Home Cerpen Di Bawah Langit yang Sama
Cerpen

Di Bawah Langit yang Sama

Share

Penulis : Rosani Margaretha Samosir

“Bu, kenapa rumah mereka besar sekali?”

Ibu menghentikan tangannya yang sedang membungkus gorengan. Ia mengikuti arah pandangan Raka ke deretan rumah mewah di balik pagar tinggi. Rumah-rumah itu berdiri megah dengan halaman luas dan mobil yang terparkir rapi, sementara di seberang jalan, gerobak kecil milik mereka tampak sederhana.

“Karena setiap orang punya jalan hidup yang berbeda, Nak.”

“Kalau begitu, kenapa jalan hidup Raka begini?”

Ibu tersenyum tipis dan mengusap kepala anaknya yang masih mengenakan seragam sekolah.

“Langit kita tetap sama.”

Raka menatap ke atas. Ia belum mengerti maksud perkataan ibunya.

Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, Raka sudah membantu ibunya berjualan gorengan di depan gerbang. Ia mengiris sayuran, menggoreng bakwan, dan mengantarkan pesanan, lalu berlari masuk ke kelas. Seragamnya sering berbau minyak, sepatu hitamnya mulai pudar, dan tas yang ia pakai adalah pemberian sepupunya.

Namun, Raka tidak pernah mengeluh.

Ia tahu ibunya bekerja seorang diri sejak ayahnya pergi merantau. Penghasilan dari gorengan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya.

Di sekolah, Raka punya sahabat bernama Dimas. Mereka duduk bersebelahan dan sering mengerjakan tugas bersama.

Suatu hari, guru memberikan tugas kelompok tentang ketimpangan sosial.

“Menurut kalian, apa penyebab ketimpangan sosial?” tanya guru mereka.

Beberapa siswa mengangkat tangan.

“Perbedaan pendapatan, Bu.”

“Kesempatan pendidikan yang tidak sama.”

“Perbedaan fasilitas.”

Raka diam. Semua jawaban itu terdengar benar, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam menyentuh hatinya.

Sepulang sekolah, Dimas bertanya, “Kalau menurutmu?”

Raka berjalan sambil memegang tali tasnya.

“Ketimpangan itu ketika sesuatu yang bagi seseorang dianggap biasa, bagi orang lain menjadi sulit didapat.”

Dimas menoleh. “Contohnya?”

“Internet, laptop, uang sekolah, bahkan makanan.”

Dimas terdiam. Ia baru menyadari bahwa banyak hal yang selama ini ia anggap biasa ternyata adalah kemewahan bagi Raka.

Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan seleksi beasiswa bagi siswa berprestasi. Raka langsung mendaftar. Ia berharap beasiswa itu dapat meringankan beban ibunya.

Sejak saat itu, Raka belajar lebih keras. Setelah membantu ibunya berjualan, ia belajar hingga larut malam. Ketika listrik padam, ia membaca dengan cahaya dari ponselnya.

“Sudah tidur, Nak,” kata Ibu suatu malam.

“Sebentar lagi, Bu.”

“Kenapa harus belajar sampai malam?”

Raka tersenyum. “Kalau Raka dapat beasiswa, Ibu bisa lebih ringan.”

Ibu terdiam sejenak.

“Jangan belajar hanya karena merasa harus membalas pengorbanan Ibu. Belajarlah karena kamu punya cita-cita.”

Raka menatap ibunya. “Raka ingin jadi orang yang bisa membuat orang lain didengar.”

Ibu tersenyum. “Kalau begitu, jangan berhenti.”

Hari pengumuman tiba. Raka duduk di aula bersama siswa lainnya. Jantungnya berdebar ketika nama-nama penerima beasiswa mulai dibacakan.

Namanya tidak ada.

Ia menunggu sampai pengumuman selesai, tetapi tetap tidak mendengar namanya. Dimas menepuk bahunya.

“Rak, mungkin ada kesempatan lain.”

Raka tersenyum kecil. “Iya.”

Namun, senyum itu tidak mampu menyembunyikan kekecewaan di matanya. Saat berjalan melewati koridor, ia mendengar percakapan dua guru.

“Sayang sekali Raka tidak dapat beasiswa. Nilainya paling tinggi.”

“Katanya ada pertimbangan khusus.”

Raka berhenti melangkah.

Pertimbangan khusus?

Ia mulai mencari tahu. Dari beberapa informasi yang ia kumpulkan, proses seleksi ternyata tidak sepenuhnya berdasarkan prestasi. Salah satu siswa yang terpilih berasal dari keluarga yang dekat dengan pihak sekolah.

Raka marah. Namun, ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.

Keesokan harinya, ia menemui wali kelas.

“Bu, saya ingin bertanya tentang seleksi beasiswa.”

“Kenapa?”

“Kalau saya memang tidak layak, saya bisa menerima. Tapi saya ingin tahu apakah prosesnya benar-benar adil.”

Raka menjelaskan apa yang ia ketahui. Ia tidak meminta dirinya dipilih. Ia hanya ingin kesempatan diberikan berdasarkan aturan yang sama untuk semua.

Pihak sekolah pun memeriksa masalah itu. Ternyata memang ada kelemahan dalam proses seleksi: kriterianya tidak dijelaskan secara terbuka, dan ada pertimbangan yang tidak tercantum dalam aturan.

Sekolah kemudian memperbaiki sistemnya. Beasiswa tidak lagi diberikan hanya berdasarkan nilai, tetapi juga mempertimbangkan kondisi ekonomi, prestasi, dan kontribusi siswa.

Beberapa minggu kemudian, Raka dipanggil ke ruang kepala sekolah.

“Kamu tahu mengapa dipanggil?”

“Karena beasiswa, Pak?”

“Ya. Kamu mendapatkannya.”

Raka terdiam. “Terima kasih, Pak.”

Kepala sekolah tersenyum. “Kamu seharusnya mendapatkan ini sejak awal.”

Raka menggeleng. “Saya tidak ingin hanya saya yang mendapat kesempatan, Pak.”

“Maksudmu?”

“Kalau sistemnya tidak diperbaiki, nanti akan ada Raka-Raka lain yang mengalami hal yang sama.”

Kepala sekolah menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.

Sejak saat itu, Raka dan Dimas membuat kegiatan kecil di sekolah. Mereka mengumpulkan buku bekas layak pakai untuk siswa yang kesulitan membeli buku, dan membuka kelas belajar bersama secara gratis bagi teman-teman yang membutuhkan.

Suatu sore, seorang siswa menghampiri Raka.

“Kak, terima kasih sudah membuat kegiatan ini.”

Raka tersenyum. “Tidak perlu berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena suatu hari nanti, kalau kamu sudah punya kesempatan, kamu juga harus membantu orang lain.”

Anak itu mengangguk.

Setelah kegiatan selesai, Raka pulang dan kembali membantu ibunya berjualan. Matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Langit berubah jingga, dan satu per satu lampu rumah menyala.

Raka teringat percakapannya dengan Ibu beberapa bulan lalu.

“Bu.”

“Iya?”

“Sekarang Raka mengerti kenapa Ibu bilang langit kita sama.”

Ibu tersenyum. “Kenapa?”

“Langitnya memang sama. Tapi jalan untuk mencapainya tidak selalu sama.”

Ibu mengangguk. “Karena itu, kalau suatu hari kamu punya kesempatan membuat jalan orang lain lebih mudah, jangan lupa melakukannya.”

Raka memandang langit.

Kini ia memahami bahwa ketimpangan bukan hanya soal siapa yang punya lebih banyak uang. Ketimpangan juga soal siapa yang punya lebih banyak kesempatan, siapa yang mendapat pendidikan lebih baik, siapa yang lebih mudah didengar, dan siapa yang harus berjuang berkali-kali demi sesuatu yang bagi orang lain dianggap biasa.

Tidak semua orang bisa memilih tempat mereka dilahirkan. Tidak semua orang bisa memilih keadaan keluarganya. Namun, setiap orang berhak bermimpi dan memperjuangkannya.

Selama masih ada orang yang mau membuka jalan bagi mereka yang tertinggal, harapan akan selalu menemukan tempat untuk tumbuh di bawah langit yang sama.

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.