Home Buku Ketika Cinta Ayah Tak Cukup Menyembuhkan Luka Anak Perempuan
Buku

Ketika Cinta Ayah Tak Cukup Menyembuhkan Luka Anak Perempuan

Share

Oleh : Rizka Delifina Az Zahra

Suara USU, Medan. Tidak semua kedekatan dalam keluarga terasa aman. Premis inilah yang menjadi jantung dari buku Ketika Ayah Cinta dan Luka Anak Perempuannya karya Retno Ladyta, yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama pada 2025. Buku ini hadir sebagai bacaan yang berani menyoroti sisi keluarga yang selama ini kerap disimpan rapat-rapat dari percakapan publik.

Sejak awal, judul buku ini sudah seperti membuka pintu ke perasaan yang rumit. Kata “ayah” biasanya identik dengan perlindungan “cinta” dengan kehangatan, sedangkan “luka” dengan sesuatu yang menyakitkan. Namun ketika ketiganya disatukan, muncul benturan makna yang kuat. Dari benturan itulah buku ini terasa hidup, sebab ia tidak sedang membicarakan keluarga sebagai tempat yang selalu ideal, melainkan sebagai ruang yang juga bisa menghadirkan kecewa, sepi, dan pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Dalam konteks itu, buku ini berhasil menangkap bahwa tidak semua kedekatan selalu terasa aman.

Secara garis besar, buku ini menggambarkan pergulatan seorang anak perempuan dalam memahami sosok ayahnya beserta jejak emosional yang ditinggalkan. Ceritanya tidak sekadar menampilkan rangkaian peristiwa, tetapi menyelam lebih jauh ke lapisan perasaan yang sulit diucapkan. Pembaca diajak melihat bagaimana pengalaman dalam keluarga dapat membentuk cara seseorang memaknai cinta, mempercayai orang lain, bahkan memandang dirinya sendiri. Narasinya terasa seperti catatan batin yang berusaha menata ulang ingatan, sekaligus mengakui bahwa ada luka yang tidak selalu selesai hanya dengan berjalannya waktu.

Salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah keberaniannya mengangkat tema yang dekat dengan banyak orang, tetapi jarang dibahas secara jujur. Kedekatan ayah dengan anak perempuan bukan hanya soal hadir dan tidak hadir, melainkan juga soal bagaimana kehadiran itu dirasakan. Kadang luka tidak datang dari sesuatu yang besar. Ia justru muncul dari hal-hal kecil yang terus berulang, seperti: perhatian yang kurang atau perasaan tidak pernah benar-benar dipahami. Buku ini menangkap sisi itu dengan cukup kuat, sehingga pembaca bisa merasa bahwa yang dibicarakan bukan hanya satu kisah, melainkan juga potongan pengalaman banyak orang.

Dari segi bahasa, Retno Ladyta mengandalkan diksi yang lembut, emosional, dan reflektif. Gaya penulisan semacam ini membuat cerita terasa dekat, seolah pembaca diajak masuk ke ruang yang sangat personal. Kalimat-kalimatnya tidak terburu-buru, melainkan mengalir perlahan dan penuh renungan—sebuah kekuatan tersendiri karena mampu menjaga suasana emosional tetap terasa sepanjang buku. Dalam tema seperti ini, pilihan bahasa memang sangat menentukan, sebab luka batin sering kali lebih mudah dipahami lewat ungkapan yang tenang namun mengena. Di titik inilah buku ini bekerja cukup baik: ia tidak berteriak, tetapi tetap meninggalkan gema panjang setelah dibaca.

Selain itu, buku ini juga punya nilai lebih karena menghadirkan pengalaman membaca yang terasa nyata. Pembaca tidak hanya mengikuti cerita, tetapi juga diajak merasakan lapisan-lapisan batin tokohnya. Hal ini membuat buku berkembang menjadi ruang refleksi.Banyak pembaca mungkin akan menemukan bagian-bagian yang terasa dekat dengan hidup mereka sendiri, terutama bagi mereka yang pernah mengalami keluarga yang tidak utuh. Ketika itu terjadi, buku ini bukan lagi sekadar bacaan, melainkan cermin.

Namun demikian, di balik kekuatan emosionalnya, buku ini juga menyimpan sejumlah catatan kritis. Karena sangat bertumpu pada suasana batin, alur ceritanya berpotensi terasa lambat bagi sebagian pembaca. Fokus yang kuat pada eksplorasi perasaan membuat narasi lebih menonjolkan renungan ketimbang dinamika peristiwa, sehingga beberapa bagian bisa terasa berulang. Bagi pembaca yang mengharapkan alur cepat dan penuh kejutan, buku ini kemungkinan akan terasa lebih tenang dari yang dibayangkan.

Meski demikian, keberanian buku ini untuk membicarakan luka menjadi salah satu nilai paling penting. Dalam banyak keluarga, rasa sakit sering disembunyikan di balik sikap diam dan kalimat-kalimat yang terdengar baik-baik saja. Buku ini seperti menolak kebiasaan itu. Ia memberi ruang bagi perasaan yang sering dianggap terlalu sensitif, terlalu rumit, atau terlalu berat untuk diucapkan. Padahal, mengakui luka adalah bagian penting dari proses memahami diri sendiri. Dan buku ini, dengan caranya yang lembut, mengingatkan pembaca akan hal itu.

Pada akhirnya, buku yang berjudul Ketika Ayah Cinta dan Luka Anak Perempuannya adalah buku yang kuat dalam tema dan rasa. Ia menawarkan kisah yang reflektif, ditulis dengan bahasa yang dekat, dan membawa pembaca pada pemahaman bahwa keluarga tidak selalu berarti kenyamanan. Ada cinta yang tumbuh bersama luka, ada kedekatan yang bercampur dengan jarak, dan ada perasaan yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan mudah. Meski memiliki kelemahan, buku ini tetap layak diapresiasi karena berani membuka ruang percakapan yang sering dihindari.

Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.