Home Opini Ketika Egoisme Narsistik Bersembunyi di Balik Kalimat “Mencintai Diri Sendiri”
Opini

Ketika Egoisme Narsistik Bersembunyi di Balik Kalimat “Mencintai Diri Sendiri”

Share

Oleh: Theresa Melyasari

Suara USU, Medan. “Cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain” atau “Kamu berhak fokus kepada diri kamu sendiri.” Kedua kalimat tersebut biasanya diucapkan dengan niat baik untuk mengajak seseorang lebih mampu menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Istilah self-love tentu sudah tidak asing bagi banyak orang. Namun, muncul pertanyaan: benarkah semua bentuk mencintai diri sendiri itu sehat? Atau, jangan-jangan, self-love hanya menjadi tameng untuk membenarkan perilaku egois dengan menggunakan bahasa yang terdengar indah?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan di tengah maraknya fenomena ketika narasi self-love tidak lagi digunakan untuk memulihkan diri, melainkan justru dibajak untuk membentengi kepentingan pribadi. Di balik kalimat bijak dan unggahan berestetika di media sosial, terdapat batas tipis yang semakin kabur antara memulihkan harga diri yang terluka dan memanjakan ego yang berlebihan. Tanpa disadari, bahasa-bahasa pemulihan ini dapat beralih fungsi menjadi perisai bagi perilaku narsistik, yaitu alibi untuk bertindak semena-mena, mengabaikan perasaan orang lain, dan melarikan diri dari tanggung jawab emosional, semuanya atas nama “kesehatan mental”. Mementingkan diri sendiri atas nama self-love bukanlah hal yang selalu mencerminkan kecintaan terhadap diri. Jika dilakukan secara berlebihan, perilaku tersebut justru dapat memperkuat sikap egois dan mengikis empati terhadap orang lain.

Perilaku narsistik bukan perkara sepele yang dapat dibiarkan begitu saja. Sifat tersebut dapat menyeret seseorang ke dalam kebutuhan akan validasi yang tidak ada habisnya dan membuatnya merasa menjadi sosok yang paling penting di mana pun berada. Perlahan tetapi pasti, sifat ini dapat menjadi racun bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika melakukan kesalahan, seseorang dengan kecenderungan narsistik dapat kesulitan melakukan evaluasi diri atau mengakui kesalahannya. Alih-alih menyadari kesalahan, ia dapat memutarbalikkan keadaan seolah-olah kesalahan tersebut terjadi karena ulah orang lain, kemudian berlindung di balik pembelaan seperti, “Namanya juga manusia, wajar dong kalau salah.” Kalimat tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses menerima ketidaksempurnaan diri, terutama bagi seseorang yang sedang memulihkan luka batin di masa lalu. Namun, ketika digunakan untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan yang merugikan orang lain, kalimat tersebut justru dapat disalahgunakan sebagai pembenaran.

Tidak ada pembenaran untuk perilaku egois, terlebih jika perilaku tersebut sampai merugikan orang lain. Ironisnya, di zaman sekarang, batas antara menjaga kesehatan mental dan membenarkan perilaku manipulatif semakin kabur. Banyak yang lupa bahwa self-love yang sehat tidak pernah berjalan beriringan dengan pengabaian terhadap empati. Ketika seseorang terus-menerus menggunakan alasan “demi kedamaian diri” untuk membenarkan tindakan dan melarikan diri dari dampak perbuatannya, saat itulah self-love berisiko berubah menjadi alat untuk membenarkan perilaku narsistik yang destruktif bagi orang-orang di sekitarnya.

Sejatinya, narsisme dan mencintai diri sendiri adalah dua hal yang berbeda. Memang, keduanya memiliki kemiripan karena sama-sama berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Namun, tujuan yang mendasarinya berbeda. Berdasarkan ulasan klinis dari Annabelle Psychology, “The primary goal with self-love is to develop a positive self-concept. Whereas with narcissism, the goal might be to gain external admiration or regard.” Kalimat tersebut dapat diartikan bahwa self-love berfokus pada pembentukan pandangan positif terhadap diri sendiri, sedangkan narsisme lebih berkaitan dengan kebutuhan memperoleh kekaguman atau pengakuan dari orang lain (external validation).

Mencintai diri sendiri memang sulit untuk didefinisikan secara sederhana. Salah satu cara untuk memahaminya dari sudut pandang psikologis adalah dengan melihat self-love sebagai bentuk penghargaan yang tulus terhadap diri sendiri. Menghargai diri dan bersyukur atas apa yang dimiliki merupakan salah satu bentuk self-love yang sehat. Tidak ada yang salah dengan mencintai diri sendiri. Namun, memelihara sifat egois demi terus memvalidasi diri sendiri adalah hal yang keliru.

Self-love sejati bukan tentang mengangkat diri sendiri setinggi langit sambil menginjak perasaan orang lain. Mencintai diri sendiri juga berarti mampu mengenali batas, bertanggung jawab atas tindakan, serta tetap mempertimbangkan perasaan orang lain. Karena itu, mari belajar mencintai diri sendiri dengan cara yang bijak dan dewasa, tanpa harus melukai, memanipulasi, terlebih mengorbankan perasaan orang-orang di sekitar kita.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.