Home Opini Transformasi Bahasa Generasi Z di Tengah Arus Globalisasi
Opini

Transformasi Bahasa Generasi Z di Tengah Arus Globalisasi

Share

Oleh: Muhammad Ar Rofi Nasution

Suara USU, Medan. Dewasa ini, globalisasi semakin memudarkan batas antarnegara, termasuk dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Perkembangan globalisasi turut membentuk bahasa yang digunakan anak muda menjadi fenomena lintas budaya yang berkembang dengan cepat. Konektivitas digital memungkinkan istilah, gaya tutur, serta referensi budaya menyebar sangat cepat dari satu negara ke negara lainnya. 

Dalam hal ini, media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pola komunikasi, terutama melalui penggunaan bahasa yang singkat, visual, dan padat makna. Algoritma platform juga ikut menentukan istilah mana yang menjadi populer, sebab paparan berulang melalui halaman rekomendasi mempercepat adopsi kosakata baru dari kelompok kecil menjadi tren luas.

Berbagai dialek atau ragam bahasa yang dimodifikasi dari bahasa asing dan kerap digunakan oleh kalangan anak muda dikenal sebagai bahasa gaul. Generasi Z (Gen Z) menjadi salah satu kelompok yang dominan dalam menggunakan sekaligus menciptakan beragam bahasa gaul. Hal ini karena bahasa gaul dinilai lebih praktis dalam komunikasi sehari-hari serta memiliki fungsi sosial yang kuat dalam membangun identitas dan kedekatan antarsesama.

Dilansir dari Kompas.com, Dhoni Zustiyantoro selaku peneliti bahasa dan budaya Universitas Negeri Semarang, memaparkan bahwasanya munculnya bahasa gaul ala Gen Z sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital, terutama media sosial. Paparan terhadap berbagai budaya dan gaya komunikasi membuat generasi ini terbiasa menyerap istilah baru lalu memodifikasinya sesuai konteks pergaulan mereka. Ia juga menyoroti bahwa Gen Z bukan hanya konsumen bahasa, melainkan turut aktif menciptakan dan mengkreasikan kosakata baru, sebuah kapasitas kreatif yang menurut Dhoni cukup tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Pada saat yang sama, bahasa gaul Gen Z bersifat multimodal, yakni tidak hanya dibangun lewat kata, tetapi juga melalui simbol, emoji, meme, tagar, audio, dan konteks visual, sehingga bahasa menjadi lebih fleksibel tergantung pada pemakainya. Selain itu, sebuah istilah dapat bergeser dari arti literal menjadi ironi, sindiran, atau penilaian moral hanya dalam beberapa siklus tren. 

Bahasa gaul Gen Z ini juga dapat membangun solidaritas dan rasa memiliki dalam kelompok sebaya, menunjukkan ciri identitas lokal ke global sekaligus kreativitas yang memberi nilai sosial berupa visibilitas digital dan kedekatan emosional.

Arus budaya globalisasi tidak terhenti di satu tempat saja, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, resmi memasukkan puluhan kosakata yang tadinya dianggap slang ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada tahun 2022. Terdapat sembilan belas istilah baru yang masuk KBBI, di antaranya “baper” yang artinya terbawa perasaan, “mager” untuk malas bergerak, “kepo” yang diserap dari akronim bahasa Inggris, hingga kata “gebetan” dan “alay”. Pengesahan ini menandakan bahwa kelembagaan bahasa tertinggi dapat mengakui akulturasi ini, dikutip dari Antara News.

Berdasarkan sosiolinguistik, bahasa gaul berfungsi sebagai bentuk identitas kelompok dengan sarana membangun solidaritas antarteman sebaya, sekaligus ruang ekspresi diri yang lebih longgar dibandingkan dengan bahasa baku. 

Meski demikian, ungkapan gaul tetap memiliki sisi problematikanya. Kesenjangan pemahaman antargenerasi adalah konsekuensi nyata yang muncul bersamaan dengan cepatnya perputaran istilah baru. Orang terdekat sekalipun dapat memaknai ungkapan gaul tersebut secara ambigu yang dapat menimbulkan miskomunikasi, bahkan memberi label tidak sopan atau kurang serius.

Lebih lanjut, kebiasaan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing dapat memberikan dampak berupa kesulitan beralih register ketika harus menulis esai akademik, surat resmi, atau laporan kerja. Hal ini disebabkan kompetensi berbahasa manusia yang bersifat situasional. Penutur yang terbiasa berpindah register dari bahasa gaul ke bahasa formal, justru menunjukkan fleksibilitas linguistik yang tinggi, bukan kemunduran.

Fenomena ini memberi persiapan pada kita untuk mengelola pergeseran bahasa terhadap globalisasi. Institusi pendidikan perlu mengajarkan kapan dan di mana ragam bahasa tertentu pantas digunakan, tanpa harus menstigmatisasi slang atau bahasa gaul sebagai bahasa yang merusak. Di sisi lain, generasi yang lebih tua juga perlu sedikit rendah hati untuk memahami bahwa bahasa memang selalu bergerak dan perlunya adaptasi antargenerasi dengan arus informasi.

Disamping itu, bahasa gaul turut menjadi bukti bahwa bahasa kita cukup lentur untuk menyerap perubahan zaman tanpa kehilangan fungsinya sebagai alat pemersatu. Sehingga yang dibutuhkan bukan sikap penolakan atau memuja secara berlebihan, melainkan kemauan untuk memahami konteks dan belajar di balik setiap istilah baru yang muncul, sembari tetap menjaga ruang bagi bahasa Indonesia baku untuk hidup berdampingan dengannya.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.