Oleh: Dinda Sri Aulia
Suara USU, Medan. Merasa berbeda dari orang lain terkadang membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Bentuk tubuh, penampilan, hingga cara membawa diri dapat menjadi sumber keraguan ketika lingkungan seolah menetapkan standar tertentu tentang bagaimana seseorang seharusnya terlihat. Perasaan tersebut menjadi salah satu hal yang diangkat Rara Sudirman melalui lagu Apa Salahnya, yang mengajak pendengarnya memahami arti penerimaan diri dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Lagu ini tidak menawarkan tuntutan untuk menjadi sempurna, melainkan mengingatkan bahwa setiap orang memiliki keunikan yang layak dihargai. Pesan tersebut disampaikan melalui sapaan sederhana kepada seseorang yang sedang merasa kurang percaya diri, sebagaimana tergambar dalam penggalan lirik berikut:
Hai kamu
Jangan malu
Dengan rambut ikalmu
Di mataku kau sempurna
Lirik awal tersebut menjadi bentuk dukungan bagi seseorang yang merasa perlu menyembunyikan bagian tertentu dari dirinya. Melalui lirik ini, perbedaan tidak ditempatkan sebagai kekurangan yang harus diperbaiki agar seseorang diterima. Sebaliknya, keunikan merupakan bagian dari identitas yang tidak seharusnya membuat seseorang merasa rendah diri.
Penerimaan itu kemudian diperluas melalui cara lagu ini memandang keindahan. Alih-alih menjadikan penampilan sebagai ukuran tunggal, Rara mengarahkan perhatian pada hal-hal sederhana yang sering kali luput disadari seseorang ketika terlalu sibuk mengkritik dirinya sendiri.
Tersembunyi disana
Senyuman paling indah
Pipi merona merah
Kau sudah sempurna
Senyuman menjadi gambaran bahwa daya tarik seseorang tidak selalu ditentukan oleh standar fisik yang berlaku di masyarakat. Ada keindahan yang muncul secara alami melalui ekspresi, kepribadian, dan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Namun, menerima diri sendiri tidak selalu mudah dilakukan sendirian. Ada kalanya keraguan muncul begitu kuat sehingga seseorang membutuhkan dukungan untuk kembali melihat nilai dalam dirinya. Kesadaran mengenai pentingnya kehadiran orang lain tersebut disampaikan melalui lirik:
Tiap kau ragu, ingat aku
Ku selalu ada untukmu
Penggalan ini menyoroti peran dukungan emosional dalam menghadapi rasa tidak percaya diri. Kehadiran orang yang bersedia mendengarkan dan memberikan penguatan dapat membantu seseorang melewati masa sulit tanpa merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Meski demikian, dukungan tersebut bukan berarti nilai diri sepenuhnya bergantung pada pengakuan orang lain, melainkan dapat menjadi pengingat untuk kembali menghargai diri sendiri.
Pesan utama lagu ini kemudian mengarah pada keberanian menjalani kehidupan tanpa terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspektasi lingkungan. Ajakan tersebut ditegaskan melalui penggalan lirik:
Apa salahnya
Menjadi diri sendiri
Biar kau nikmati hari
Hari di sini
Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak kritik atau berhenti berkembang. Pesan ini lebih dekat dengan keberanian mengenali identitas, menentukan pilihan, dan menjalani kehidupan tanpa menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran mutlak keberhasilan pribadi. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda sehingga tidak seharusnya terus merasa tertinggal hanya karena hidupnya tidak berjalan seperti orang lain.
Pengalaman hidup juga tidak selalu memperlihatkan luka yang dapat dikenali secara langsung. Seseorang mungkin tetap tersenyum dan menjalani aktivitas seperti biasa, meskipun menyimpan pergulatan yang tidak diketahui orang lain. Dalam konteks tersebut, lagu ini menegaskan bahwa pengalaman menyakitkan tidak mengurangi nilai seseorang melalui penggalan lirik:
Melangkah dengan luka yang tak terlihat
Tak ada salah pada dirimu
Ku yakin, kau layak
Tempatmu memang di sini
Bagi generasi muda, lirik Apa Salahnya menjadi relevan di tengah kebiasaan membandingkan penampilan, pencapaian, dan kehidupan pribadi melalui media sosial. Paparan terhadap kehidupan orang lain dapat menimbulkan kesan bahwa setiap orang harus memenuhi standar tertentu agar dianggap berhasil atau menarik. Padahal, apa yang terlihat di permukaan tidak selalu menggambarkan keseluruhan perjalanan seseorang.
Melalui lirik yang sederhana dan melodi yang ceria, Rara Sudirman menyampaikan pesan tentang penerimaan diri dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apa Salahnya mengingatkan bahwa mencintai diri sendiri bukan tentang merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan berhenti memperlakukan diri sebagai seseorang yang selalu kurang
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment