Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Suara USU, Medan. Tim Ora Iso dari Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2026 yang diselenggarakan oleh UKM FORCES IPB University.
Tim Ora Iso merupakan tim lintas fakultas yang beranggotakan M. Ghozi Muzakki dari Fakultas Pertanian, Ronny dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), dan Aisyah Tsani dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ketiganya merupakan mahasiswa USU dan didampingi oleh dosen pembimbing Dr. Erna Mutiara, M.Kes.
Kompetisi ini menempuh tiga tahap seleksi, yakni seleksi abstrak, seleksi full paper, hingga babak grandfinal yang mempertemukan tiga tim terbaik untuk melakukan presentasi secara luring di kampus IPB, Bogor.
Keikutsertaan Tim Ora Iso berangkat dari persoalan perubahan iklim dan rendahnya adopsi teknologi digital di kalangan petani kecil. Ghozi mengatakan, kondisi tersebut mendorong mereka untuk menghadirkan solusi yang dapat menjembatani kedua persoalan tersebut.
“Di satu sisi, perubahan iklim sudah sangat ekstrem dan mengancam produktivitas panen. Di sisi lain, adopsi teknologi digital oleh petani kecil kita masih sangat memprihatinkan, hanya berkisar di 25%. Kami ingin membawa solusi nyata yang menjembatani gap tersebut lewat PIMPI, karena IPB adalah episentrum inovasi pertanian di Indonesia,” ungkap Ghozi dalam wawancara dengan Suara USU (10/09/26).
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi SIP-PETANI 5.0, sebuah sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial. Sistem ini terdiri atas AgroSense IoT sebagai alat sensor di lahan untuk mendeteksi cuaca dan kelembapan, platform data AgriTrack, serta TaniTalk AI Chatbot.
Melalui TaniTalk AI Chatbot, petani dapat mengakses rekomendasi berdasarkan data lahan melalui WhatsApp tanpa perlu mengunduh aplikasi khusus. Petani juga dapat menggunakan bahasa daerah untuk memperoleh rekomendasi secara real-time, seperti waktu penyiraman dan pemupukan.
Menurut Ghozi, gagasan tersebut lahir dari perbedaan latar belakang ketiga anggota tim. Perbedaan tersebut justru menjadi dasar untuk menggabungkan berbagai perspektif dalam mengembangkan inovasi.
“Awalnya diskusinya sempat lumayan panjang. Tapi dari perbedaan perspektif itu justru kami menemukan titik temu: sebuah teknologi mutakhir harus bisa diakses dengan cara yang paling sederhana oleh petani,” ujarnya.
Dalam pembagian tugas, Ghozi berfokus pada aspek agronomis dan kualitas komoditas dari hulu ke hilir. Ronny mengkaji aspek pemberdayaan komunitas petani dan kesehatan lingkungan, sedangkan Aisyah menangani analisis data sensor dan biokimia.
Perjalanan menuju babak grandfinal tidak berjalan mudah. Setelah dinyatakan lolos ke grandfinal di Bogor, keterbatasan dana membuat seluruh anggota tim tidak dapat berangkat. Ghozi kemudian menjadi satu-satunya anggota yang berangkat untuk mewakili Tim Ora Iso.
“Kami sempat sangat bimbang dan ragu, apakah mau lanjut atau mundur saja? Tapi akhirnya kami sepakat: ‘Kita harus maju buat tahu apa yang ada di depan,'” tuturnya.
Persiapan presentasi juga dilakukan dalam waktu terbatas. Berbagai kendala teknis dan administrasi membuat Ghozi baru dapat menyiapkan materi PowerPoint sehari sebelum acara. Ia juga tidak sempat melakukan latihan presentasi bersama anggota tim.
“Saya nekat latihan presentasi secara solo langsung di hari H, beberapa saat sebelum naik panggung. Modal nekat, percaya pada substansi paper yang sudah kami susun, dan nothing to lose,” ungkapnya.
Kondisi tersebut tidak menghalangi Tim Ora Iso untuk meraih posisi kedua. Ghozi mengatakan, hasil tersebut berada di luar ekspektasi awal tim yang sebelumnya hanya menargetkan posisi ketiga.
“Jujur, ini di luar ekspektasi. Dengan segala keterbatasan dana, persiapan H-1, dan presentasi solo, ekspektasi awal kami sebenarnya cukup membawa pulang Juara 3 saja sudah alhamdulillah. Tapi ternyata rezekinya di Juara 2. Kami terima dengan sangat bangga,” ujar Ghozi.
Bagi Ghozi, keputusan untuk tetap berangkat ke Bogor meski menghadapi berbagai keterbatasan menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama mengikuti kompetisi. Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong mahasiswa lain untuk tidak menunggu kondisi sempurna sebelum mulai berkompetisi.
“Kalau kalian punya ide, eksekusi saja dulu. Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai berkompetisi. Maju saja dulu selangkah, karena kita nggak akan pernah tahu seberapa besar potensi ide kita kalau tidak pernah diuji di gelanggang yang sebenarnya,” tutupnya.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment