Reporter: Ghefira Mannawa Salwa
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) meraih Juara 1 Presentasi Grup Terbaik dalam NUNI Student Camp 2026 melalui inovasi CocoShield, yakni pemanfaatan sabut kelapa sebagai material alternatif untuk membantu melindungi tanggul dari erosi. Kegiatan ini berlangsung pada 10-13 Oktober 2026 di Ubaya Training Center (UTC), Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Universitas Surabaya (Ubaya) dalam jejaring Nationwide University Network in Indonesia (NUNI).
Mahasiswa USU yang terlibat dalam inovasi tersebut adalah Siti Maryani Saragi, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik angkatan 2023 yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua BEM USU. Ia tergabung dalam Kelompok 1 bersama enam mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yaitu Vincent Lin dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Farid Iqbal Hidayat dari Politeknik Ubaya, Kenneth Nathanael Timothy Penuh dari Universitas Kristen Satya Wacana, Aileen Clarissa Prasetia dari Universitas Kristen Petra Surabaya, Valencia Hiu dari Universitas Sanata Dharma, dan Laura Marcella Pratama dari Universitas Bina Nusantara.
NUNI Student Camp 2026 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berkolaborasi mengembangkan gagasan inovatif dalam menjawab persoalan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Peserta dibagi ke dalam kelompok lintas kampus untuk mengidentifikasi permasalahan, merumuskan solusi, dan mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri.
CocoShield berangkat dari persoalan banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya kebutuhan akan mitigasi bencana dan perlindungan tanggul. Siti mengusulkan persoalan tersebut untuk dikembangkan menjadi gagasan bersama karena merasa memiliki kedekatan dengan isu yang berasal dari Pulau Sumatra.
“Sebagai satu-satunya anggota kelompok yang berasal dari Pulau Sumatera, saya merasa memiliki kedekatan dengan persoalan tersebut dan ingin membawa isu dari daerah asal saya menjadi sebuah gagasan yang bisa kami kembangkan bersama,” jelas Siti.
Inovasi ini memanfaatkan sabut kelapa yang sering dipandang sebagai limbah untuk dikembangkan menjadi material berbentuk jaring bernama Bio-Geogrid. Material tersebut dirancang untuk membantu melindungi bagian tanggul yang rentan terkikis oleh aliran air. Gagasan ini juga mempertimbangkan potensi sumber daya lokal, manfaat sosial, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dalam proses pengembangannya, tim menyusun tahapan pengolahan sabut kelapa, mulai dari pengeringan, pemisahan serat, pemberian perlakuan pada serat, pemintalan, hingga penganyaman menjadi jaring. Tim juga merancang program Regu Jaga Tanggul yang melibatkan masyarakat dalam pemeriksaan dan perawatan tanggul secara berkala.
Selain aspek teknis, tim mempertimbangkan potensi manfaat sosial dan ekonomi melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI). Meski demikian, CocoShield masih berupa gagasan yang membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut. Pengujian diperlukan untuk mengetahui efektivitas Bio-Geogrid dalam mengurangi erosi, ketahanan material, kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan, serta biaya penerapan dan perawatannya.
Siti mengatakan bahwa tantangan terbesar selama kegiatan berlangsung adalah menyatukan perspektif anggota kelompok yang berasal dari perguruan tinggi berbeda. Setiap anggota memiliki latar belakang dan sudut pandang masing-masing sehingga diperlukan diskusi untuk membangun pemahaman bersama.
“Kolaborasi bukan berarti semua orang harus memiliki pemikiran yang sama sejak awal. Justru, perbedaan perspektif dapat menjadi kekuatan ketika setiap anggota bersedia saling melengkapi dan bekerja menuju tujuan bersama,” jelas Siti.
Menurutnya, keunggulan CocoShield terletak pada upaya menghubungkan persoalan lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya lokal dan keterlibatan masyarakat. Tim tidak hanya menawarkan material alternatif, tetapi juga mempertimbangkan tahapan pengembangan, potensi manfaat sosial dan ekonomi, serta keterbatasan inovasi yang masih perlu diteliti.
“Hal yang penting dari presentasi kami adalah upaya untuk menghubungkan sebuah persoalan nyata dengan solusi yang memiliki dasar pemikiran, tahapan pengembangan, dan potensi kebermanfaatan,” jelas Siti.
Ke depan, Siti berharap CocoShield dapat dikaji dan dikembangkan bersama pemerintah, akademisi, serta masyarakat agar berpeluang diuji lebih lanjut di Aceh Tamiang. Ia menilai bahwa pencapaian dalam kompetisi perlu menjadi awal untuk mengembangkan gagasan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
“Bagi saya, keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya ketika mendapatkan penghargaan, melainkan ketika gagasan tersebut terus dikembangkan dan berpeluang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment