimasak bersama bumbu rendang, teksturnya menjadi cukup empuk. Perpaduan rasa manis alami daging dengan rempah-rempah menghasilkan cita rasa khas yang membedakannya dari rendang berbahan daging lainnya.
Selain memiliki cita rasa khas, daging kuda juga mengandung sejumlah zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Daging ini dikenal sebagai sumber protein dengan kandungan lemak yang relatif rendah. Protein berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan otot, sedangkan zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah. Daging kuda juga mengandung fosfor yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang serta mendukung berbagai fungsi tubuh.
Keberadaan kuliner ini turut didukung oleh pasokan daging kuda yang didatangkan dari luar Doloksanggul, seperti Berastagi, Aceh, Magelang, dan Sumatera Barat. Perdagangan daging kuda di wilayah ini telah berlangsung sejak lama. Dalam penelitian berjudul Sejarah Perdagangan Daging Kuda di Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 1850–1980, Josua Sihotang mengkaji perkembangan perdagangan daging kuda di Doloksanggul sejak sekitar 1850. Penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai panjangnya sejarah perdagangan daging kuda di daerah ini.
Hingga kini, olahan daging kuda tetap dikenal sebagai bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Doloksanggul. Hidangan ini juga disajikan dalam berbagai kesempatan, termasuk acara adat dan perayaan masyarakat Batak. Cita rasa yang khas serta sejarah panjang perdagangannya menjadikan rendang daging kuda sebagai salah satu kuliner daerah yang menarik untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment