Reporter: Nelly Nadezda Berzanti Novna
Suara USU, Medan. Tim Herbacorn dari Program Studi Sarjana Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), berhasil meraih penghargaan Best Poster dalam ajang The 12th UTU Awards International 2026 yang berlangsung di Universitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh, Aceh Barat, pada 21–24 September 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi obat herbal berbahan limbah rambut jagung dengan kapsul berbahan kitosan dari cangkang udang.
Kompetisi bertema “Step Up to Global” ini mencakup lima kategori, yaitu riset kewirausahaan, perencanaan bisnis, produk inovatif agro dan kelautan, desain toko daring, serta bisnis rintisan (startup). Melalui inovasi tersebut, Tim Herbacorn berupaya mengolah limbah menjadi produk bernilai guna, khususnya dalam pengembangan alternatif berbahan alami untuk kesehatan.
Tim Herbacorn terdiri atas Keyline Karina Pinem, Sella Rosmadani Siregar, dan Miftahulsanah Saliska dengan bimbingan dosen Muhammad Zulham Efendi Sinaga, S.Si., M.Si. Pengembangan inovasi dilakukan sejak Juni hingga September 2026.
Salah satu anggota tim, Keyline Karina Pinem, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari tingginya angka penderita diabetes, termasuk di Indonesia. Tim ingin mengembangkan obat herbal berbahan alami sebagai alternatif yang berpotensi memiliki efek samping lebih rendah dibandingkan obat komersial.
“Penting, karena balik ke latar belakang banyaknya orang terkena diabetes dan masih menggunakan obat komersil. Di sini kami mencoba untuk yang lebih minim efek samping dengan menggunakan bahan dari alam,” ujar Keyline.
Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan rambut jagung sebagai bahan dasar obat herbal, sedangkan kitosan dari cangkang udang digunakan sebagai bahan kapsul. Pemilihan kedua bahan tersebut didasarkan pada upaya memanfaatkan limbah menjadi produk yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Selama proses penelitian, tim menghadapi kendala dalam pembuatan kapsul dan penyempurnaan prototipe. Proses pencetakan kapsul menjadi salah satu tantangan karena menyulitkan penyempurnaan bentuk akhir produk yang akan dipresentasikan dalam kompetisi.
“Tantangannya saat pembuatan kapsul yang dicetak, sehingga sulit menjelaskan akhir jadi obat yang telah dibuat (prototype),” jelas Keyline.
Selain kendala teknis, tim juga belum dapat memastikan harga pokok produksi (HPP) kapsul obat yang dikembangkan. Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan untuk mendukung pengembangan produk pada tahap berikutnya.
“Pada saat presentasi, jadi belum memastikan HPP dari kapsul obat tersebut,” tambahnya.
Meski menghadapi sejumlah kendala, Tim Herbacorn berhasil meraih Best Poster melalui inovasi yang menggabungkan pemanfaatan limbah rambut jagung dan kitosan dari cangkang udang. Pencapaian ini menjadi pengalaman bagi tim untuk mengembangkan penelitian sekaligus menyempurnakan produk yang telah dirancang.
Ke depan, Keyline berharap penelitian tersebut dapat dilanjutkan hingga menghasilkan produk yang siap dimanfaatkan masyarakat. Ia juga berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk komersial yang memberikan manfaat, khususnya bagi penderita diabetes.
“Harapannya riset ini dapat dikembangkan lagi, sehingga dapat dijadikan produk komersil yang dapat membantu masyarakat, khususnya orang yang terkena penyakit diabetes,” tutup Keyline.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment