Home Tulisan Etika Menghubungi Dosen di Era Digital, Mahasiswa Perlu Perhatikan Waktu dan Kesantunan
Tulisan

Etika Menghubungi Dosen di Era Digital, Mahasiswa Perlu Perhatikan Waktu dan Kesantunan

Share

Oleh: Grasia Laura, Abdul Zainul Amran, Kevin Leonardo Sinaga, Muhammad Satria Anggara, Muhammad Abdullah Fahmi, Pretty Pranita Hartiana Siahaan, Rumaisha Rahman, dan Svenzira Duta Yosafat Simanjuntak

Suara USU, Medan. Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah pola interaksi di lingkungan perguruan tinggi. Jika sebelumnya mahasiswa harus menemui dosen secara langsung untuk menanyakan jadwal perkuliahan, tugas, maupun keperluan akademik lainnya, kini berbagai hal tersebut dapat disampaikan melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp. Kemudahan ini membuat komunikasi menjadi lebih praktis. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan etika dan tata krama, terutama ketika menghubungi dosen.

Berbeda dengan komunikasi secara langsung yang memungkinkan seseorang memahami nada bicara dan gestur lawan bicara, komunikasi melalui pesan teks lebih rentan menimbulkan kesalahpahaman. Pemilihan kata, waktu pengiriman pesan, hingga cara menyampaikan keperluan menjadi hal yang perlu diperhatikan mahasiswa. Kesantunan dalam berkomunikasi bukan hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa formal, tetapi juga mencerminkan sikap menghargai orang lain.

Penelitian yang dilakukan oleh kelompok penulis dengan melibatkan mahasiswa dan dosen menunjukkan bahwa kesadaran mahasiswa terhadap etika dasar komunikasi sudah cukup baik. Sebagian besar mahasiswa telah memahami pentingnya mengawali pesan dengan salam dan mencantumkan identitas diri, seperti nama lengkap, NIM, serta kelas atau program studi. Hal tersebut dilakukan agar dosen dapat mengetahui siapa yang menghubunginya dan memahami konteks pesan yang disampaikan.

Selain itu, mayoritas mahasiswa juga menyadari bahwa mengawali pesan kepada dosen hanya dengan huruf “P” atau singkatan “Ass” merupakan bentuk komunikasi yang kurang sopan. Penggunaan bahasa yang santun dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada dosen sekaligus mencerminkan karakter dan sikap profesional mahasiswa.

Meskipun pemahaman mengenai kesopanan sudah tergolong baik, penelitian tersebut juga menemukan beberapa hal yang masih perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kebiasaan mahasiswa mengirimkan pesan yang terlalu panjang dan tidak langsung menyampaikan maksud utama. Bagi dosen, pesan yang bertele-tele dapat menyulitkan pemahaman terhadap keperluan mahasiswa. Tidak jarang dosen harus membalas pesan hanya untuk menanyakan kembali maksud yang ingin disampaikan.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri menyampaikan pesan secara ringkas, jelas, dan terstruktur. Setelah memberikan salam dan memperkenalkan diri, mahasiswa sebaiknya langsung menjelaskan keperluannya tanpa menggunakan kalimat yang berulang-ulang. Dengan demikian, komunikasi dapat berlangsung lebih efektif dan tidak menyita waktu penerima pesan.

Selain isi pesan, waktu pengiriman juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Berdasarkan hasil penelitian, diperkirakan sekitar 45% pesan mahasiswa masih dikirimkan pada malam hari atau akhir pekan, meskipun mayoritas mahasiswa telah mengetahui bahwa waktu komunikasi yang dianjurkan adalah pada jam kerja, yakni pukul 08.00–16.00 WIB.

Kebiasaan menghubungi dosen di luar jam kerja dapat mengaburkan batas antara kepentingan akademik dan waktu pribadi. Kemudahan teknologi memang memungkinkan pesan dikirim kapan saja, tetapi bukan berarti penerima harus selalu tersedia untuk membalasnya. Mahasiswa perlu memahami bahwa dosen juga memiliki waktu istirahat dan kesibukan pribadi yang perlu dihormati.

Di samping itu, setiap dosen memiliki karakteristik dan preferensi komunikasi yang berbeda. Ada dosen yang lebih santai dan fleksibel dalam membalas pesan, tetapi ada pula yang tetap mengutamakan formalitas. Oleh karena itu, penggunaan bahasa formal dan sopan tetap menjadi pilihan yang tepat, terutama ketika mahasiswa belum mengenali kebiasaan komunikasi dosen yang bersangkutan.

Dalam menghubungi dosen melalui WhatsApp, mahasiswa dapat membiasakan diri mengawali pesan dengan salam yang sesuai, seperti “Selamat pagi, Bapak/Ibu” atau “Assalamualaikum, Bapak/Ibu”. Selanjutnya, mahasiswa perlu memperkenalkan diri dengan mencantumkan nama lengkap, NIM, serta kelas atau program studi. Maksud dan tujuan pesan kemudian disampaikan secara jelas dan langsung pada inti pembahasan, sebelum diakhiri dengan ucapan terima kasih.

Pada akhirnya, etika berkomunikasi melalui media digital merupakan bagian penting dalam membentuk karakter dan profesionalisme mahasiswa. Kesantunan tidak hanya ditunjukkan melalui pemilihan kata, tetapi juga melalui kemampuan menghargai waktu, memahami posisi orang lain, dan menyampaikan keperluan secara tepat. Dengan menerapkan kebiasaan tersebut, komunikasi antara mahasiswa dan dosen diharapkan dapat berlangsung lebih tertib, efektif, dan saling menghormati.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.