Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi
Suara USU, Medan. Roma tidak hanya dikenal sebagai kota yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai tempat berdirinya Colosseum, salah satu bangunan peninggalan Romawi yang masih dapat disaksikan hingga kini. Bangunan di pusat Kota Roma ini dahulu menjadi tempat berbagai pertunjukan masyarakat Romawi, sekaligus memperlihatkan kemampuan mereka dalam membangun arena berukuran besar dengan berbagai fungsi.
Colosseum mulai dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Vespasian sekitar tahun 72 M dan selesai pada masa pemerintahan putranya, Titus, sekitar tahun 80 M. Bangunan yang dikenal juga sebagai Flavian Amphitheatre ini memiliki bentuk elips dengan panjang sekitar 188 meter dan lebar 156 meter. Pada masa penggunaannya, Colosseum diperkirakan mampu menampung puluhan ribu penonton dalam satu waktu.
Pada masa Romawi, Colosseum digunakan sebagai tempat berbagai pertunjukan untuk masyarakat. Pertarungan gladiator menjadi salah satu pertunjukan yang paling dikenal. Selain itu, arena ini juga digunakan untuk perburuan hewan, eksekusi, dan pertunjukan lainnya. Beragam kegiatan tersebut membuat Colosseum membutuhkan ruang yang luas serta sistem yang mampu mendukung jalannya pertunjukan dan pergerakan penonton.
Salah satu bagian menarik dari Colosseum adalah bentuk bangunannya yang menyerupai elips. Bentuk ini menempatkan arena di tengah, dikelilingi oleh tempat duduk penonton. Susunan tersebut memungkinkan penonton menyaksikan pertunjukan dari berbagai sisi. Tempat duduknya juga dibagi ke dalam beberapa bagian berdasarkan kedudukan sosial masyarakat Romawi. Kaisar, senator, dan masyarakat biasa menempati area yang berbeda.
Selain memperhatikan susunan tempat duduk, pembangunan Colosseum juga mempertimbangkan pergerakan penonton. Bangunan ini memiliki banyak pintu masuk, lorong, dan tangga yang menghubungkan berbagai area tempat duduk. Jalur-jalur tersebut membantu penonton mencapai tempat masing-masing sekaligus memudahkan pergerakan di dalam bangunan. Dengan kapasitas yang mencapai puluhan ribu orang, pengaturan akses menjadi bagian penting dalam menunjang penggunaan Colosseum.
Kecanggihan Colosseum juga terlihat pada bagian bawah arenanya. Di bawah lantai Colosseum terdapat hypogeum, yaitu jaringan ruang dan lorong bawah tanah yang digunakan untuk mendukung pertunjukan. Area ini dilengkapi berbagai mekanisme untuk mengangkat manusia, hewan, dan perlengkapan ke arena. Sistem tersebut memungkinkan kemunculan peserta maupun perlengkapan pertunjukan dari bawah lantai, sehingga mendukung jalannya acara.
Dari segi konstruksi, Colosseum menggunakan berbagai material, seperti travertine, batu tufa, dan beton Romawi. Bangunannya dilengkapi pilar, lengkungan, serta lorong berkubah yang membantu menopang struktur secara keseluruhan. Penggunaan material dan teknik konstruksi tersebut memungkinkan masyarakat Romawi membangun arena berukuran besar yang mampu bertahan selama berabad-abad, meskipun sebagian bangunannya mengalami kerusakan.
Bentuk bangunan Colosseum juga berkaitan dengan pengalaman penonton. Meskipun belum menggunakan mikrofon dan pengeras suara modern, arena yang dikelilingi tempat duduk memungkinkan pertunjukan disaksikan dari berbagai arah. Bentuk bangunan dan susunan ruangnya turut memengaruhi akustik di dalam arena, meskipun pengalaman mendengar penonton dapat berbeda berdasarkan posisi tempat duduk.
Seiring berjalannya waktu, Colosseum mengalami berbagai kerusakan, antara lain akibat gempa bumi. Sebagian material bangunannya juga pernah digunakan kembali untuk pembangunan lain di Roma. Perubahan fungsi dan kerusakan tersebut membuat bentuk Colosseum yang terlihat sekarang tidak sepenuhnya sama dengan bangunan aslinya. Meski begitu, bagian yang masih bertahan tetap memperlihatkan karakter utama arsitektur amfiteater Romawi.
Kini, Colosseum tidak lagi digunakan sebagai tempat pertunjukan seperti pada masa Romawi. Bangunan ini menjadi salah satu peninggalan sejarah yang menarik wisatawan dari berbagai negara. Di balik bentuknya yang megah, Colosseum menyimpan berbagai unsur perencanaan, mulai dari pembagian tempat duduk dan jalur pergerakan penonton hingga ruang pendukung pertunjukan dan teknik konstruksi.
Hampir dua ribu tahun setelah pertama kali dibangun, Colosseum masih memperlihatkan kemampuan masyarakat Romawi dalam menciptakan bangunan dengan fungsi yang kompleks. Keberadaannya menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur sejak masa lalu tidak hanya berkaitan dengan ukuran dan kekuatan bangunan, tetapi juga dengan cara ruang dirancang untuk menunjang berbagai kebutuhan manusia.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment