Oleh: Ezra Adelia Sinaga
Lampu jalan di tikungan gang nomor tiga mati lagi. Sudah seminggu dibiarkan begitu. Di bawah remang sinarnya yang redup, Rian menghentikan motor matiknya, mematikan mesin, lalu membiarkan sunyi merayap perlahan mengisi sela-sela napasnya.
Bahu Rian pegal luar biasa. Laptop di dalam tas punggungnya terasa menekan pundak, makin berat setelah seharian penuh duduk menatap layar monitor dan mendengarkan celotehan bos dari pagi sampai sore. Jalanan kota tempatnya mengadu nasib terasa makin hari makin membuat riuh, memburu siapa saja yang melangkah lambat.
Ia memandangi pagar besi cat hijau di depannya. Catnya sudah banyak yang terkelupas, mengelupas kecokelatan dimakan karat. Di balik pagar itu berdiri rumah beratap genteng tua yang sejak Rian lahir sampai usianya menginjak dua puluh empat tahun sekarang, bentuknya tak pernah berubah.
Rian merogoh saku celananya, mengambil seikat kunci. Di antara kunci kosan kota dan kunci motornya, ada satu kunci tua berbahan kuningan yang geriginya sudah agak aus. Kunci yang sama sejak ia masih berseragam sekolah dasar.
Rian melangkah pelan mendekati pintu kayu jati yang warnanya memudar. Baru saja tangannya terulur hendak memasukkan anak kunci ke lubangnya, bunyi gerendel dari dalam lebih dulu terdengar. Pintu itu terbuka sedikit.
Sesosok wanita paruh baya berdiri di sana. Daster kain santungnya sudah melar di bagian leher. Wajahnya dipenuhi lipatan garis pipi yang memanjangkan cerita tentang waktu. Rambut putihnya menimbun warna hitam yang tersisa.
“Sudah pulang, Le?” suara Ibu terdengar pelan, agak serak karena terbangun dari tidur ayamnya.
Rian menarik tangannya kembali. “Iya, Bu. Kok belum tidur? Kan Rian sudah bilang di WhatsApp tadi, nggak usah ditunggu. Rian bawa kunci.”
Ibu cuma tersenyum tipis, membuka pintu lebih lebar agar udara malam yang berembun mengalir keluar. “Ibu cuma ketiduran di kursi depan. Nanti kalau pintu dikunci dari dalam pakai selot bawah, kamu susah bukanya dari luar.”
Rian masuk, melepas sepatu ketsnya yang berdebu di sudut teras. Bau minyak kayu putih dan aroma nasi hangat langsung menyengat indra penciumannya—bau khas yang tidak pernah Rian temukan di kamar kosnya yang wangi pelembut pakaian mahal.
Di meja makan kecil berlapik taplak plastik gambar buah-buahan, sudah ada tudung saji yang tertutup rapat. Ibu berjalan agak sedikit pincang mendekati meja itu. Lutut kirinya memang sering kambuh kalau udara malam mulai menggegat tulang.
“Makan dulu. Ada oseng tempe sama telur balado. Masih hangat, tadi jam sembilan Ibu panasi lagi,” kata Ibu sambil meletakkan piring kaca bening.
“Iya, Bu. Nanti Rian makan. Mau cuci muka dulu,” balas Rian pelan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyesak di dadanya, bertabrakan dengan rasa lelah luar biasa yang ia bawa dari luar.
Rian berjalan ke kamar mandi di belakang. Di tengah jalan, ia melewati kamar orang tuanya yang pintunya terbuka separuh. Di atas tempat tidur, Bapak sedang tertidur lelap dengan selimut sarung. Napasnya teratur, sedikit berdengkur. Di atas meja samping tempat tidur Bapak, Rian melihat beberapa botol obat generik untuk tekanan darah tinggi yang label harga tebusnya terbaring di sampingnya.
Rian mematung di depan cermin kamar mandi. Ia memandangi bayangannya sendiri. Wajahnya nampak kusam, matanya sayu akibat kurang tidur dan layar monitor.
Setahun terakhir ini, Rian selalu merasa lelah. Ia mengejar kerjaan, mengejar tabungan, mengejar gengsi agar terlihat berhasil saat berkumpul bersama kawan-kawan lamanya di kafe-kafe kota. Setiap hari rasanya ia diburu waktu. Kalau telat sedikit, ia merasa akan ketinggalan jauh.
Tapi malam ini, berdiri di rumah tua ini, Rian baru menyadari satu hal yang luput dari matanya selama ini. Waktu ternyata tidak hanya berjalan di tempatnya mengadu nasib. Waktu juga berjalan di rumah ini—bahkan terasa lebih cepat.
Langkah kaki Ibu makin pelan. Dahi Bapak makin berkerut. Botol obat di kamar makin bertambah jumlahnya.
Rian keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi kayu meja makan. Ibu menyodorkan segelas air putih hangat. Rian memperhatikan jari-jari tangan Ibunya yang kasar, kulitnya keriput, dan kuku jarinya yang tidak lagi sesegar dulu.
“Bu,” panggil Rian pelan sambil memegang piring.
“Kenapa, Le? Lauknya kurang?”
“Enggak, Bu. Pas,” Rian menggeleng. Ia menyuap nasi itu perlahan. Rasanya sederhana, jauh dari masakan warung yang saban hari ia beli di dekat kantor. Tapi ada rasa tenang yang mendadak memenuhi dadanya.
“Kemarin tempat kosmu gimana? Aman?” tanya Ibu pelan sambil merapikan letak tudung saji.
“Aman, Bu. Cuma ya gitu, sepi,” jawab Rian. “Di luar sana semuanya serba cepat. Semua orang kayak buru-buru, sibuk sama urusan masing-masing. Kalau di kosan, rasanya cuma kayak tempat mampir tidur.”
Ibu menatap Rian, matanya teduh. “Ya memang gitu kalau di kota. Makanya, sejauh apa pun kamu jalan, selagi Ibu sama Bapak masih ada, kamu selalu punya tempat balik. Pintu rumah ini nggak akan pernah berubah buat kamu.”
Rian berhenti mengunyah. Tenggorokannya mendadak terasa menyempit.
Kata-kata Ibu menyengat dadanya. Di luar sana, dunia selalu menuntut Rian untuk berubah, menyesuaikan diri, bertumbuh cepat, dan terkadang menyembunyikan rasa lelahnya. Tapi di rumah ini, di tempat yang tidak pernah mengubah caranya menyambut Rian, ia selalu diterima apa adanya tanpa syarat.
“Nanti kalau libur panjang, enggak usah buru-buru balik ke kota lagi ya, Le. Di rumah saja beberapa hari. Bapakmu itu sebenarnya kangen, cuma gengsi mau ngomong,” lanjut Ibu lembut.
Rian menunduk dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang mulai membasah di balik uap nasi yang tipis. Ia mengangguk pelan.
“Iya, Bu. Rian libur agak lama kali ini.”
Di luar, angin malam meniup dedaunan pohon mangga di pekarangan. Rian menyadari, rumah ini dan kasih orang tuanya adalah kunci yang tak pernah diganti—selalu pas, selalu membuka pintu kebuntuannya, kapan pun ia butuh melangkah pulang.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment