Oleh: Theresa Melyasari
Suara USU, Medan. Belakangan ini, fenomena downgrade lifestyle semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini menggambarkan perubahan gaya hidup seseorang yang mulai menurunkan standar pengeluarannya. Mulai dari mengganti transportasi yang lebih terjangkau, mengurangi kebiasaan nongkrong, memilih barang dengan harga lebih terjangkau, hingga menunda pembelian barang yang sebelumnya dianggap mampu untuk dipenuhi. Sekilas, perubahan ini terlihat seperti bentuk kesadaran finansial. Masyarakat mulai belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar apakah masyarakat memang sedang memilih hidup lebih sederhana, atau justru keadaan ekonomi yang membuat mereka harus menurunkan standar hidupnya?
Fenomena ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan pada Oktober 2026, sehingga inflasi tahunan mencapai 3,23 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga meningkat dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Angka ini mungkin tidak terlihat terlalu besar bagi sebagian orang, tetapi dampaknya terasa dalam pengeluaran sehari-hari. Misalnya kenaikan harga komoditas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti cabai merah, cabai rawit, dan tomat yang menjadi penyumbang inflasi bulanan Oktober.
Tekanan harga tidak berhenti pada bumbu dapur. BPS juga mencatat bahwa hingga minggu pertama Oktober 2026, harga beras seluruh kualitas masih mengalami kenaikan di 116 kabupaten/kota. Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 4,87 persen, yang turut didorong oleh kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara. Artinya, pengeluaran masyarakat tidak hanya bertambah untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga untuk menunjang mobilitas sehari-hari. Ketika harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi meningkat, ruang bagi masyarakat untuk membelanjakan uangnya pada kebutuhan lain tentu semakin terbatas.
Fenomena downgrade lifestyle lebih dari sekadar tren menghemat uang. Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa dalam kajian keluarga dan konsumen, perilaku tersebut merupakan bentuk coping strategy, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap mampu bertahan di tengah tekanan. Menurutnya, penurunan gaya hidup yang terjadi saat ini, khususnya pada kelompok kelas menengah, banyak dipengaruhi oleh pendapatan yang relatif tidak bertambah, harga kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat, serta kewajiban cicilan yang membatasi ruang keuangan keluarga.
Prof. Megawati juga menekankan bahwa perilaku berhemat yang terlihat sama belum tentu memiliki alasan yang sama. Ketika seseorang memilih produk yang lebih murah karena sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan, hal tersebut merupakan keputusan yang positif. Namun, ketika seseorang melakukannya karena kondisi keuangan keluarga semakin melemah, hal itu justru menjadi sinyal ekonomi yang perlu diperhatikan. Dengan kata lain, tidak semua orang yang mengurangi pengeluaran sedang menerapkan gaya hidup minimalis. Sebagian mungkin memang sedang berusaha mempertahankan kondisi keuangannya agar tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah dampak berantai dari fenomena ini. Ketika kelompok kelas menengah mulai mengurangi belanja, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh konsumen tetapi juga oleh pelaku usaha. Restoran, kafe, pusat perbelanjaan, industri fesyen, pariwisata, hingga UMKM berpotensi mengalami penurunan permintaan. Prof. Megawati mengingatkan bahwa kondisi ini dapat membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Ketika masyarakat mengurangi konsumsi, pendapatan pelaku usaha dan pekerjanya dapat ikut tertekan. Pada akhirnya, mereka pun berpotensi kembali mengurangi pengeluaran. Jika berlangsung dalam waktu lama penurunan konsumsi tersebut dapat melemahkan salah satu fondasi penting perekonomian nasional.
Meski demikian, downgrade lifestyle tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Perubahan pola konsumsi dapat mendorong masyarakat menjadi lebih bijak dalam mengatur keuangan, meningkatkan tabungan, dan beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau. Namun, kita perlu berhati-hati agar perubahan ini tidak semata-mata dianggap sebagai tren positif atau keberhasilan masyarakat dalam hidup hemat. Ada perbedaan besar antara seseorang yang mampu memilih hidup sederhana dan seseorang yang harus hidup lebih sederhana karena keterbatasan ekonomi.
Pada akhirnya, persoalan yang perlu diperhatikan bukanlah mengapa semakin jarang masyarakat berbelanja atau mulai meninggalkan gaya hidup konsumtif. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa semakin banyak orang merasa perlu mengurangi pengeluaran demi mempertahankan kestabilan keuangannya. Masyarakat memang perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan, tetapi upaya tersebut harus diiringi dengan kondisi yang mendukung, seperti pendapatan yang layak, kesempatan kerja yang baik, dan harga kebutuhan pokok yang terjangkau.
Sebab, keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan nasional, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat mampu merasakan hasil pertumbuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hidup sederhana tentu bukan masalah. Namun, ketika kesederhanaan berubah menjadi strategi untuk bertahan dari tekanan ekonomi sulit, kita perlu melihatnya sebagai sesuatu yang lebih serius daripada sekadar tren di media sosial.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment