Home Cerpen Bekas yang Tidak Pernah Pulih
Cerpen

Bekas yang Tidak Pernah Pulih

Share

Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Suara USU, Medan. Orang-orang mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan. Namun, sebenarnya waktu tidak menyembuhkan, ia hanya beradaptasi dengan rasa sakit. Trauma lebih menyerupai seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan, ia tidak mati, tetapi ada bagian dari dirinya yang cacat seumur hidup.

Raya baru memahami makna kalimat itu ketika usianya menginjak dua puluh dua tahun. Bertahun-tahun ia mengira dirinya hanya terlalu lemah, terlalu sensitif, atau terlalu sulit melupakan masa lalu. Hingga akhirnya ia sadar bahwa yang ia bawa selama ini bukan sekadar kenangan, melainkan luka yang telah mengubah cara ia memandang dunia.

Sore itu, Raya duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah luar. Orang-orang mengira ia sedang menikmati sore, padahal yang ia lakukan hanyalah berusaha agar suara-suara dari masa lalu tidak kembali terdengar.

Sejak kecil, rumah Raya tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Dinding-dindingnya memang berdiri kokoh, tetapi kata-kata yang berputar di dalamnya jauh lebih mudah merobohkan seseorang daripada gempa. Kesalahan kecil selalu berubah menjadi alasan untuk membandingkan, menghakimi, dan membuatnya merasa tidak pernah cukup. Di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, Raya justru belajar bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang paling sulit.

“Apa susahnya jadi seperti anak orang lain?” tanya ayahnya suatu malam.

Raya hanya menunduk sambil menggenggam ujung bajunya. Ia tidak menjawab, bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia sadar bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan penjelasan.

Ibunya tidak pernah ikut memarahi. Namun, diam ternyata mampu melukai dengan cara yang jauh lebih sunyi. Tidak ada pelukan yang datang setelah tangis, tidak ada kalimat yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Raya selalu yakin bahwa air mata adalah sesuatu yang harus disembunyikan agar tidak dianggap merepotkan.

***

Ketika akhirnya memasuki sekolah dan kemudian bangku kuliah, ia sempat percaya bahwa dunia akan berbeda. Ia mengira persahabatan adalah tempat seseorang diterima tanpa syarat, tempat setiap cerita dijaga seperti rahasia. Namun, hidup kembali menunjukkan bahwa harapan sering kali datang lebih besar daripada kenyataan.

Mereka memanggil Raya sebagai sahabat. Mereka tertawa bersamanya, meminjam catatannya, dan meminta bantuannya ketika kesulitan. Lalu, perlahan mereka meninggalkannya ketika menemukan lingkungan yang lebih menguntungkan. Dan hal yang paling menyakitkan bukan ketika orang asing mencibir, melainkan ketika tawa itu berasal dari orang-orang yang pernah ia sebut sebagai keluarga kedua.

“Ah, kamu terlalu baper. Masa gitu aja tersinggung,” ucap salah satu temannya.

Kalimat itu terdengar ringan bagi mereka yang mengucapkannya. Namun bagi Raya, kalimat itu seperti palu yang terus memukul retakan yang belum sempat mengering. Sejak hari itu, ia mulai meragukan setiap emosinya sendiri, seolah merasa sedih adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki.

Lama-kelamaan, Raya menjadi ahli berpura-pura. Ia mencoba tersenyum ketika hatinya sedang runtuh, mencoba berkata, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika dadanya sesak hanya karena mendengar nada bicara yang sedikit meninggi. Tidak ada seorang pun yang sadar bahwa manusia bisa terlihat utuh, padahal di dalam dirinya telah runtuh berkali-kali.

Orang-orang yang pernah menyakitinya melanjutkan hidup seperti biasa. Mereka lulus dengan nilai yang baik, mengunggah foto wisuda, membangun karier, tertawa dalam pesta ulang tahun, dan menulis kutipan tentang pentingnya menjadi baik kepada sesama. Dunia memberi mereka kesempatan untuk memulai lembaran baru, sementara Raya masih sibuk mengumpulkan kepingan dirinya yang tercecer di masa lalu.

Ada hari-hari ketika ia membenci dirinya sendiri karena belum mampu melupakan. Ia bertanya-tanya mengapa kenangan yang menyakitkan begitu setia tinggal, sementara kenangan yang indah justru lebih cepat menghilang. Berkali-kali ia mencoba menghapus semuanya, tetapi ingatan bukan papan tulis yang bisa dibersihkan hanya karena kita menginginkannya.

Suatu sore, psikolog yang menemaninya sejak beberapa bulan terakhir menatapnya dengan senyum yang tenang.

“Kamu tahu kenapa kamu masih sering merasa sakit?”

Raya menggeleng pelan.

“Karena yang kamu alami bukan sekadar kenangan. Itu trauma.”

Raya terdiam cukup lama. Baru kali itu ada seseorang yang tidak menyuruhnya melupakan, tidak memintanya segera memaafkan, dan tidak mengatakan bahwa ia terlalu sensitif. Untuk pertama kalinya, rasa sakitnya diberi nama, bukan dihakimi.

“Waktu benar-benar menyembuhkan?” tanyanya lirih.

Psikolog itu menggeleng perlahan. “Waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang, waktu hanya mengajarkan kita bagaimana hidup berdampingan dengan rasa sakit.”

Kalimat itu menetap di kepalanya selama berhari-hari. Ia mulai memahami bahwa dirinya bukan manusia yang lemah karena belum pulih. Sebab, trauma memang tidak bekerja seperti luka di kulit yang mengering lalu menghilang. Trauma lebih menyerupai seseorang yang selamat dari kecelakaan. Ia tetap hidup, tetapi ada bagian dari dirinya yang tidak akan pernah kembali seperti semula.

***

Sejak saat itu, Raya berhenti memaksa dirinya menjadi orang yang dulu. Ia tidak lagi mengejar kesembuhan yang sempurna, karena ia sadar bahwa beberapa bekas memang ditakdirkan tinggal seumur hidup. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan bahwa bekas itu tidak lagi menentukan ke mana langkahnya akan menuju.

Sesekali kenangan masih datang. Masih ada malam ketika ia terbangun dengan napas yang memburu, masih ada siang ketika satu kalimat sederhana mampu mengembalikannya ke masa yang ingin ia lupakan. Namun, kini ia tidak lagi membenci dirinya karena hal itu. Ia hanya mengusap dadanya pelan, lalu berbisik, “Aku tahu kamu masih terluka, tapi kita tetap akan berjalan.”

Raya akhirnya mengerti bahwa berdamai bukanlah melupakan. Berdamai adalah menerima bahwa ada luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh, sama seperti tulang yang pernah patah dan tetap meninggalkan bekas meski telah menyatu kembali. Orang-orang yang menyakitinya mungkin hidup dengan bahagia, tanpa pernah sadar telah mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Namun, ia memilih satu hal yang tidak pernah bisa mereka ambil: keberanian untuk tetap hidup, meski membawa cacat yang tak kasatmata.

Redaktur: Rifatul Suaidah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.