Home Tulisan Menolong Dulu atau Sibuk Merekam, Dilema Mahasiswa saat Melihat Kecelakaan
Tulisan

Menolong Dulu atau Sibuk Merekam, Dilema Mahasiswa saat Melihat Kecelakaan

Share

Oleh: Jessica Clarissa T, Harnesya Cendekya BR Peranginangin, Fersi Cahyani Zega, Muhammad Alfaqih Daeng Parenrengi, Kayla Khalisa, Vera Artha Mevia, Kristin HotmarlinaSihite, Ira Mareta Sinaga. 

Kejadian darurat atau kecelakaan di jalanan sering kali kita temui secara mendadak. Namun, di era digital sekarang, pemandangan orang yang refleks mengeluarkan ponsel untuk merekam justru semakin sering terlihat dibandingkan yang langsung turun tangan. Padahal, memperlakukan korban secara manusiawi dan mengutamakan keselamatan mereka merupakan hal yang mendasar. Fenomena ini membuat sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) tergerak untuk mencari tahu bagaimana sebenarnya respons anak muda ketika menemui situasi darurat di sekitar mereka.

Lewat riset kualitatif yang dilakukan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, mereka mewawancarai sembilan mahasiswa yang pernah mengalami langsung situasi darurat. Hasilnya cukup beragam. Sebagian besar mahasiswa memilih mencari bantuan kepada warga sekitar atau memastikan sudah ada yang menghubungi petugas medis/kepolisian. Ada juga yang berani turun tangan langsung untuk menolong, sementara sisanya memilih melintas karena lokasi sudah ditangani, bahkan ada yang hanya terpaku karena syok.

Riset ini menemukan bahwa pertimbangan utama mereka untuk bertindak adalah rasa aman dan kemampuan diri. Kebanyakan mahasiswa memahami bahwa untuk menolong, situasi sekitar harus aman terlebih dahulu dan mereka perlu tahu apa yang harus dilakukan. Namun, jika masih bingung harus berbuat apa, mencari bantuan orang lain menjadi opsi paling masuk akal. Rasa takut dituduh sebagai penyebab kecelakaan juga sempat menjadi pertimbangan tersendiri bagi beberapa orang.

Soal merekam, para responden sepakat bahwa ponsel sering kali dipegang secara spontan karena panik atau sekadar ingin mendapatkan konten. Merekam sebenarnya tidak selalu buruk jika tujuannya untuk bukti hukum atau mencegah salah paham. Akan tetapi, mayoritas mahasiswa tegas menyatakan bahwa merekam sama sekali tidak boleh menjadi prioritas utama. Menolong korban harus tetap nomor satu.

Sikap untuk tidak menjadikan korban sebagai tontonan atau bahan konten ini sejalan dengan nilai Sila Kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Menjaga martabat dan privasi korban di saat kritis adalah bentuk empati nyata yang harus dimiliki setiap individu.

Dari temuan ini, tim peneliti menyarankan pentingnya edukasi pertolongan pertama (First Aid) di lingkungan kampus. Pengetahuan dasar medis dan sosialisasi etik mendokumentasikan kejadian darurat dapat membuat mahasiswa lebih siap dan bernalar saat menghadapi situasi kritis, tanpa perlu mengorbankan rasa kemanusiaan demi sekadar rekaman video.

Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Bapak Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.