Home Cerpen Masih Ada Harapan
Cerpen

Masih Ada Harapan

Share

Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Sudah hampir tiga bulan Alena dirawat di rumah sakit. Selama itu, kamar bernomor 207 menjadi tempat yang paling sering ia lihat setiap hari. Ia bahkan mulai hafal suara langkah perawat, jadwal dokter datang memeriksa, hingga bunyi roda troli yang melintasi lorong setiap pagi. Namun, dari semua hal yang perlahan menjadi kebiasaan, ada satu hal yang tidak pernah berhasil ia biasakan, yaitu kerinduan untuk pulang.

Pagi itu, Ibu datang membawa sarapan dan membuka tirai agar cahaya matahari masuk ke kamar. Alena hanya memandangi makanan di hadapannya tanpa banyak selera. Ibu pun mulai menggodanya tentang kebiasaannya yang semakin sulit makan selama dirawat. Percakapan sederhana itu sempat membuat Alena tertawa, tetapi senyumnya perlahan memudar ketika pandangannya kembali tertuju ke luar jendela.

“Bu, menurut Ibu aku bisa sembuh, kan?”

Ibu duduk di sampingnya dan menggenggam tangan Alena. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar tentang kesembuhan, melainkan juga tentang ketakutan yang selama ini disimpan putrinya.

“Aku cuma takut. Sudah lama di sini, tapi rasanya belum selesai-selesai. Kadang aku lihat orang lain bisa kuliah, ketemu teman, jalan-jalan, sementara aku cuma bisa menunggu di kamar ini. Aku takut kalau hidupku akan terus seperti ini.”

Ibu mengusap rambutnya perlahan. Ia tidak ingin memberikan janji bahwa semuanya akan segera membaik, sebab ia sendiri tidak tahu kapan hari itu akan tiba.

“Kalau sembuhnya butuh waktu lama, kita tunggu. Kalau harus berobat lebih lama, kita jalani. Kamu tidak harus selalu kuat, Na. Ibu cuma ingin kamu tidak berhenti percaya bahwa keadaanmu bisa berubah.”

Alena menunduk. Ada ketakutan lain yang jauh lebih dalam daripada sekadar rasa takut akan penyakitnya, yaitu kekhawatiran bahwa dirinya hanya akan menjadi beban bagi orang tuanya.

“Aku takut mengecewakan Ibu.”

“Kamu tidak pernah mengecewakan Ibu hanya karena kamu sakit. Yang Ibu lihat setiap hari bukan anak yang sakit, tetapi anak yang masih berusaha bangun setiap pagi meskipun sedang tidak punya banyak tenaga. Buat Ibu, itu sudah cukup.”

Malamnya, Ayah datang membawa sebuah buku bersampul cokelat. Ia menyerahkannya kepada Alena dan meminta putrinya menuliskan apa saja yang ingin dilakukan setelah sembuh. Alena pun mulai memenuhi halaman pertama dengan berbagai hal sederhana, seperti pulang ke rumah, kembali kuliah, menikmati masakan Ibu, bertemu teman-teman, dan pergi ke pantai bersama orang tuanya.

“Kalau aku tulis banyak, Ayah harus mewujudkan semuanya.”

“Ayah nggak bisa menjanjikan semuanya, tapi selama masih bisa Ayah usahakan, Ayah akan bantu.”

Alena tersenyum. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali terdiam sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

“Kalau orang sakit masih boleh punya banyak harapan, kan?”

Ayah menatapnya dengan tenang.

“Justru ketika kita sedang sakit, kita membutuhkan sesuatu untuk ditunggu. Harapan bukan jaminan bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan, tetapi harapan membuat kita punya alasan untuk terus mencoba.”

Alena kemudian menuliskan satu kalimat di bagian bawah halaman.

Hidup lebih lama untuk mewujudkan semuanya.

Beberapa minggu kemudian, kondisi Alena mulai membaik. Dokter mengizinkannya melanjutkan pemulihan dari rumah apabila kondisinya tetap stabil. Hingga akhirnya, pagi yang selama ini ia nantikan tiba. Alena diperbolehkan pulang. Ia berjalan bersama Ayah dan Ibu menuju pintu keluar rumah sakit, membawa buku cokelat yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tempatnya menyimpan berbagai harapan.

Sebelum masuk ke mobil, pandangannya tertuju pada seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh atau delapan tahun yang sedang duduk di ruang tunggu. Di sampingnya, sang ibu tengah menyiapkan obat, lalu menyodorkannya bersama segelas air.

“Harus diminum, ya. Habis ini kita masuk lagi untuk diperiksa.”

“Iya, Ma. Habis ini kita pulang?”

“Iya, kalau sudah selesai diperiksa.”

“Kita ke sini lagi kapan?”

“Minggu depan.”

Anak itu mengangguk tanpa banyak bertanya. Alena memperhatikannya beberapa saat. Ada sesuatu yang membuatnya ingin mengenal anak itu, mungkin karena ia melihat ketenangan yang selama ini sulit ia temukan dalam dirinya sendiri.

“Hai. Namamu siapa?”

“Raka.”

“Raka sering ke sini?”

“Iya, Kak. Dari kecil.”

Alena kemudian duduk di sebelahnya. Dari percakapan singkat itu, ia mengetahui bahwa Raka sudah menjalani pengobatan sejak kecil dan harus mengonsumsi obat secara teratur agar kondisi tubuhnya tetap terjaga. Rumah sakit, pemeriksaan, obat-obatan, dan perjalanan pulang bersama ibunya sudah menjadi bagian dari keseharian Raka, bahkan sejak ia belum cukup besar untuk memahami semuanya.

“Terus, kamu nggak bosan?”

“Bosan.”

Alena terdiam sejenak. Jawaban sederhana itu membuatnya tersenyum kecil sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan yang terasa begitu penting baginya.

“Kalau kamu sering sakit, sering minum obat, dan harus ke rumah sakit terus, kamu masih punya harapan nggak?”

Raka menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk.

“Punya.”

“Harapan apa?”

Raka mulai menghitung dengan jari-jarinya.

“Aku mau sekolah terus. Mau main sama teman-teman. Mau ulang tahun sama Mama. Sama mau jalan-jalan juga, bukan cuma ke rumah sakit.”

Alena tersenyum kecil.

“Kalau begitu, kamu nggak capek berharap?”

“Capek sih, Kak. Tapi kalau aku berhenti berharap, nanti aku mau nunggu apa?”

Alena terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ada sesuatu yang begitu dalam di baliknya.

“Aku masih mau melakukan banyak hal,” lanjut Raka. “Jadi aku minum obat, datang ke sini, terus berusaha sehat. Kalau aku cuma sedih karena sakit, nanti waktu buat mainnya habis.”

Alena kembali terdiam. Selama ini, ia selalu mengira bahwa dirinya harus sembuh terlebih dahulu untuk bisa kembali berharap. Namun, dari seorang anak yang bahkan belum genap sepuluh tahun, ia justru belajar bahwa harapan tidak harus menunggu kesembuhan datang. Barangkali, harapanlah yang membuat seseorang mampu bertahan melewati hari-hari ketika kesembuhan belum juga tiba.

Dari kejauhan, Ibu memanggil Alena. Ia pun berdiri dan merapikan tasnya sebelum berpamitan.

“Raka, kalau nanti sudah sehat, jangan lupa semua yang kamu bilang tadi.”

Raka tersenyum.

“Kakak juga. Kan Kakak juga punya harapan.”

Alena membalas senyumnya dan mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju mobil dengan perasaan yang berbeda dari ketika pertama kali datang ke rumah sakit. Tempat itu memang telah mengambil banyak waktunya, tetapi di tempat yang sama pula ia kembali menemukan alasan untuk menghargai waktu yang masih dimilikinya.

Sesampainya di rumah, Alena membuka buku cokelatnya dan membaca kembali daftar yang pernah ia tulis. Ia mencoret kata pulang, sebab satu harapan telah berhasil terwujud. Kemudian, pandangannya berhenti pada tulisan pergi ke pantai yang masih menunggu waktunya. Di bawah daftar tersebut, ia menambahkan satu kalimat baru.

Aku tidak harus tahu bagaimana hari esok akan berjalan untuk tetap ingin melihatnya.

Alena menutup buku itu dan memandang ke luar jendela. Ia mungkin belum sepenuhnya sembuh, mungkin masih harus kembali ke rumah sakit, dan mungkin masih akan menghadapi hari-hari yang berat. Namun, kini ia memahami satu hal: sakit bukan berarti kehidupan harus berhenti.

Selama masih ada sesuatu yang ingin dicapai, seseorang yang ingin ditemui, tempat yang ingin didatangi, dan hari-hari yang masih ingin disaksikan, selalu ada alasan untuk terus melangkah. Sebab, kehidupan tidak hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai kesembuhan, tetapi juga tentang bagaimana ia tetap menemukan harapan di tengah perjalanan yang belum selesai.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.