Home Cerpen Si Kecil yang Tangguh
Cerpen

Si Kecil yang Tangguh

Share

Oleh : Muthia El Istiqomah Siregar

Langkah kaki kecil itu berjalan pelan di lorong rumah sakit.

Anak perempuan berusia empat tahun berjalan sendiri sambil memeluk boneka beruang kesayangannya. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Rumah sakit yang memiliki banyak lantai baginya seperti dunia baru yang menyimpan banyak cerita.

“Ada apa, ya, di setiap lantai?” gumamnya.

Ia berjinjit menekan tombol lift, tetapi pintunya tidak bisa terbuka. Akhirnya seseorang menekan lantai satu dan pintu pun terbuka. Ia masuk ke lift dengan rasa ingin tahu yang harus dipenuhi.

Lantai satu menjadi tujuan pertamanya.


Begitu pintu lift terbuka, terdengar tangisan bayi yang nyaring. Seorang ibu baru saja melahirkan. Di depan ruang bersalin, seorang ayah menangis haru sambil ketakutan ingin menggendong bayi mungil yang dibungkus kain putih, padahal perawat yang menggendongnya bilang tidak apa-apa. Kakek dan nenek—orang tua dari ibu tersebut—tampak sangat bahagia atas kelahiran cucu pertama mereka, tetapi juga sangat khawatir dengan keadaan putri mereka yang baru saja melahirkan. Keluarga lainnya ikut tampak bahagia sambil membawakan banyak perlengkapan yang dibutuhkan bayi yang baru lahir itu.

“Wah, adik baru. Selamat datang ke dunia, adik kecil,” bisik anak perempuan itu sambil tersenyum, masih memegang boneka beruangnya.

Ternyata rumah sakit bukan hanya tempat orang sakit. Di sini, kehidupan baru juga dimulai.

Ia kembali masuk ke lift. Kali ini ia mencoba menekan tombol lantai selanjutnya, tetapi entah kenapa tombolnya seperti tidak berfungsi. Seseorang akhirnya datang dan menekan lantai dua—sepertinya itu juga merupakan tujuannya. Mereka masuk, dan sampailah di lantai dua, ruang perawatan anak.

Lorong dipenuhi gambar kartun berwarna-warni, gambar hewan-hewan lucu, serta suara merengek anak-anak yang sakit. Dari salah satu kamar terdengar suara tangisan.

“Aku nggak mau disuntik! Aku takut…” rengek seorang anak.

Seorang perawat berjongkok sambil tersenyum sabar.

“Sebentar saja, nanti adik cepat sembuh.”

Seorang ibu memeluk anaknya erat-erat sambil mengusap kepalanya.

Anak kecil itu memperhatikan semuanya. Ia melihat ketakutan, tetapi juga keberanian. Meski menangis, anak-anak itu tetap mau sembuh agar bisa bermain bersama teman-temannya lagi.

“Ternyata berani bukan berarti tidak takut,” pikirnya.

Lift kembali membawanya naik. Ia masih tidak bisa menekan tombol sendiri dan selalu menunggu seseorang menekannya agar bisa ikut masuk.

Lantai tiga terasa jauh lebih sunyi. Di sana banyak kakek dan nenek yang sedang berobat. Seorang perawat berbicara sedikit lebih keras kepada seorang kakek yang pendengarannya mulai berkurang.

“Bapak, obatnya diminum setelah makan, ya.”

“Hah? Setelah apa?”

“Setelah makan.”

“Makan apa?”

“Setelah makan siang, ya, Pak.”

“Ohh… ya… hmm… setelah makan apa?”

Perawat itu sepertinya mulai kehilangan kesabaran dan sedikit menaikkan nada suaranya.

“Setelah MAKAN SIANG, ya, Pak,” ujarnya sambil tetap tersenyum sabar.

Akhirnya kakek itu mengangguk sambil tersenyum, dan mereka semua tertawa kecil.

Anak itu ikut tersenyum. Ia melihat bahwa waktu memang bisa membuat tubuh melemah, tetapi kesabaran orang-orang di sekitar membuat semuanya terasa lebih ringan.

Ia melanjutkan perjalanan menuju lantai empat. Kali ini ia tidak perlu menunggu seseorang, karena entah kenapa pintu lift sudah terbuka, siap membawanya ke atas.

Begitu pintu lift terbuka, suasananya berubah. Lorong terasa lebih hening. Sesekali terdengar isak tangis keluarga yang menunggu di depan kamar. Ada yang sedang berdoa, ada yang menggenggam tangan orang tercinta, ada pula yang hanya menatap kosong ke arah jendela.

Di salah satu kamar, seorang anak perempuan tanpa rambut, memakai topi kupluk, sedang tersenyum sambil menggambar bunga. Di sampingnya, ibunya berusaha tersenyum meski matanya sembap, seakan tahu bagaimana nasib putri kecilnya ke depan.

Seorang remaja perempuan berlari di depannya sambil menjerit, memanggil nama ibunya, lalu menghampiri seluruh keluarganya.

“Ibu… Ibu, Mas… Ibu… udah nggak ada…” isaknya sambil memeluk keluarga yang dihampirinya.

Anak kecil itu berhenti cukup lama. Dadanya terasa sesak.

“Ternyata… tidak semua orang bisa pulang hari ini.”

Ia menatap lorong panjang itu. Di rumah sakit, setiap lantai memiliki kisahnya sendiri.

Ada tempat seseorang memulai hidup.
Ada tempat anak-anak belajar berani.
Ada tempat orang tua berjuang melawan usia.
Dan ada tempat orang-orang berjuang mempertahankan harapan.

Ia kembali berjalan menuju lift. Namun kali ini, ia melihat sebuah pintu bertuliskan IGD yang sedikit terbuka. Entah mengapa, langkahnya mengarah ke sana.

Di dalam ruangan, dokter dan perawat tampak berlari tergesa-gesa mengelilingi seorang anak yang terbaring di atas brankar.

“Tekanan darah menurun!”

“Siapkan CPR!”

“Cepat!”

Anak kecil itu mendekat perlahan. Boneka di pelukannya terjatuh. Ia terpaku.

Anak yang berada di atas brankar itu… memiliki wajah yang sama persis dengannya. Baju yang dikenakan sama. Luka di dahinya sama. Bahkan sepatu kecilnya pun sama.

Seorang wanita menangis histeris sambil memanggil namanya.

“Bangun, Nak… jangan tinggalin, Ibu…”

Anak kecil itu ingin menjawab.

“Ibu, aku di sini.” Ia menarik pakaian ibunya, memanggil penuh harapan.

Namun tak satu pun orang menoleh. Ia mencoba menyentuh tangan ibunya—tangannya menembus begitu saja. Air mata mulai memenuhi matanya.

Dokter menghentikan usahanya perlahan. Ruangan menjadi sunyi. Seorang perawat menundukkan kepala.

“Ibu… kami sudah berusaha.”

Tangisan pecah memenuhi IGD.

Barulah anak kecil itu mengerti mengapa sejak tadi ia tidak pernah bisa menekan tombol lift, mengapa tak ada seorang pun yang menyapanya, dan mengapa ia bisa berjalan sendirian ke setiap lantai tanpa dihentikan siapa pun.

Ia bukan sedang berkeliling rumah sakit. Ia sedang mengucapkan selamat tinggal.

Dengan senyum kecil, ia memandang seluruh rumah sakit yang kini terasa berbeda.

Setiap lantai memang memiliki kisah.
Tentang awal kehidupan.
Tentang keberanian.
Tentang kesabaran.
Tentang perjuangan.
Dan akhirnya, tentang perpisahan.

Anak kecil itu menggenggam kembali boneka kesayangannya.

“Terima kasih… sudah mengajarkanku bahwa hidup, sesingkat apa pun, selalu memiliki cerita.”

Perlahan ia melangkah menuju cahaya yang semakin terang, sementara di belakangnya tangisan perlahan berubah menjadi doa.

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.