Oleh: Rosani Margaretha Samosir
Laura pernah berpikir bahwa kebahagiaan berada di tempat yang jauh. Di kota besar, di antara gedung-gedung tinggi, dan di balik keberhasilan yang selama ini hanya berani ia impikan. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi, membawa harapan untuk mengubah nasib dirinya dan keluarga.
Namun, kehidupan di perantauan tidak semudah yang ia bayangkan. Ada tangis yang disembunyikannya di balik panggilan telepon bersama ibunya. Ada pula cerita tentang keadaannya yang baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak sepenuhnya demikian.
“Laura sehat, kan, Nak?” tanya ibunya suatu malam.
“Iya, Bu. Laura baik-baik saja. Ibu sama Ayah jangan khawatir, ya.”
Telepon berakhir dengan doa dan pesan ibunya agar ia tidak lupa makan. Laura tersenyum setelahnya, meski matanya mulai basah. Ia tahu, ada dua orang yang selalu menyebut namanya dalam doa, bahkan ketika dirinya sendiri mulai kehilangan keyakinan.
Hari demi hari berlalu. Laura terus berjuang, jatuh dan bangkit, sampai akhirnya ia mendapat kesempatan untuk pulang. Bukan karena semua masalahnya telah selesai, melainkan karena kerinduan terhadap tempat yang membuatnya merasa cukup semakin sulit ditahan.
Begitu tiba di depan rumah, langkahnya melambat.
Cat dindingnya semakin pudar. Pot-pot bunga di teras masih tersusun seperti dulu. Kursi kayu tempat ayah biasa duduk pada sore hari tetap berada di sudut yang sama. Tidak banyak yang berubah, tetapi entah mengapa, mata Laura terasa panas.
Ia membuka pintu.
“Laura?”
Suara ibunya terdengar dari dalam. Perempuan itu segera menghampirinya dan memeluknya erat, seolah ingin mengganti seluruh waktu yang mereka habiskan berjauhan.
“Pulang juga akhirnya,” bisik ibunya.
Laura membenamkan wajah di bahu ibunya. “Laura kangen, Bu.”
Ayahnya muncul dari ruang tengah, tersenyum kecil sambil mengambil koper dari tangan Laura.
“Sudah makan? Ibu masak makanan kesukaan kamu, lho.”
Sesederhana itu. Tidak ada pertanyaan tentang berapa banyak uang yang ia hasilkan, seberapa jauh ia melangkah, atau apa saja yang berhasil ia capai di kota orang. Mereka hanya ingin tahu apakah ia sudah makan, apakah keadaannya baik-baik saja, dan apakah kali ini ia bisa beristirahat dengan tenang.
Malam itu, Laura duduk bersama kedua orang tuanya di meja makan. Ia mendengarkan cerita-cerita kecil yang sempat terlewat, tertawa pada hal-hal sederhana, lalu diam-diam memperhatikan wajah mereka. Ia menyadari bahwa waktu tidak pernah menunggu. Garis-garis halus bertambah di wajah ibunya, sementara rambut ayahnya semakin memutih.
Laura merasa takut. Bukan takut gagal meraih cita-cita, melainkan takut terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa menikmati waktu bersama orang-orang yang menjadi alasannya untuk terus berjuang.
Setelah makan, ia berjalan mengelilingi rumah. Jemarinya menyentuh dinding yang dahulu menjadi saksi tingkah lakunya. Ia memandangi jendela tempat ia biasa menunggu ayah pulang, lalu berhenti di kamar kecil yang menyimpan begitu banyak kenangan. Di tempat itulah ia pernah menangis karena nilai yang buruk, tertawa bersama keluarga, dan menuliskan mimpi-mimpi yang terasa begitu jauh.
Dulu, tempat ini terasa terlalu kecil untuk menampung cita-citanya. Kini, setelah melihat dunia yang begitu luas, Laura justru mengerti bahwa tidak ada tempat lain yang mampu menggantikan kehangatan di dalamnya.
Ia ingin suatu hari nanti membangun hunian yang lebih baik untuk keluarganya. Tempat dengan dinding kokoh, halaman luas, dan segala hal yang dahulu hanya bisa mereka impikan. Namun, malam itu ia sadar bahwa yang paling ingin ia bahagiakan bukanlah bangunan yang kelak akan ia dirikan, melainkan keluarga yang telah lebih dahulu membesarkannya.
Rumah itu tidak pernah menuntut Laura menjadi hebat agar bisa diterima. Rumah itu selalu menyediakan ruang untuknya kembali, bahkan ketika dunia membuatnya merasa tidak memiliki tempat untuk bersandar.
Sebelum kembali ke kamar, Laura mendapati ayahnya tertidur di kursi ruang tengah, sementara televisi masih menyala pelan. Ia mengambil selimut dari sofa, lalu menyelimutkan tubuh ayahnya. Untuk sesaat, ia hanya berdiri di sana, memperhatikan wajah yang sejak kecil selalu tampak kuat di matanya.
“Yah, Laura udah pulang,” bisiknya lirih, meski tahu ayahnya tak akan mendengar.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan, begitu banyak terima kasih yang belum sempat ia ucapkan. Namun, malam itu Laura memilih diam. Ia ingin menyimpan pemandangan sederhana tersebut dalam ingatannya.
Barangkali, inilah kebahagiaan yang selama ini ia cari. Bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang masih memiliki orang-orang yang bisa ia sebut keluarga dan tempat yang selalu menerimanya tanpa syarat.
Laura berjalan menuju kamarnya. Sebelum tidur, ia memandangi langit-langit yang sudah dikenalnya sejak kecil. Setelah sekian lama, ia tidak lagi sibuk memikirkan apa yang harus dikejar esok hari. Malam itu, ia hanya ingin menikmati waktu yang ada.
Dari balik pintu, suara ibunya terdengar pelan.
“Besok jangan buru-buru pergi lagi, ya, Nak. Ibu masih mau cerita banyak sama Laura.”
Laura tersenyum, lalu menghampiri ibunya dan menggenggam tangannya.
“Iya, Bu. Laura mau tinggal lebih lama. Laura belum puas di sini.”
Ibunya tertawa kecil, mengusap kepala Laura seperti yang selalu dilakukannya sejak Laura kecil.
“Tempat ini selalu punya ruang buat kamu, kapan pun kamu mau kembali.”
Malam itu, Laura mengerti bahwa sejauh apa pun langkahnya pergi, akan selalu ada bagian dari dirinya yang tertinggal di tempat ini. Bukan sekadar kenangan tentang masa kecil, melainkan cinta yang diam-diam menguatkannya setiap kali dunia terasa terlalu berat.
Kepada rumah dengan dinding yang mulai menua, kepada meja makan yang menyimpan begitu banyak cerita, kepada suara-suara yang selalu dirindukannya, dan kepada seisinya yang tak pernah lelah menunggu kepulangannya.
Sebelum memejamkan mata, Laura tersenyum kecil dan berbisik dalam hati, “Kepada rumah dan seisinya, terima kasih telah menjadi tempat pertama aku mengenal cinta, tempat belajar bermimpi, dan alasan terbesarku untuk terus berjuang.”
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment