Oleh : Rosani Margaretha Samosir
Suara USU, Medan. “Kalau memang dua kali gagal, mungkin itu tandanya kamu harus mulai mempertimbangkan pilihan lain, Kirana. Jangan terlalu memaksakan mimpi yang belum tentu bisa kau capai.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Kirana, bahkan setelah percakapannya dengan Dinda berakhir.
“Jadi, menurutmu aku harus berhenti mencoba?” tanya Kirana pelan.
Dinda menghela napas. “Bukan begitu. Aku cuma enggak mau kamu terus-terusan kecewa. Masih banyak universitas lain, kan? Kenapa harus yang itu?”
Kirana terdiam. Ia ingin menjelaskan bahwa universitas itu bukan sekadar pilihan, melainkan mimpi yang sudah ia rawat sejak lama. Namun, melihat ekspresi Dinda, ia mengurungkan niatnya.
“Ya sudah, Din. Makasih sarannya.”
Ia mengakhiri percakapan itu dengan senyum tipis. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita justru menjadi salah satu alasan mengapa ia mulai meragukan dirinya sendiri. Padahal, di balik dua kegagalan yang telah ia lalui, masih ada mimpi yang diam-diam ingin ia perjuangkan.
Sejak duduk di bangku SMA, Kirana selalu membayangkan dirinya mengenakan almamater universitas impiannya. Baginya, kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan gelar atau mengikuti jejak teman-teman seusianya. Ada harapan besar yang ia titipkan di sana.
Namun, kenyataan tidak selalu berjalan searah dengan harapan. Dua kali mencoba, dua kali pula namanya tidak tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima. Setiap kali pengumuman datang, Kirana berusaha meyakinkan dirinya bahwa kegagalan hanyalah bagian dari perjalanan. Ia kembali membuka buku, menyusun jadwal belajar, dan mencoba memperbaiki kekurangannya. Akan tetapi, semakin lama, bukan hanya soal-soal ujian yang terasa sulit. Ia juga harus berhadapan dengan pikirannya sendiri yang perlahan kehilangan kepercayaan.
Hal yang membuat semuanya terasa lebih berat adalah ketika ia mulai menyadari bahwa tidak semua orang memahami perjuangannya. Beberapa orang menganggapnya terlalu ambisius. Ada pula yang menyarankan agar ia berhenti mengejar universitas impiannya dan memilih jalan yang dianggap lebih mudah.
“Kamu enggak capek, Kirana?” tanya seorang teman ketika mereka bertemu di sekolah.
“Capek, sih,” jawab Kirana sambil tersenyum kecil. “Tapi aku masih pengin mencoba.”
“Kalau nanti gagal lagi?”
Kirana terdiam sesaat sebelum menjawab, “Aku juga takut gagal lagi. Tapi kalau aku berhenti sekarang, aku enggak akan pernah tahu sejauh apa sebenarnya aku bisa melangkah.”
Temannya hanya mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan. Kirana pun kembali menyimpan pikirannya sendiri. Ia tidak menyalahkan siapa pun karena memiliki pendapat berbeda. Hanya saja, ia berharap orang-orang yang mengenalnya lebih lama dapat memahami bahwa mimpinya bukan sekadar keinginan sesaat yang bisa ia tinggalkan begitu saja.
***
Suatu sore, Kirana pergi ke sebuah kedai kopi kecil untuk mencari suasana baru. Ia membawa buku latihan yang sudah beberapa hari tidak disentuhnya. Ia berharap udara sore dan suasana yang berbeda dapat membantunya berpikir lebih jernih. Sayangnya, setelah duduk hampir setengah jam, ia masih menatap halaman yang sama tanpa benar-benar memahami isinya.
“Lagi belajar buat ujian?”
Kirana mendongak. Seorang perempuan yang duduk di meja sebelah tersenyum ramah ke arahnya.
“Iya,” jawab Kirana singkat.
“Persiapan masuk kuliah?”
Kirana mengangguk. “Iya, tapi kayaknya aku mulai kehilangan semangat.”
Perempuan itu meletakkan gelasnya. “Kenapa? Ujiannya susah?”
“Bukan cuma itu. Aku sudah dua kali mencoba masuk universitas impianku, tapi dua-duanya gagal.”
Perempuan itu terdiam sejenak, lalu menarik kursi di hadapan Kirana setelah meminta izin untuk duduk.
“Kalau boleh tahu, kamu masih mau mencoba lagi?”
“Mau. Tapi kadang aku merasa mungkin aku memang enggak mampu. Orang-orang di sekitarku juga mulai menyarankan supaya aku berhenti berharap terlalu tinggi.”
Perempuan itu tersenyum kecil. “Namaku Nadya. Aku juga pernah gagal masuk universitas yang aku inginkan. Tahun lalu, teman-temanku sudah mulai kuliah, sementara aku harus mengulang persiapan dari awal.”
Kirana menatapnya. “Terus, kamu enggak malu?”
“Malu, kecewa, sedih, semuanya pernah. Apalagi waktu orang-orang mulai bertanya kenapa aku belum kuliah. Tapi lama-lama aku sadar, aku terlalu sibuk memikirkan penilaian orang sampai lupa bahwa yang menjalani hidup ini aku sendiri.”
Nadya berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
“Kiranya, kita boleh mendengarkan pendapat orang lain, tapi jangan sampai mereka menjadi penentu seberapa jauh kita berani bermimpi. Mereka boleh meragukan kita, tetapi bukan berarti kita harus ikut meragukan diri sendiri.”
“Tapi kalau aku gagal lagi?” tanyanya.
“Kalau gagal lagi, kamu boleh sedih. Kamu boleh istirahat sebentar. Kamu bahkan boleh menangis kalau memang itu yang kamu rasakan. Tapi setelah itu, tanyakan lagi pada dirimu sendiri, apakah mimpi ini masih layak diperjuangkan? Kalau jawabannya iya, kenapa harus berhenti hanya karena kamu pernah gagal?”
“Terima kasih, ya,” ujar Kirana akhirnya. “Aneh juga, padahal kita baru kenal, tapi kamu bisa ngomong sesuatu yang bahkan orang-orang terdekatku enggak pernah bilang.”
Nadya tertawa pelan. “Mungkin karena kita sama-sama pernah ada di posisi itu. Kadang, orang yang pernah merasakan hal serupa enggak perlu tahu semua ceritamu untuk memahami perasaanmu.”
Sebelum berpisah, Nadya membagikan beberapa akun belajar dan jadwal latihan yang biasa digunakannya. Mereka bertukar nomor telepon, lalu berjanji untuk saling memberi kabar tentang persiapan masing-masing.
Pertemuan yang awalnya hanya berupa percakapan singkat di kedai kopi ternyata meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berarti daripada yang Kirana bayangkan.
Hari demi hari berlalu. Kirana menyusun kembali jadwal belajarnya, memperbaiki materi yang belum dikuasai, dan berusaha menjaga dirinya agar tidak larut dalam kebiasaan membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Sesekali, ia bertukar pesan dengan Nadya.
“Gimana belajarnya hari ini?” tanya Nadya suatu malam.
“Lumayan. Masih ada materi yang belum aku pahami.”
“Enggak apa-apa. Pelan-pelan aja. Yang penting jangan berhenti cuma karena hari ini terasa sulit.”
Kirana tersenyum membaca pesan itu.
“Kamu juga, ya. Semoga kita sama-sama berhasil.”
“Amin. Apa pun hasilnya nanti, setidaknya kita sudah berani mencoba lagi.”
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bagi Kirana bahwa perjuangan tidak selalu harus dijalani dengan keyakinan yang utuh.
Beberapa bulan kemudian, kesempatan itu datang kembali.
Kirana membuka laman pengumuman dengan tangan dingin dan jantung yang berdegup lebih cepat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memasukkan nomor pendaftarannya. Beberapa detik kemudian, sebuah tulisan muncul di layar.
Selamat! Anda dinyatakan lulus.
Kirana membeku. Ia membaca kalimat itu sekali lagi, memastikan bahwa matanya tidak salah menangkap kata-kata di hadapannya.
“Aku lulus?” bisiknya.
Kirana memejamkan mata. Kali ini, air matanya bukan lagi tentang kegagalan, melainkan tentang rasa lega karena ia berhasil bertahan ketika dirinya sendiri hampir kehilangan harapan.
Kirana membuka percakapan dengan Nadya.
“Aku lulus!”
Balasan Nadya datang tidak lama kemudian.
“AKU TAHU KAMU BISA! Selamat, Kirana! Kamu pantas mendapatkan ini.”
Kirana tersenyum sambil membaca pesan itu berulang kali. Ia tahu Nadya tidak mengetahui seluruh perjuangannya. Mereka hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu ketika salah satunya hampir kehilangan harapan. Namun, justru dari pertemuan sederhana itulah Kirana kembali menemukan keberanian untuk melanjutkan langkahnya.
Dinda juga akhirnya mengetahui kabar kelulusan itu.
“Kir, selamat, ya! Aku senang akhirnya kamu diterima.”
“Makasih, Din,” balas Kirana.
“Maaf kalau dulu aku sempat bikin kamu merasa enggak didukung. Aku cuma takut kamu kecewa lagi.”
Kirana membaca pesan itu dengan tenang sebelum membalas.
“Enggak apa-apa. Aku tahu mungkin maksudmu baik. Aku juga belajar kalau setiap orang punya cara berbeda dalam melihat perjuangan orang lain.”
Ia tidak menyimpan keinginan untuk membalas kekecewaan yang pernah dirasakannya. Ia hanya belajar menerima bahwa tidak semua orang mampu memberikan dukungan dalam bentuk yang ia butuhkan.
***
Pada hari pertama kuliah, Kirana berdiri di depan gedung fakultas sambil memandang mahasiswa yang berlalu-lalang. Ia memikirkan perjalanan panjang yang membawanya sampai ke tempat itu. Dua kali kegagalan, keraguan yang nyaris membuatnya berhenti, dan sebuah pertemuan singkat dengan seseorang yang bahkan awalnya tidak ia kenal.
Kini ia sadar bahwa tidak usah bingung kalau dukungan justru datang dari wajah yang tidak kamu kenali. Terkadang, orang yang tidak mengetahui masa lalumu mampu melihat harapan yang bahkan sudah sulit kamu temukan dalam dirimu sendiri. Mereka mungkin tidak bisa menyelesaikan masalahmu, tetapi satu kalimat tulus dari mereka dapat menjadi alasan untuk kembali melangkah.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment