Home Kabar Kampus Alumni FISIP USU Bagikan Pengalaman Merintis Usaha di Dies Natalis ke-46
Kabar Kampus

Alumni FISIP USU Bagikan Pengalaman Merintis Usaha di Dies Natalis ke-46

Share

Reporter: Erni Yuli Simatupang

Suara USU, Medan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar talk show bertajuk “Menjadi Entrepreneur, Siapa Takut?” dalam rangka memperingati Dies Natalis FISIP USU ke-46. Kegiatan ini berlangsung di Aula Serbaguna FISIP USU pada Rabu (4/11/2026), pukul 09.00–11.30 WIB.

Talk show tersebut menghadirkan dua alumni FISIP USU sebagai narasumber, yakni Alween Ong, alumni Program Studi Ilmu Politik sekaligus sociopreneur, dan Ade Ardianta, alumni Program Studi Ilmu Komunikasi sekaligus pendiri Medan Talk. Keduanya berbagi pengalaman mengenai proses merintis usaha, membaca peluang pasar, hingga mengembangkan bisnis di tengah perubahan zaman.

Diskusi dipandu oleh Azhari M. Latief, S.I.P., M.I.P., dosen Ilmu Politik. Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Program Studi Ilmu Politik, Dra. Evi Novida Ginting Manik, M.SP., Sekretaris Program Studi Ilmu Politik, Dr. Fernanda Putra Adela, S.Sos., M.A., sejumlah dosen, serta mahasiswa Ilmu Politik.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa. Selanjutnya, Gusti Pirandi, S.Sos., M.Kesos., selaku Manajer Pelatihan, Penelitian, dan Internasionalisasi, menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Dalam sambutannya, Gusti mengapresiasi kedua narasumber yang merupakan alumni FISIP USU dan bersedia kembali untuk berbagi pengalaman dengan mahasiswa. Ia menilai kewirausahaan menjadi topik yang relevan dengan kondisi ekonomi saat ini, ketika masyarakat perlu mempertimbangkan sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan utama.

“Di generasi kita saat ini, selain memiliki pekerjaan tetap, kita juga perlu memikirkan aset dan sumber pendapatan sampingan. Apalagi, kondisi ekonomi membuat berbagai kebutuhan semakin mahal,” ujarnya.

Memasuki sesi utama, Alween Ong menceritakan perjalanan kariernya yang berawal dari latar belakang pendidikan Ilmu Politik. Sebelum menekuni dunia kewirausahaan, ia pernah bekerja sebagai teknisi telepon seluler dan menjalani berbagai bidang pekerjaan. Pengalaman tersebut membawanya pada pemahaman bahwa latar belakang pendidikan tidak harus membatasi pilihan karier seseorang.

Menurut Alween, kewirausahaan dapat menjadi salah satu pilihan karier bagi mahasiswa Ilmu Politik maupun bidang ilmu lainnya. Selain membuka peluang ekonomi, dunia usaha juga menuntut kedisiplinan, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan waktu secara maksimal.

“Bisnis itu harus ada ilmunya. Apa pun bidang yang ingin kita jalani, fondasinya sama. Kita tidak akan pernah tahu mana yang paling tepat untuk kita kalau tidak mulai berjalan dan mencoba dari sekarang,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan pasar sebelum memulai usaha. Mahasiswa dapat mengawalinya dengan mengamati persoalan sederhana di lingkungan sekitar, mengenali kebutuhan calon konsumen, kemudian menentukan produk atau layanan yang dapat menjadi solusi. Menurutnya, calon pengusaha tidak perlu terburu-buru mengembangkan bisnis dalam skala besar tanpa mempertimbangkan kemampuan dan potensi pasar.

“Kalau mau menjalankan bisnis, baca data. Cari tahu siapa calon konsumen kita, apa yang mereka butuhkan, dan permasalahan apa yang bisa kita selesaikan. Tidak perlu langsung mengerjakan semuanya. Mulailah dari lingkup kecil,” jelasnya.

Selain riset pasar, Alween turut menyoroti pentingnya membangun branding. Ia menjelaskan bahwa branding tidak hanya berkaitan dengan logo, desain, atau warna, tetapi juga mencakup pembentukan identitas produk, citra pribadi, perusahaan, hingga suatu daerah. Kemampuan tersebut, lanjutnya, juga relevan bagi mahasiswa Ilmu Politik yang kelak dapat terlibat dalam komunikasi publik dan dunia politik.

Sementara itu, Ade Ardianta membagikan pengalamannya merintis Medan Talk sejak 2013. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan mengembangkan media digital tersebut tidak selalu berjalan mudah. Pada awalnya, gagasan bisnis yang ditawarkan kerap diragukan, terutama ketika ia berusaha mencari investor untuk mendukung pengembangan usahanya.

Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah meyakinkan calon investor mengenai potensi media sosial sebagai sarana periklanan. Saat itu, pemanfaatan media sosial untuk kepentingan bisnis belum banyak dipahami sehingga ia perlu menjelaskan peluang serta model pendapatan yang dapat dikembangkan.

Setelah menghadapi berbagai penolakan, Ade akhirnya berhasil memperoleh investor dengan membawa perencanaan bisnis dan pemasaran yang telah disusun. Sebelum menjalankan usaha secara serius, ia juga memanfaatkan sebagian modal untuk memperdalam pengetahuan mengenai digital marketing, personal branding, dan strategi pemasaran.

“Menurut saya, tanpa riset, tanpa ilmu, dan tanpa membaca pasar, bisnis kita tidak akan memiliki dasar yang kuat. Ketika ingin memulai bisnis dengan serius, kita harus punya ilmu dan data,” tegasnya.

Pengalaman kedua narasumber menunjukkan bahwa merintis usaha tidak cukup hanya dengan keberanian untuk memulai. Pemahaman terhadap kebutuhan pasar, penguasaan pengetahuan, perencanaan yang matang, serta konsistensi menjadi sejumlah hal yang diperlukan dalam mengembangkan bisnis.

Melalui talk show ini, mahasiswa diajak untuk melihat kewirausahaan sebagai salah satu alternatif pengembangan karier, terlepas dari latar belakang pendidikan yang ditempuh. Pengalaman kedua alumni tersebut juga memberikan gambaran bahwa peluang usaha dapat berawal dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bisnis.

Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.