Home Film The Willoughbys dan Makna Keluarga yang Tumbuh dari Kepedulian
Film

The Willoughbys dan Makna Keluarga yang Tumbuh dari Kepedulian

Share

Oleh: Intan Nurhaliza

Suara USU, Medan. Terkadang, kita berdiri di depan pintu rumah sendiri, tetapi justru merasa seperti seorang tamu. Koper belum dibuka, tetapi kepala sudah menghitung tanggal dan hari untuk pergi lagi dari sana. Terdengar mengada-ada, bukan? Namun, film The Willoughbys memilih untuk tidak mengabaikan perasaan tersebut dan menuangkannya ke dalam karya yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Film yang dirilis pada 22 April 2020 ini pertama kali tayang di Netflix. Diadaptasi dari novel karya Lois Lowry, film animasi ini disutradarai oleh Kris Pearn. Sejumlah pengisi suaranya antara lain Will Forte, Alessia Cara, Maya Rudolph, Terry Crews, serta Ricky Gervais sebagai kucing yang menceritakan kisah keluarga Willoughby.

Awalnya, film ini terlihat seperti tontonan anak-anak biasa dengan animasi berwarna cerah, karakter lucu, serta humor ringan. Namun, seiring berjalannya cerita, penonton seolah dibawa ke sebuah rumah besar yang terasa dingin. Di sana, tinggal empat saudara yang tidak satu pun merasa diinginkan.

Tim (Will Forte), sebagai anak sulung, sejak kecil memegang teguh prinsip bahwa seorang Willoughby tidak meminta-minta dan tidak menyerah. Prinsip tersebut ia pegang karena merasa tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri. Jane (Alessia Cara), anak kedua, gemar menyanyi dan menulis, meskipun ia tak pernah benar-benar didengar. Dua adik bungsu mereka adalah sepasang kembar yang sama-sama bernama Barnaby. Keduanya tumbuh tanpa banyak diperhatikan.

Orang tua mereka, Tuan dan Nyonya Willoughby (Martin Short dan Jane Krakowski), hanya memedulikan satu sama lain. Tenggelam dalam romansa sendiri, mereka memperlakukan kehadiran anak-anak sebagai gangguan. Anak-anak tidak diberi makanan yang layak, dihukum tanpa alasan yang jelas, dan dibiarkan tumbuh sendiri di dalam rumah warisan keluarga yang megah, tetapi terasa seperti tanpa penghuni.

Menariknya, The Willoughbys tidak sekadar menjelaskan siapa yang salah, tetapi membiarkan penonton merasakan dinginnya suasana rumah melalui sudut pandang anak-anak. Tim merasa harus selalu kuat, Jane mencari perhatian dengan caranya sendiri, sedangkan kedua Barnaby tumbuh tanpa banyak didengar. Dari sudut pandang mereka, penonton diajak memahami bahwa luka tidak hanya datang dalam bentuk kekerasan, tetapi juga dapat lahir dari ketidakhadiran dan kurangnya perhatian.

Luka itulah yang kemudian menggerakkan cerita. Sebuah rencana untuk menyingkirkan orang tua mereka mengubah arah kehidupan keempat anak Willoughby. Mereka kemudian menghadapi berbagai pengalaman yang membuat mereka mempertanyakan arti keluarga, rumah, dan ikatan darah.

Linda (Maya Rudolph), seorang pengasuh dengan kepribadian hangat, menjadi salah satu tokoh yang mengubah kehidupan keempat anak Willoughby. Linda bukan sosok sempurna. Ia ceroboh dan terkadang salah bicara, tetapi ia hadir untuk merawat mereka. Kehadirannya perlahan menguji keyakinan Tim, yang selama ini menganggap bahwa semua orang dewasa pada akhirnya akan meninggalkan mereka. Linda menunjukkan kepada Tim dan penonton bahwa kepedulian tidak harus disertai syarat.

Dari situlah pesan utama The Willoughbys mulai terasa. Sutradara Kris Pearn menjelaskan bahwa film ini mengangkat gagasan bahwa cinta merupakan pilihan, bukan kewajiban. Keluarga tidak hanya ditentukan oleh nama atau hubungan darah, tetapi juga oleh orang-orang yang memilih untuk saling menyayangi. Kehangatan tersebut bisa datang dari sahabat, kerabat, tetangga, atau orang lain yang kita percaya.

Pesan itu membuat The Willoughbys berbeda dari film keluarga pada umumnya. Film ini tidak menggambarkan anak-anak sebagai sosok yang selalu benar, tetapi juga tidak serta-merta membenarkan tindakan orang tua mereka. Tim, Jane, dan kedua Barnaby memiliki kekurangan masing-masing, sementara Tuan dan Nyonya Willoughby tetap harus bertanggung jawab atas sikap mereka yang mengabaikan anak-anaknya. Hubungan keluarga tidak otomatis menjamin adanya kasih sayang.

Menjelang akhir film, lagu I Choose yang dibawakan Alessia Cara mengiringi perjalanan Jane dalam menemukan keberanian untuk menyuarakan dirinya. Sepanjang cerita, Jane gemar menyanyi, tetapi kemampuannya kerap diabaikan. Lagu tersebut memperkuat pesan film tentang keberanian memilih orang-orang yang menerima dan menyayangi kita.

Pada akhirnya, film ini bukan hanya soal keluarga Willoughby, melainkan juga tentang mereka yang pernah merasa asing di rumah sendiri. Pengalaman tersebut mungkin dekat dengan sebagian mahasiswa yang memilih tinggal di kos bukan semata-mata karena jarak, tetapi juga karena rumah tidak lagi terasa nyaman. Kesibukan orang tua, tuntutan yang tidak pernah selesai, atau komunikasi yang menekan dapat membuat pulang terasa berat.

Film ini memberi ruang bagi perasaan tersebut tanpa menghakimi. Rumah bisa terasa asing, bahkan ketika kita tinggal di dalamnya. Namun, keluarga juga dapat tumbuh dari kepedulian yang nyata. Di kos bersama teman, organisasi kampus, komunitas hobi, atau lingkaran pertemanan yang saling menjaga, sebagian mahasiswa mungkin menemukan rasa aman yang selama ini mereka cari.

The Willoughbys tidak menjanjikan bahwa setiap keluarga bisa diperbaiki ataupun meminta penontonnya untuk memaafkan begitu saja. Film ini mengingatkan bahwa rumah bukan sesuatu yang selalu kita dapatkan begitu saja. Kadang, rumah adalah sesuatu yang dibangun sendiri, sedikit demi sedikit, bersama orang-orang yang benar-benar memilih untuk tinggal.

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.