Oleh: Erni Yuli Simatupang
Suara USU, Medan. Nama Riki Candra mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa berprestasi Universitas Sumatera Utara (USU). Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USU angkatan 2022 ini telah berhasil menorehkan sederet prestasi gemilang di tingkat nasional hingga internasional, mulai dari menyabet Juara 1 Business Plan dalam National Agricultural Competition di Universitas Jambi, Juara 1 International Poster Electrical Contest, hingga Juara 1 Internasional FPCI USU Paper Competition. Namun, di balik berderet piala dan penghargaan yang menghiasi perjalanannya, Riki tidak serta-merta meraihnya dengan mudah. Ada perjalanan panjang bertabur kegagalan yang harus ia lalui sebelum akhirnya berdiri sebagai seorang juara. Bagi Riki, setiap kekalahan bukanlah akhir, melainkan sebuah ruang untuk belajar dan mengenali potensi diri secara lebih mendalam.
Perjalanan Riki di arena kompetisi bermula pada semester dua perkuliahan, tepatnya pada tahun 2023. Ketertarikannya mulai tumbuh saat ia melihat beberapa kakak tingkat (kating) di organisasinya tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki segudang prestasi. Terpicu oleh pencapaian para seniornya, timbul keinginan kuat dalam diri Riki untuk mengikuti jejak mereka, mengasah potensi akademis, sekaligus memperoleh penghasilan mandiri dari hadiah perlombaan. “Awalnya itu karena melihat banyak kating yang dikenal di organisasi berprestasi, jadinya saya juga termotivasi ingin berprestasi dan juga ingin mendapatkan banyak uang,” ungkap Riki.
Langkah awalnya di dunia kompetisi kian mantap saat ia berhasil menyabet Juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) untuk pertama kalinya pada awal tahun 2023. Pengalaman perdana tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan akademisnya. Selain merasakan kepuasan atas hasil kerja keras sendiri, ia juga menerima dana apresiasi dari pihak kampus. Pengalaman inilah yang memantapkan niat Riki untuk menekuni dunia perlombaan secara lebih fokus dan konsisten.
Sejak saat itu, Riki berani menjajal berbagai cabang lomba, mulai dari olimpiade, cerdas cermat, penulisan cerita pendek (cerpen), karya tulis ilmiah, esai, poster, infografis, business case, business plan, hingga penulisan artikel ilmiah. Beragam kompetisi tersebut memberinya ruang untuk memperluas pemikiran, mengasah ketajaman analisis masalah, serta merumuskan gagasan dan solusi yang inovatif.
Ketekunannya berbuah manis melalui deretan pencapaian membanggakan. Riki tercatat pernah meraih Juara 1 Nasional Esai dalam Glory Fest Dies Natalis 12.0 Competition, Juara 1 Nasional Poster Educuption 3.0, Juara 1 International Poster Electrical Contest, Juara 1 Internasional FPCI USU Paper Competition, serta Juara 1 Business Plan dalam National Agricultural Competition.
Di antara sekian banyak kemenangan, ajang National Agricultural Competition di Universitas Jambi menjadi salah satu kenangan yang paling berkesan bagi Riki. Tampil bersama timnya, ia berhasil membawa pulang tiga penghargaan sekaligus, yakni Juara 1, Best Presentation, dan Best Paper. Pencapaian besar tersebut menghadirkan perasaan bangga dan haru yang mendalam setelah melewati proses persiapan panjang demi menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Riki, kunci sukses dalam berkompetisi tidak hanya terletak pada keberanian untuk mendaftar, melainkan pada proses persiapan yang terstruktur. Perjalanan itu dimulai dari memilih perlombaan yang tepat, membentuk komposisi tim yang solid, hingga merumuskan ide strategis yang ingin diusung. Tahap awal biasanya ia mulai dengan membedah informasi lomba, disusul diskusi mendalam bersama tim untuk membedah isu-isu relevan sebelum merancang solusi yang tepat sasaran. Setiap anggota tim juga diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, memperhitungkan berbagai opsi, serta menyusun solusi komprehensif. Melalui proses itulah Riki terus menyerap pembelajaran dan pengalaman baru sebagai bahan evaluasi untuk kompetisi-kompetisi berikutnya.
Kendati demikian, perjalanan Riki tidak selalu diwarnai kemenangan. Ia mengaku bahwa jumlah kegagalan yang ia alami jauh lebih banyak dibandingkan dengan piala yang berhasil ia bawa pulang. Namun, pengalaman pahit tersebut mengajarkannya bahwa kekalahan bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sarana evaluasi diri yang sangat berharga jika disikapi dengan bijak. “Lebih banyak gagalnya daripada menangnya. Cara menyikapinya adalah dengan belajar dari kesalahan sebelumnya dan terus memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta mau belajar banyak hal untuk bisa memenangkan berbagai perlombaan,” ungkapnya.
Semangat untuk terus bertumbuh itu ia landasi dengan prinsip hidup sederhana, yakni selalu berusaha menjadi “gelas kosong”. Riki yakin bahwa proses belajar tidak boleh terhalang oleh pengetahuan yang sudah dimiliki atau batasan dari mana ilmu itu berasal. Dengan tetap terbuka pada pengalaman dan perspektif baru, ia memberi ruang luas bagi dirinya untuk terus bertumbuh, baik secara pribadi maupun akademis. “Prinsipnya tentunya selalu berusaha menjadi gelas kosong di mana pun itu dan di kegiatan apa pun, termasuk perlombaan. Selalu belajar dari mana pun sumber ilmu yang ada tanpa membatasi diri dari mana pun sumber ilmunya, sehingga diri bisa terus bertumbuh dan berprogres tiap harinya,” pungkasnya.
Prinsip tersebut turut ia terapkan dalam menjaga keseimbangan aktivitas harian. Di luar jadwal kuliah dan ajang perlombaan, Riki juga menjalani pekerjaan sampingan (part-time) serta mengelola proyek di bidang edukasi. Kepadatan agenda tersebut menuntutnya untuk disiplin mengatur waktu dan menetapkan alur prioritas yang jelas agar seluruh tanggung jawab dapat terselesaikan dengan baik.
Strategi yang ia gunakan adalah dengan menyusun timeline kerja yang rapi dan memprioritaskan tugas-tugas utama. Baginya, pembagian waktu menjadi seni tersendiri mengingat setiap aktivitas membutuhkan perhatian dan energi yang berbeda. Lewat perencanaan yang cermat, kegiatan akademik, pekerjaan, proyek edukasi, dan kompetisi dapat berjalan selaras.
Di balik semua pencapaian itu, dukungan penuh dari kedua orang tua menjadi pilar pendorong utama bagi Riki. Selain itu, jejaring relasi yang ia bangun bersama sesama peserta lomba serta kegigihannya untuk tidak mudah menyerah menjadi kunci penting lainnya. Setiap ajang kompetisi selalu menjadi wadah baginya untuk memperluas jaringan, bertukar gagasan, dan menimba wawasan baru.
Manfaat kompetisi yang ia rasakan pun meluas ke luar area perlombaan. Deretan sertifikat kejuaraan yang berhasil dihimpun menjadi portofolio bernilai saat mendaftar ke berbagai program pengembangan diri, sementara relasi yang terjalin memperluas lingkaran pertemanannya. Pengalaman tersebut juga secara bertahap memupuk rasa percaya dirinya untuk berani mengambil tantangan baru yang lebih besar.
Bagi Riki, makna sebuah prestasi tidak semata-mata dihitung dari banyaknya piala yang berjejer di lemari. Prestasi adalah bentuk pembuktian atas dedikasi dan kerja keras, sekaligus tolak ukur bahwa ia terus mengalami kemajuan dari hari ke hari. Kemenangan memberi indikasi sejauh mana kemampuannya telah berkembang, sedangkan kekalahan mengingatkannya bahwa masih ada hal-hal baru yang harus ia pelajari. “Arti sebuah prestasi bagi saya adalah sebuah pencapaian dan pembuktian diri atas kerja keras yang sudah saya jalankan. Prestasi sebagai bukti dan tolok ukur kalau saya menguasai suatu materi lomba tertentu dan sebagai bukti bahwa saya terus berproses serta berkembang setiap harinya,” ujarnya.
Meski target perlombaan di tingkat nasional sebagian besar telah berhasil diraih, Riki tidak berniat untuk berhenti. Ia masih menyimpan impian untuk menjajal kompetisi di kancah internasional di luar negeri sebagai pijakan karier dan prestasi selanjutnya.
Kepada rekan-rekan mahasiswa yang baru hendak memulai langkah di dunia kompetisi, Riki berpesan agar tidak gentar menghadapi kegagalan. Ia mengajak mereka untuk menjadikan setiap kekalahan sebagai bahan pembelajaran dan terus bersikap proaktif. “Dalam dunia kompetisi, menang kalah hal yang biasa. Jadi, tetap belajar terus dari pengalaman kekalahan sebelumnya dan terus dicoba lomba-lombanya sampai mendapatkan juara. Harus bisa proaktif dalam mencari teman-teman lomba juga,” pesannya.
Perjalanan Riki Candra memberikan gambaran nyata bahwa prestasi tidak hanya diukir dari manisnya kemenangan, tetapi juga dari keberanian untuk bangkit dari setiap kegagalan. Dari seorang mahasiswa yang terinspirasi oleh pencapaian seniornya, Riki melangkah jauh melampaui batas dirinya melalui ketekunan, evaluasi, dan prinsip “gelas kosong” yang terus ia genggam. Bagi Riki, setiap pencapaian hari ini hanyalah awal dari proses belajar yang tidak akan pernah berhenti.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment