Oleh: Nelly Nadezda Berzanti Novna
Suara USU, Medan. Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dikenal sebagai kawasan sakral yang menyimpan sejarah dan nilai spiritual masyarakat Batak. Selain menawarkan panorama Danau Toba dari ketinggian, gunung ini dipercaya dalam tradisi lisan Batak sebagai tempat asal-usul Si Raja Batak, leluhur yang dikaitkan dengan berkembangnya berbagai marga Batak.
Gunung dengan ketinggian sekitar 1.972 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terletak di kawasan Sianjur Mula-Mula dan Pangururan, Kabupaten Samosir. Pusuk Buhit menjadi bagian dari bentang alam Kaldera Toba sekaligus kawasan yang menyimpan situs budaya dan cerita leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam tradisi masyarakat Batak, kisah Si Raja Batak menjadi bagian dari tarombo atau silsilah keluarga yang masih dipelihara hingga kini. Kepercayaan tersebut menjadikan Pusuk Buhit bukan sekadar kawasan alam, melainkan juga ruang yang menghubungkan masyarakat dengan asal-usul dan identitas budayanya.
Nilai spiritual kawasan ini masih bertahan hingga sekarang. Dalam pemberitaan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) berjudul “Jejak Batak, Siraja Batak”, seorang warga Sianjur Mula-Mula bernama Pak Sagala menceritakan bahwa Pusuk Buhit masih dikunjungi orang-orang untuk keperluan spiritual.
“Sampai sekarang masih banyak orang dari luar daerah datang untuk sekadar berdoa dan memohon hajat di Pusuk Buhit,” kata Sagala dalam pemberitaan BPODT.
Selain berkaitan dengan cerita leluhur, kawasan Pusuk Buhit juga memiliki situs bersejarah, salah satunya Batu Hobon. Situs berbentuk peti batu megalitikum ini dipercaya dalam tradisi setempat sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka peninggalan leluhur. Di kawasan Sianjur Mula-Mula, pengunjung juga dapat mengenal perkampungan tradisional yang memperlihatkan kehidupan dan warisan budaya masyarakat Batak.
Pusuk Buhit menawarkan beragam daya tarik wisata alam. Salah satunya ialah jalur pendakian yang melintasi padang sabana dengan panorama Danau Toba dari berbagai arah. Dari ketinggian, pengunjung dapat menikmati bentang alam danau serta perbukitan yang mengelilinginya. Jalur ini menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus menjelajahi kawasan Pusuk Buhit.
Daya tarik lainnya ialah pemandian air panas Aek Rangat yang berada di kawasan Siogung Ogung, Pangururan. Pemandian ini menjadi salah satu pilihan wisata bagi pengunjung yang ingin beristirahat setelah menikmati kawasan Danau Toba. Keberadaan situs budaya, perkampungan tradisional, jalur pendakian, dan pemandian air panas membuat kawasan Pusuk Buhit menawarkan pengalaman wisata yang memadukan sejarah, budaya, dan alam.
Upaya pelestarian kawasan tersebut turut dibahas Pemerintah Kabupaten Samosir melalui diskusi kelompok terarah focus group discussion (FGD) pada Maret 2022. Dalam forum tersebut, Pusuk Buhit dibahas sebagai titik awal peradaban Batak dan direncanakan terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona sakral di bagian puncak, zona penyangga di bagian tengah, serta zona pemanfaatan atau pengembangan di kaki gunung. Pembagian ini diarahkan untuk mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata yang memperhatikan lingkungan.
Pengembangan Pusuk Buhit sebagai destinasi wisata budaya perlu berjalan seiring dengan pelestarian alam dan penghormatan terhadap kepercayaan masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan juga penting untuk menjaga situs bersejarah, memperkenalkan budaya Batak kepada generasi muda, dan membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Pusuk Buhit bukan hanya bagian dari bentang alam Danau Toba, tetapi juga memiliki makna dalam sejarah dan identitas masyarakat Batak. Pelestarian kawasan ini menjadi upaya untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi mendatang, sekaligus mendukung pengembangan pariwisata budaya di Kabupaten Samosir.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment