Home Tulisan Stereotip Suku dan Diskriminasi dalam Mewujudkan Kesetaraan Warga di Kalangan Generasi Muda
Tulisan

Stereotip Suku dan Diskriminasi dalam Mewujudkan Kesetaraan Warga di Kalangan Generasi Muda

Share

Oleh: Febriko Lubis, Jelita Purba, Nayla Khamila, Raihan Hutasuhut, Saskia Rosmaida Hasugian, Tsabitah Assyifa, Yulinar Sitio

Universitas Sumatera Utara (USU) berdiri sebagai salah satu perguruan tinggi negeri unggulan yang membuka pintu seluas-luasnya bagi calon mahasiswa dari seluruh penjuru negeri melalui berbagai jalur masuk, mulai dari SNBP, SNBT, Mandiri, hingga SMMPTN-Barat. Sistem seleksi ini berhasil menarik ribuan anak muda dengan latar belakang yang sangat beragam untuk melangkah dan bertumbuh bersama di kampus ini. Oleh karena itu, tidak heran jika setiap kali menyusuri koridor kampus USU, kita akan menjumpai wajah-wajah yang datang dari berbagai suku, pulau, hingga pelosok Nusantara. Riuh percakapan dengan beraneka ragam logat menjadi pemandangan sehari-hari, mulai dari Batak, Minang, Jawa, Melayu, Nias, hingga rekan-rekan mahasiswa yang datang dari Pulau Papua. Keberagaman yang luar biasa ini menghadirkan warna tersendiri sekaligus memperkaya dinamika kehidupan akademis dan sosial mahasiswa di Universitas Sumatera Utara.

Namun, di balik indahnya keberagaman ini, masih ada tantangan berupa stereotip atau pelabelan suku yang sering terdengar atau muncul di tengah interaksi mahasiswa. Dalam dinamika sehari-hari, fenomena stereotip masih sering tanpa sengaja mewarnai hubungan sosial di kampus. Anggapan sepihak, seperti suku tertentu yang dikesankan keras, kaku, atau kurang fleksibel, sering kali dijadikan kacamata pertama dalam menilai sesama mahasiswa. Misalnya, suku Jawa sering dianggap sangat halus, penurut, atau pendiam, tetapi tak jarang dipersepsikan dengan makna ganda. Suku Madura kerap dilekatkan dengan stereotip berbicara menggunakan nada tinggi atau keras, sedangkan suku Batak identik dengan intonasi suara yang tegas dan blak-blakan. Sementara itu, mahasiswa dari Indonesia Timur, seperti Papua dan Maluku, tak jarang terlihat cenderung membuat kelompok pertemanan sendiri karena harus menghadapi stereotip yang berkembang di lingkungan sekitar. Stereotip seperti itulah yang dapat memicu batasan psikologis dalam pertemanan. Dampaknya, mahasiswa dapat merasa canggung, ragu untuk berbaur, atau bahkan cenderung memilih pertemanan yang eksklusif hanya dengan sesama daerahnya.

Berdasarkan riset dan survei yang dilakukan oleh kelompok penulis terhadap mahasiswa aktif USU melalui kuesioner Google Forms, ditemukan fakta menarik. Sebanyak 64% responden menjawab bahwa mereka sangat sering berinteraksi dengan orang yang berbeda suku, 32% sering, dan 4% tidak berinteraksi sama sekali. Sebanyak 48% responden menjawab bahwa hubungan antarsuku di kalangan generasi muda sangat baik, 44% cukup baik, 4% biasa saja, dan 4% kurang baik. Sebanyak 72% responden menjawab bahwa mereka sangat nyaman berinteraksi dengan orang yang berbeda suku, sedangkan 28% menjawab cukup nyaman. Sebanyak 56% responden menjawab bahwa mereka kadang-kadang mendengar stereotip atau anggapan tentang suatu suku, 32% sangat sering mendengarnya, dan 12% jarang mendengarnya. Sebanyak 60% responden sangat tidak setuju jika seseorang menilai orang lain hanya karena sukunya, 32% tidak setuju, 4% biasa saja, dan 4% setuju. Sebanyak 60% responden menjawab pernah mendengar dari orang lain bahwa ada seseorang yang diperlakukan berbeda karena sukunya, 32% menyaksikannya secara langsung, 4% tidak yakin bahwa hal tersebut merupakan tindakan membeda-bedakan, dan 4% tidak pernah mengalaminya sama sekali. Sebanyak 60% responden menjawab bahwa mereka sangat yakin keberagaman menjadi sumber kekuatan, 36% cukup yakin, dan 4% tidak yakin. Berikut data dalam bentuk diagram lingkaran : 

Melalui wawancara singkat, 100% responden menjawab bahwa mereka sering berinteraksi dengan orang yang berbeda suku. 75% menjawab bahwa hubungan antarsuku di kalangan generasi muda cukup erat dan baik, 25% menjawab cukup baik tetapi masih ada yang membeda-bedakan suku. 100% menjawab mereka nyaman berinteraksi dengan orang yang berbeda suku. 100% menjawab bahwa mereka pernah mendengar tentang stereotip atau anggapan tentang suatu suku dan menjelaskan apa yang mereka dengar/ ketahui. 100% menjawab jika ada yang membeda-bedakan orang karena suku itu tidak baik. 100% menjawab tidak pernah melihat orang diperlakukan berbeda di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara. 50% menjawab bahwa perbedaan merupakan sumber kekuatan dan 50% menjawab perbedaan suku dapat menjadi kekuatan sekaligus pemicu terjadinya konflik di kalangan generasi muda.

Pada akhirnya, Universitas Sumatera Utara sebagai miniatur masyarakat majemuk harus menjadi ruang aman bagi siapa saja tanpa memandang bulu. Keberagaman dari Sabang sampai Merauke bukanlah sekat yang memisahkan, melainkan pemersatu yang menguatkan dan saling melengkapi. Sebagai generasi muda, sudah saatnya kita menghentikan candaan berbau stereotip dan mulai menilai sesama berdasarkan kapasitas, karakter, serta integritas pribadinya. Mari runtuhkan tembok stereotip dan hidupkan pertemanan lintas suku yang kuat demi mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang nyata di lingkungan perguruan tinggi.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.