Home Film The Boy, The Mole, The Fox, and The Horse
Film

The Boy, The Mole, The Fox, and The Horse

Share

Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga

Suara USU, Medan. “What do you want to be when you grow up?” (Apa yang ingin kamu lakukan ketika dewasa?) tanya seekor tikus tanah kepada seorang anak. “Kind” (Menjadi baik), jawabnya. “Nothing beats kindness. It sits quietly beyond all things” (Tidak ada yang mengalahkan kebaikan. Ia hadir dengan tenang di atas segalanya).

Jawaban anak itu terdengar sederhana. Mungkin juga terlalu sederhana bagi pertanyaan yang sering kita terima ketika kecil. Kita terbiasa membayangkan akan menjadi dokter, guru, seniman, atau berbagai hal lain ketika dewasa. Jarang sekali “menjadi baik” muncul sebagai jawaban. Namun, justru dari percakapan singkat inilah The Boy, the Mole, the Fox and the Horse mulai menunjukkan bagaimana sebuah cerita yang ditujukan kepada anak-anak juga dapat berbicara kepada orang dewasa.

Film animasi pendek berdurasi sekitar 34 menit ini diadaptasi dari buku bergambar karya Charlie Mackesy dengan judul yang sama. Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 2019 dan dikenal melalui ilustrasi sederhana serta percakapan antara seorang anak laki-laki dan tiga hewan yang ditemuinya dalam perjalanan. Pada 2022, Mackesy bersama Peter Baynton mengadaptasinya menjadi film animasi yang mempertahankan ciri visual buku tersebut melalui animasi gambar tangan.

Cerita mengikuti seorang anak laki-laki yang sedang tersesat dan mencari rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seekor tikus tanah, rubah, dan kuda. Keempatnya kemudian berjalan bersama dan berbicara tentang hal-hal yang tampak sederhana, seperti kebaikan, keberanian, rasa takut, kesepian, dan persahabatan.

Kesederhanaan itu menjadi salah satu daya tarik film ini. Secara bentuk, The Boy, the Mole, the Fox and the Horse sangat dekat dengan cerita anak. Tokohnya berupa seorang anak dan tiga hewan, visualnya menyerupai ilustrasi buku yang bergerak, dan ceritanya mudah diikuti. Namun, tema yang dibicarakan dapat terasa sangat dekat dengan pengalaman orang dewasa. Karena itu, satu dialog dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap penonton. Seseorang mungkin melihatnya sebagai cerita tentang persahabatan, sementara orang lain dapat menemukan pengalaman tentang kesepian, kehilangan, atau masa ketika mereka sendiri merasa tidak tahu harus menuju ke mana.

Salah satu percakapan yang menarik muncul ketika mereka membicarakan arti “rumah” dengan versinya masing-masing. Tikus tanah menggambarkan rumah dengan dinding, atap, bel di atas pintu, dan kue di setiap jendela. Gambaran itu terdengar seperti toko kue, sesuatu yang konkret dan dekat dengan kesukaannya. Sementara itu, anak laki-laki tersebut berkata, “I think home is somewhere warm and kind, with lights” (Menurutku, rumah adalah tempat yang hangat dan baik, dengan cahaya). Jawaban itu memberi makna berbeda. Rumah tidak lagi sekadar bangunan yang memiliki alamat, melainkan tempat yang membuat seseorang merasa aman dan diterima.

Gagasan mengenai kehidupan batin juga muncul dalam percakapan, “Isn’t it odd? We can only see our outsides, but nearly everything happens on the inside?” (Bukankah aneh? Kita hanya bisa melihat bagian luar diri kita, padahal hampir semuanya terjadi di dalam diri?). Kalimat ini menggambarkan cara film memandang manusia. Apa yang dialami seseorang tidak selalu terlihat dari luar. Rubah, misalnya, membawa pengalaman kehilangan yang membuatnya sulit mempercayai orang lain. Hubungannya dengan anak laki-laki, tikus tanah, dan kuda kemudian menjadi bagian dari prosesnya untuk kembali membuka diri.

Selain percakapan para tokohnya, visual ilustratif menjadi bagian penting dari daya tarik film ini. Animasi gambar tangan mempertahankan kesan seperti melihat buku bergambar yang hidup. Pendekatan tersebut mendukung suasana cerita yang tenang dan intim, sehingga percakapan sederhana para tokoh menjadi pusat perhatian.

Meski begitu, film ini tidak selalu luput dari sentimentalitas. Banyak dialognya terdengar seperti kalimat yang memang dirancang untuk diingat dan direnungkan. Bagi sebagian penonton, pendekatan tersebut mungkin terasa terlalu manis dan kurang alami. Film ini juga tidak memberikan ruang panjang untuk mengembangkan setiap karakter karena durasinya hanya sekitar 34 menit. Akibatnya, beberapa gagasan lebih banyak disampaikan melalui dialog daripada perkembangan cerita. Namun, kesederhanaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari bentuk film ini. Ia tidak membutuhkan cerita yang rumit untuk menyampaikan gagasannya.

Menjelang akhir cerita, anak laki-laki bertanya, “Home isn’t always a place, is it?” (Rumah tidak selalu merupakan sebuah tempat, bukan?). Pertanyaan itu mengembalikan perjalanan mereka pada sesuatu yang sejak awal dicari sang anak. Ia memang berangkat untuk menemukan rumah, tetapi selama perjalanan justru menemukan orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya. Rumah akhirnya dapat dimaknai sebagai rasa aman, penerimaan, dan hubungan dengan orang lain.

The Boy, the Mole, the Fox and the Horse memang dimulai dengan seorang anak yang mencari rumah, tetapi yang ditemukan penonton bisa sangat berbeda: sebuah pengingat tentang kebaikan, keberanian, atau kebutuhan sederhana untuk mencintai serta dicintai.

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.