Penulis: Arneta Sitanggang
Sejak kecil, Sisy percaya bahwa mercusuar di ujung desa adalah tempat paling aman di dunia. Setiap malam, cahayanya berputar menyinari laut, seolah-olah sedang mencari kapal-kapal yang tersesat dan menunjukkan jalan pulang kepada mereka.
“Selama mercusuar masih menyala, tidak ada yang benar-benar tersesat,” kata ibunya dulu.
Sisy mempercayai kalimat itu sampai ibunya meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu, setiap kali merasa takut, sedih, atau tidak tahu harus berbuat apa, Sisy akan datang ke mercusuar. Ia duduk di tangga paling atas sambil menulis isi hatinya di sebuah buku biru.
Buku itu menjadi tempat Sisy menyimpan semua hal yang tidak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun. Tentang rasa rindunya kepada ibu. Tentang ayahnya yang semakin sering melaut dan semakin jarang berbicara. Tentang keinginannya untuk pergi dari desa, tetapi juga rasa bersalah karena meninggalkan ayah sendirian.
Pak Darma, penjaga mercusuar, selalu membiarkannya duduk di sana.
“Mercusuar ini sudah berdiri sebelum kamu lahir,” katanya suatu malam. “Banyak kapal melihat cahayanya, tapi tidak semuanya sampai ke pelabuhan.”
“Kenapa?” tanya Sisy.
“Karena cahaya hanya menunjukkan arah. Yang menentukan perjalanan tetap orang yang mengemudikan kapal.”
Sisy tidak terlalu memahami perkataan itu. Baginya, mercusuar tetaplah tempat untuk pulang.
Bertahun-tahun kemudian, Sisy mendapat tawaran pekerjaan di kota. Gajinya cukup besar dan pekerjaannya sesuai dengan impiannya. Ia ingin menerima tawaran itu, tetapi memikirkan ayahnya membuat hatinya berat. Ayahnya sudah tidak muda lagi. Sejak ibu meninggal, hanya mereka berdua yang tinggal di rumah kecil dekat pantai. Sisy takut jika ia pergi, ayahnya akan merasa ditinggalkan.
“Ayah bisa ikut denganku nanti,” kata Sisy suatu sore.
Ayah hanya tersenyum sambil memperbaiki jaring ikan.
“Pergilah kalau memang itu yang kamu mau.”
“Tapi Ayah sendirian.” kata Sisy
“Ayah sudah terbiasa.” balas Ayah
Jawaban itu justru membuat Sisy semakin merasa bersalah. Malamnya, ia pergi ke mercusuar dan membuka buku birunya. Kalau aku pergi, apakah aku anak yang jahat? Kalau aku tetap tinggal, apakah aku akan menyesal? Kenapa tidak ada yang bisa menunjukkan jalan yang benar?
Sisy menutup buku itu dengan kesal. Ia menatap cahaya mercusuar yang berputar di atas laut.
“Kalau memang mercusuar bisa menunjukkan jalan pulang, tunjukkan juga jalan untukku,” bisiknya. Namun, mercusuar tetap diam.
Beberapa hari kemudian, badai besar datang. Angin bertiup kencang dan ombak menghantam pantai. Ayah Sisy belum pulang dari melaut.
Sisy berdiri di depan rumah sambil memandang laut yang gelap. Untuk pertama kalinya, mercusuar tidak membuatnya merasa aman. Cahayanya tetap berputar, tetapi tidak mampu menembus seluruh gelap yang ada di hadapannya.
Ia berlari menuju mercusuar.
“Pak Darma! Ayahku belum pulang!” teriaknya.
Pak Darma segera membantu mencari kabar para nelayan. Malam terasa sangat panjang. Sisy duduk di tangga mercusuar sambil menggenggam buku birunya erat-erat.
“Kenapa mercusuar tidak membantu?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kenapa cahayanya tidak bisa menunjukkan jalan Ayah?”
Pak Darma tidak langsung menjawab. Beberapa jam kemudian, sebuah perahu akhirnya terlihat mendekati pantai. Ayah Sisy selamat. Perahunya mengalami kerusakan, tetapi ia berhasil berlindung di teluk kecil bersama nelayan lain.
Sisy memeluk ayahnya erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa selama ini bukan hanya dirinya yang takut kehilangan.
“Ayah sebenarnya boleh bilang kalau takut aku pergi,” ucap Sisy.
Ayah terdiam lama.
“Ayah takut,” katanya akhirnya. “Tapi Ayah lebih takut kalau kamu tinggal hanya karena merasa harus menjaga Ayah.”
Kalimat itu membuat Sisy terdiam.
Malam itu, ketika membersihkan kamar, Sisy menemukan sebuah surat lama milik ibunya terselip di antara buku-buku. Surat itu ditulis untuknya, tetapi tidak pernah sempat diberikan.
Suatu hari nanti, mungkin kamu ingin pergi jauh. Jangan takut. Rumah bukan tempat yang mengurungmu. Rumah adalah tempat yang bisa kamu datangi kembali ketika kamu memilih untuk pulang. Air mata Sisy jatuh di atas kertas.
Selama ini, ia mengira mercusuar adalah tempat yang selalu menyelamatkan orang. Padahal, mercusuar tidak pernah menjanjikan kapal akan sampai dengan selamat. Ia hanya memberikan cahaya. Selebihnya, setiap orang harus menentukan arah dan berani menjalani perjalanan.
Seminggu kemudian, Sisy pergi ke kota.
Enam bulan setelahnya, ia kembali ke desa. Bukan karena merasa wajib, bukan karena takut meninggalkan ayah, tetapi karena ia memang ingin pulang. Ia naik ke mercusuar dan membuka buku birunya untuk terakhir kali.
Sekarang aku mengerti. Cahaya tidak selalu menunjukkan jalan pulang. Kadang, cahaya hanya mengingatkan bahwa aku masih punya pilihan untuk menentukan arah.
Di bawah sana, laut kembali tenang. Mercusuar tetap menyala seperti biasanya. Namun, kali ini Sisy tidak lagi menunggu cahaya untuk menunjukkan jalan.
Ia sudah tahu jalan pulangnya sendiri.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment