Home Life Style Melirik Digicam Lawas di Tengah Canggihnya Kamera Smartphone
Life Style

Melirik Digicam Lawas di Tengah Canggihnya Kamera Smartphone

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Suara USU, Medan. Coba perhatikan sekitar kamu saat menghadiri ulang tahun teman, menonton konser musik, atau sekadar nongkrong di kafe. Di antara banyaknya ponsel yang terangkat untuk mengambil gambar, terdapat satu benda yang kembali mencuri perhatian, yaitu kamera digital saku lawas atau yang lebih dikenal dengan sebutan digicam. Kamera yang sempat tergeser oleh kehadiran kamera ponsel ini kembali digemari, terutama oleh generasi muda yang justru tidak mengalami langsung masa kejayaannya.

Fenomena ini mungkin terdengar sedikit aneh. Ketika kamera ponsel sudah mampu menghasilkan foto yang tajam, jernih, dan kaya warna, mengapa sebagian anak muda justru tertarik menggunakan kamera digital lawas dengan resolusi rendah, lampu kilat yang menyala terang, dan warna foto yang terkadang kurang akurat? Bukankah perkembangan teknologi seharusnya membuat kita memilih perangkat yang semakin canggih?

Namun, mungkin persoalannya bukan tentang kemajuan atau kemunduran teknologi. Anak muda kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mengabadikan momen, termasuk memilih kamera yang hasil fotonya tidak selalu sempurna. Di tengah kecanggihan kamera ponsel, digicam menawarkan pengalaman memotret yang berbeda. Bahkan, ketidaksempurnaan yang dihasilkannya justru menjadi daya tarik tersendiri.

Kamera ponsel modern, terutama pada perangkat kelas atas, dilengkapi teknologi pemrosesan gambar komputasional yang mampu mengurangi noise, menyesuaikan pencahayaan, mempertajam detail, dan mengolah warna secara otomatis. Teknologi ini membantu menghasilkan foto yang lebih jelas dalam berbagai kondisi. Namun, bagi sebagian orang, hasil yang terlalu bersih dan terolah justru terasa kurang sesuai dengan suasana yang ingin mereka abadikan. Foto yang dihasilkan pun terkadang memiliki tampilan serupa karena menggunakan teknologi dan gaya pemrosesan yang tidak jauh berbeda.

Di sinilah digicam menawarkan pengalaman yang berbeda. Lampu kilat yang terlalu terang, warna yang sedikit melenceng, fokus yang terkadang meleset, hingga bintik-bintik pada foto dalam kondisi minim cahaya dapat menghasilkan tampilan yang khas. Alih-alih dianggap sebagai kekurangan, karakter tersebut justru memberikan kesan spontan dan bernuansa lawas. Foto tidak harus selalu terlihat sempurna untuk menyimpan cerita yang berkesan.

Menariknya, banyak anak muda yang kini tertarik pada digicam justru lahir setelah masa kejayaan kamera tersebut berlalu. Mereka mungkin tidak memiliki kenangan pribadi menggunakan Canon IXUS atau Sony Cyber-shot saat masih kecil. Meskipun begitu, ketertarikan terhadap kamera lawas tetap tumbuh, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup sebagian anak muda.

Dikutip dari Bisnis.com, Paul Greenwood, kepala penelitian di agensi kreatif We Are Social, menjelaskan kepada BBC bahwa tren digicam merupakan bagian dari siklus budaya. Menurutnya, ketika memasuki usia 20-an, generasi muda cenderung tertarik pada budaya dari masa sebelumnya, termasuk tren yang pernah akrab dengan generasi orang tua mereka. Ketertarikan ini turut mendorong Generasi Z untuk mengeksplorasi estetika era 2000-an yang kini kembali populer.

Dalam konteks ini, nostalgia tidak selalu berarti mengingat sesuatu yang pernah dialami secara langsung. Nostalgia juga bisa muncul dari ketertarikan terhadap masa lalu yang hanya dikenal melalui cerita, foto, film, atau media sosial. Bagi generasi yang tumbuh dengan layar beresolusi tinggi dan kamera ponsel canggih, foto-foto dari era 2000-an menawarkan pengalaman visual yang berbeda. Sesuatu yang dahulu dianggap biasa saja kini bisa terlihat menarik karena menghadirkan nuansa yang tidak banyak ditemukan dalam foto modern.

Media sosial juga berperan dalam memperluas popularitas tren ini. TikTok dan Instagram dipenuhi unggahan foto hasil jepretan digicam dengan keterangan seperti core memory atau 2009 vibes. Melalui algoritma rekomendasi, konten tersebut bisa menjangkau pengguna yang sebelumnya tidak pernah tertarik pada kamera digital lawas. Rasa penasaran kemudian mendorong sebagian anak muda untuk mencari dan membeli kamera bekas melalui lokapasar, toko barang bekas, maupun penjual kamera lawas.

Besarnya perhatian terhadap tren ini juga terlihat dari data yang dikutip Bisnis.com dari Today Online. Pada Februari 2024, lebih dari 75.000 video terkait digicam telah diunggah di TikTok. Angka tersebut menunjukkan tingginya perhatian pengguna terhadap tren kamera digital lawas pada periode tersebut, meskipun tidak serta-merta menggambarkan jumlah orang yang benar-benar membeli atau menggunakannya.

Popularitas digicam juga berkaitan dengan kemunculannya dalam konten para selebritas dan pemengaruh (influencer). Ketika kamera lawas mulai terlihat dalam berbagai unggahan mereka, perangkat tersebut tidak lagi sekadar berfungsi untuk mengambil gambar. Digicam juga menjadi aksesori yang melengkapi gaya berpakaian dan estetika Y2K, yang identik dengan tren awal tahun 2000-an, seperti celana low-rise dan tas mini. Daya tariknya tidak hanya terletak pada hasil foto, tetapi juga pada pengalaman menggunakan perangkat yang berbeda dari kebanyakan orang.

Di balik tren visual ini, terdapat juga hal lain yang menarik untuk diperhatikan. Sebagian anak muda mulai mencari pengalaman memotret yang tidak terlalu berorientasi pada hasil sempurna. Di media sosial, foto sering kali dipilih, disunting, dan disesuaikan sebelum diunggah. Kebiasaan tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi bisa terasa melelahkan ketika setiap momen seolah harus menghasilkan konten yang menarik untuk dilihat orang lain.

Dalam situasi seperti itu, digicam bisa menjadi alternatif untuk menikmati kegiatan memotret dengan cara yang lebih sederhana. Pengguna cukup membidik, menekan tombol, lalu melihat hasilnya. Tidak semua kamera digital lawas memiliki fitur penyuntingan selengkap ponsel modern, sehingga proses pengambilan gambar menjadi lebih langsung. Ketika hasilnya sedikit buram atau pencahayaannya kurang merata, pengguna bisa memilih untuk menerimanya sebagai bagian dari karakter foto tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan pembahasan mengenai kembali populernya kamera digital dalam sebuah artikel Her Campus yang merujuk pada liputan NPR. Tren digicam dipandang sebagai bentuk pemberontakan terhadap dominasi ponsel, terutama karena kamera terpisah memungkinkan penggunanya mengambil gambar tanpa harus membuka berbagai aplikasi yang tersedia di ponsel. Dengan begitu, perhatian bisa lebih terarah pada kegiatan yang sedang dijalani, bukan hanya pada proses menghasilkan dan membagikan konten.

Meskipun demikian, menggunakan digicam tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari tekanan media sosial. Foto yang dihasilkan tetap bisa disunting, dipilih, dan diunggah demi mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, daya tarik kamera digital lawas tidak seharusnya dipahami sebagai solusi atas kebiasaan mengkurasi kehidupan di dunia maya. Tren ini lebih tepat dilihat sebagai salah satu cara yang dipilih sebagian anak muda untuk memperoleh pengalaman memotret yang berbeda.

Dari sisi pasar, meningkatnya perhatian terhadap digicam juga membuka peluang bagi penjual kamera bekas. Berbagai model lawas kembali dicari karena memiliki karakter gambar dan desain yang khas. Harga kamera pun bervariasi, bergantung pada merek, model, kondisi perangkat, kelengkapan aksesori, dan kelangkaannya. Tren ini menunjukkan bahwa perangkat yang pernah dianggap ketinggalan zaman masih memiliki daya tarik bagi konsumen masa kini.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa makna foto yang bagus bisa berbeda bagi setiap orang. Jika kamera ponsel unggul dalam menghasilkan gambar yang tajam dan praktis, kamera digital lawas menawarkan karakter visual serta pengalaman memotret yang tidak selalu bisa digantikan oleh perangkat modern.

Bagi sebagian anak muda, foto yang berkesan bukanlah foto dengan kualitas paling tinggi, melainkan foto yang mampu mengingatkan mereka pada suatu momen. Ada wajah teman yang terkena lampu kilat terlalu terang, gambar yang sedikit buram, atau warna yang terasa seperti foto dari album keluarga bertahun-tahun lalu. Ketidaksempurnaan itu mungkin tidak membuat foto terlihat lebih bagus secara teknis, tetapi bisa membuatnya terasa lebih personal.

Kamera seharga Rp400 ribuan pun bisa memiliki nilai tersendiri jika mampu mengabadikan momen yang berarti. Bukan berarti kamera tersebut selalu lebih baik daripada ponsel seharga Rp20 juta, melainkan karena keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, sebuah foto tetap memiliki nilai bukan hanya dari seberapa tajam hasilnya, tetapi juga dari cerita yang tersimpan di dalamnya.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.