Home Life Style Photobox, Ritual Nongkrong Baru di Kalangan Gen Z 
Life Style

Photobox, Ritual Nongkrong Baru di Kalangan Gen Z 

Share

Oleh: Nazwa Aisyara 

Suara USU, Medan. Di tengah perkembangan kamera smartphone yang semakin canggih, tren berfoto menggunakan photobox justru kembali ramai di kalangan anak muda. Bilik foto yang sempat identik dengan tren awal 2000-an tersebut kini hadir dengan berbagai konsep yang lebih modern dan semakin mudah ditemukan, mulai dari pusat perbelanjaan, kafe, hingga creative space.

Bagi Generasi muda atau Gen Z, mengunjungi photobox bukan lagi sekadar kegiatan untuk mendapatkan dokumentasi bersama. Aktivitas tersebut perlahan menjadi bagian dari agenda ketika berkumpul bersama teman, pasangan, maupun keluarga. Tidak jarang, photobox menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan setelah makan, berjalan-jalan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. 

Kembalinya photobox di tengah kemudahan mengambil gambar melalui smartphone menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak sepenuhnya menghilangkan ketertarikan terhadap fotografi dalam bentuk fisik. Justru, konsep photobox yang semakin beragam membuat aktivitas ini memiliki pengalaman berbeda dibandingkan sekadar mengambil foto menggunakan kamera ponsel. Pengunjung tidak hanya mendapatkan hasil foto, tetapi juga menikmati proses memilih pose, menggunakan properti, menentukan bingkai, hingga menunggu hasil cetakan keluar dari mesin. 

Batas waktu yang diberikan dalam setiap sesi juga membuat proses berfoto terasa lebih spontan. Pengunjung harus menentukan pose dalam hitungan detik, sehingga hasil yang didapat tidak selalu harus sempurna. Pose yang gagal, ekspresi spontan, hingga momen tertawa bersama justru menjadi bagian dari pengalaman yang membuat aktivitas tersebut terasa lebih menyenangkan. 

Daya tarik lainnya terletak pada hasil foto yang dapat langsung dibawa pulang. Di tengah kebiasaan menyimpan ribuan foto di galeri smartphone, mendapatkan foto dalam bentuk fisik memberikan pengalaman yang berbeda. Hasil cetakan tersebut dapat disimpan di dompet, ditempel di balik casing ponsel, dijadikan dekorasi kamar, dimasukkan ke dalam jurnal, atau diberikan kepada orang terdekat. 

Foto fisik juga membuat sebuah momen terasa lebih nyata. Dokumentasi yang sebelumnya hanya tersimpan sebagai file digital, kini dapat dilihat dan disentuh kembali. Bagi sebagian anak muda, lembaran foto tersebut bahkan memiliki nilai sentimental karena menjadi pengingat terhadap momen yang pernah dilewati bersama teman maupun pasangan. 

Selain hasil cetaknya, tampilan visual juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tren photobox. Berbagai tempat menawarkan konsep mulai dari vintage, retro, Y2K, hingga gaya self photo studio yang terinspirasi dari Korea Selatan. Pilihan bingkai, pencahayaan, efek, stiker, dan properti membuat hasil foto memiliki karakter yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Konsep tersebut semakin cocok dengan kebiasaan Gen Z yang dekat dengan media sosial. Foto yang awalnya diambil untuk menjadi kenang-kenangan bersama kemudian dapat dibagikan kembali melalui Instagram Story atau TikTok. Dengan begitu, aktivitas photobox yang dilakukan secara langsung tetap memiliki keterkaitan dengan kehidupan digital. 

Popularitas photobox juga tidak terlepas dari pengaruh budaya populer, terutama tren foto four-cut yang berkembang dari Korea Selatan. Konsep beberapa foto dalam satu lembar tersebut kemudian semakin dikenal oleh anak muda dan berkembang dalam berbagai bentuk di Indonesia. Media sosial turut membuat tren ini lebih cepat menyebar karena hasil foto yang estetik mudah dibagikan dan menjadi inspirasi bagi orang lain. 

Dengan demikian, Photobox bukan hanya tentang mendapatkan beberapa lembar foto. Aktivitas ini menawarkan pengalaman untuk berkumpul, berekspresi, bercanda, dan menciptakan kenangan bersama orang-orang terdekat. Di tengah kehidupan digital yang serba cepat dan praktis, tren photobox menunjukkan bahwa Gen Z masih mencari pengalaman yang dapat dirasakan secara langsung dan kenangan yang dapat disimpan dalam bentuk nyata. 

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.