Reporter: Suci Rahmawati Siregar
Suara USU, Medan. Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) meraih posisi 2nd Runner-Up atau Juara 3 pada kategori Oral Quiz Competition dalam ajang The 9th Intervarsity Parasitology Quiz and Oratorical Competition (IPQOC) 2026. Kompetisi internasional ini diselenggarakan oleh Department of Parasitology, Faculty of Medicine, Universiti Malaya, Malaysia, pada 16–18 Oktober 2026, dengan perlombaan utama berlangsung pada 17 Oktober 2026.
Tim USU terdiri atas tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran, yaitu Enrico Franditho Sihombing, Yusuf Rahman Priatna, dan Vincentius Haholongan Tito Sihaloho. Mereka bersaing dengan 15 tim dari 10 universitas yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Enrico Franditho Sihombing mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk menguji penguasaan ilmu parasitologi sekaligus mengukur kemampuan mahasiswa USU dalam lingkungan akademik internasional.
“Bagi saya, IPQOC bukan sekadar ajang untuk menguji pengetahuan akademik, melainkan juga kesempatan untuk mengukur kemampuan mahasiswa USU dalam lingkungan internasional,” ujar Enrico dalam wawancara dengan Suara USU pada 20 Oktober 2026.
Dalam kategori Oral Quiz Competition, peserta harus melewati dua tahap, yaitu babak praseleksi (pre-selection round) dan babak final (grand final). Pada babak praseleksi, peserta menghadapi tiga jenis soal, yakni direct single answer questions, photo questions, dan high thinking questions. Lima tim terbaik kemudian melaju ke babak final untuk memperebutkan tiga posisi pemenang.
Menurut Enrico, format perlombaan tersebut menuntut peserta tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menganalisis pertanyaan dan memberikan jawaban secara tepat dalam waktu terbatas.
“Kita harus mampu memahami pertanyaan, menganalisis informasi yang tersedia, dan memberikan jawaban secara cepat serta tepat,” jelasnya.
Materi yang diujikan mencakup Medical Parasitology and Entomology, mulai dari biologi dan siklus hidup parasit, identifikasi parasit, hingga diagnosis, pengobatan, dan pencegahan infeksi parasitik.
Enrico menjelaskan bahwa penguasaan materi parasitologi membutuhkan pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan. “Penguasaan materi saja tidak selalu cukup. Peserta juga harus mampu mengenali inti pertanyaan, menganalisis informasi, dan menentukan jawaban secara efektif dalam waktu yang terbatas,” ungkapnya.
Untuk mempersiapkan diri, tim USU mendapatkan bimbingan dari lima dosen Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran USU selama kurang lebih dua bulan. Kelima dosen tersebut adalah Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan, DAP&E., MPH., Sp.Par.K.; dr. Yunilda Andriyani, M.K.T., Sp.Par.K.; dr. Sunna Vyatra Hutagalung, M.S., Ph.D.; dr. Adelina Haryani Sinambela, M.K.T.; dan Dra. Merina Panggabean, M.Med.Sc.
Setelah mengikuti kompetisi, tim mengevaluasi beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan, terutama penguasaan topik parasitologi yang kompleks atau jarang dibahas dalam perkuliahan, intensitas simulasi kompetisi, serta pengelolaan waktu agar persiapan dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab akademik.
Bagi Enrico dan tim, keberhasilan meraih Juara 3 menjadi pencapaian yang patut disyukuri sekaligus bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan pada kesempatan berikutnya.
“Kami tentu merasa sangat bersyukur dan bangga karena berhasil meraih 2nd Runner-Up atau Juara 3 pada kategori Oral Quiz di IPQOC 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman paling berkesan tidak hanya terletak pada hasil akhir, tetapi juga pada kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mengenal perspektif berbeda, dan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai universitas.
“Bagi kami, kompetisi ilmiah bukan sekadar ajang untuk meraih prestasi, tetapi juga ruang untuk membangun koneksi dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang,” jelas Enrico.
Ke depannya, ia berharap pencapaian tersebut dapat mendorong mahasiswa USU lainnya untuk berani mengikuti kompetisi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh tim dapat menjadi bekal bagi delegasi berikutnya melalui penyusunan rangkuman materi, dokumentasi strategi kompetisi, latihan soal, dan simulasi yang lebih terstruktur.
“Bagi kami, ini bukanlah titik akhir, melainkan langkah awal untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas jejaring, dan membuka lebih banyak kesempatan untuk belajar serta berkolaborasi,” tutupnya.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment