Home Tulisan Indonesia di FYP, Peran Media Sosial dalam Membentuk Identitas Kebangsaan Generasi Z
Tulisan

Indonesia di FYP, Peran Media Sosial dalam Membentuk Identitas Kebangsaan Generasi Z

Share

Oleh: Stevanie Aprilia br Tarigan, Renata Nifilih Harefa, Christine Karunia Laia,  Keysia Lamtiur Uli Manulu, Caroline Glady Cahyani Lase, Wahyu Nugroho, Raja Rafaeyza Sunge

Di sela-sela video hiburan, tren lagu, dan unggahan keseharian, layar ponsel Generasi Z juga menyimpan cerita tentang Indonesia. Melalui halaman For You Page (FYP) di TikTok maupun unggahan Instagram, pengguna dapat menemukan makanan khas, bahasa daerah, tradisi, destinasi wisata, hingga kehidupan masyarakat dari berbagai wilayah. Tidak jarang, konten semacam itu memperkenalkan daerah yang sebelumnya belum pernah mereka kenal.

Media sosial kini menjadi bagian dari keseharian anak muda. Platform digital bukan hanya digunakan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi salah satu sumber informasi mengenai budaya dan keberagaman. Konten bertema Indonesia bahkan dapat muncul ketika pengguna tidak secara khusus mencarinya. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, media sosial membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas.

Kedekatan anak muda dengan media sosial juga terlihat dalam survei deskriptif terhadap 60 mahasiswa berusia 17–21 tahun yang aktif menggunakan TikTok dan/atau Instagram serta pernah melihat konten bertema Indonesia. Survei yang dilakukan secara daring melalui Google Forms ini menggunakan pertanyaan tertutup dan dua pertanyaan terbuka. Jawaban responden kemudian dianalisis berdasarkan frekuensi, persentase, dan pengelompokan tema. Hasilnya menggambarkan pengalaman dan persepsi responden, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.

Dari survei tersebut, TikTok menjadi platform yang paling banyak digunakan responden, dengan persentase 53,33 persen. Instagram menyusul sebesar 45 persen, sedangkan X sebesar 1,67 persen. Dari segi durasi penggunaan, sebanyak 46,67 persen responden menghabiskan satu hingga tiga jam sehari di media sosial. Sebanyak 26,67 persen menggunakannya selama tiga hingga lima jam, sementara 16,67 persen menghabiskan lebih dari lima jam.

Kedekatan media sosial dengan rutinitas sehari-hari tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk menemukan berbagai informasi tentang Indonesia. Di antara waktu yang dihabiskan untuk mengikuti tren, menonton hiburan, dan melihat unggahan teman, terdapat kesempatan untuk mengenal budaya serta kehidupan masyarakat dari berbagai daerah. Sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dapat hadir di layar ponsel melalui sebuah video singkat.

Hal ini terlihat dari jawaban responden. Sebanyak 86,67 persen menyatakan pernah mengenal suatu daerah di Indonesia melalui media sosial. Sementara itu, 85 persen merasa media sosial membantu mereka mengenal budaya dan tradisi Indonesia. Ketertarikan terhadap konten lokal juga cukup tinggi. Sebanyak 48,33 persen responden setuju dan 31,67 persen sangat setuju bahwa mereka tertarik menonton konten tentang budaya, makanan, wisata, atau kehidupan masyarakat Indonesia.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa video singkat maupun unggahan kreator dapat menjadi pintu awal untuk mengenal keberagaman negeri sendiri. Melalui video kuliner, misalnya, pengguna dapat mengetahui makanan khas suatu daerah. Sementara itu, konten perjalanan wisata dan pertunjukan seni tradisional dapat memperkenalkan keindahan alam, kebiasaan, serta kehidupan masyarakat yang sebelumnya belum banyak mereka ketahui.

Di balik beragam konten tersebut, kreator dan influencer turut berperan dalam menyampaikan cerita tentang Indonesia. Tren lagu daerah, video kuliner, perjalanan wisata, dan konten hiburan membuat pengenalan budaya berlangsung secara ringan dan mudah dibagikan. Proses mengenal budaya pun tidak selalu berlangsung di ruang kelas atau melalui materi pembelajaran formal. Pengalaman sehari-hari ketika menjelajahi media sosial juga dapat mempertemukan pengguna dengan tradisi dan kehidupan masyarakat yang beragam.

Pengaruh konten budaya tidak berhenti pada pengetahuan tentang suatu daerah. Sebanyak 75 persen responden menyatakan bahwa pandangan mereka mengenai Indonesia menjadi lebih luas setelah melihat beragam konten di media sosial. Dalam jawaban terbuka, responden juga mengaitkan konten budaya dengan tumbuhnya toleransi, kebanggaan, dan kesadaran terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang untuk mengenal perbedaan dan memahami keberagaman. Ketika generasi muda terpapar cerita tentang tradisi, bahasa, dan kehidupan masyarakat dari berbagai wilayah, mereka memiliki kesempatan untuk melihat Indonesia dari perspektif yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan nilai Pancasila, terutama semangat persatuan dalam keberagaman dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Meski demikian, arus informasi digital juga memiliki tantangan. Konten yang informatif dapat memperluas wawasan, tetapi informasi keliru, ujaran kebencian, dan unggahan provokatif juga dapat menyebar dengan cepat. Banyaknya konten tentang Indonesia tidak otomatis menjamin pemahaman yang tepat terhadap budaya maupun persoalan yang ditampilkan.

Karena itu, pengguna perlu memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan tidak langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi. Literasi digital menjadi penting agar media sosial dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Kreator juga perlu menyampaikan informasi secara akurat serta menghormati masyarakat dan budaya yang ditampilkan dalam konten mereka.

Survei tersebut turut menunjukkan bahwa 66,66 persen responden memandang media sosial sebagai cara baru untuk mengenal Indonesia. Angka ini memperlihatkan bahwa ruang digital menjadi salah satu jalur bagi mahasiswa untuk menemukan cerita tentang budaya dan keberagaman negeri sendiri. Namun, temuan tersebut tetap terbatas pada pengalaman 60 responden sehingga belum dapat mewakili seluruh Generasi Z ataupun menyimpulkan bahwa media sosial secara langsung membentuk identitas kebangsaan.

Pada akhirnya, FYP bukan sekadar tempat mengikuti tren atau mencari hiburan. Di antara video yang muncul setiap hari, terdapat kesempatan untuk mengenal daerah, menghargai tradisi, dan memahami keberagaman masyarakat Indonesia. Media sosial dapat menjadi jendela untuk melihat negeri sendiri dari sudut pandang yang berbeda, selama informasi yang diterima disikapi secara kritis.

Mengenal Indonesia melalui layar ponsel dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap keberagaman. Namun, identitas kebangsaan tidak terbentuk hanya dari apa yang dilihat di media sosial, melainkan juga dari bagaimana seseorang memahami, menghargai, dan menyikapi perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

​Artikel ini merupakan publikasi dari tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.