Reporter: Dhita Luna & Dinda Sajidah
Suara USU, Medan. Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menggelar festival budaya tahunan Aotake Matsuri 2026. Berlangsung selama dua hari (23-24/10), festival ini memadukan kesenian tradisional Jepang dengan sentuhan budaya lokal Nusantara.
Berbeda dari edisi sebelumnya, panitia tahun ini mengusung tema khusus yang mengangkat cerita rakyat dan roh dalam kebudayaan Jepang. Ketua Pelaksana Aotake Matsuri 2026, Jonathan Tono, menyebutkan bahwa tema ini dipilih untuk menonjolkan sisi kebudayaan tradisional Jepang yang jarang diangkat dalam gelaran serupa.
“Tahun ini kami mengambil tema yang jarang diangkat, yaitu unsur tradisional Yokai no Matsuri yang berkaitan dengan cerita rakyat dan roh Jepang. Festival ini aslinya dirayakan pada bulan sembilan, namun karena pelaksanaannya berdekatan dengan bulan sepuluh yang identik dengan Halloween, jadi kami kombinasikan tanpa menghilangkan budaya tradisionalnya,” jelas Jonathan (23/10).
Nuansa akulturasi budaya langsung terasa pada hari pertama. Panggung utama dibuka dengan Tarian Persembahan Melayu dan Batak, dilanjutkan dengan aksi bela diri dari UKM Kendo serta penampilan tarian dari Medan Yosakoi Team. Puncak seremonial ditandai dengan iring-iringan Parade Omikoshi yang diiringi tabuhan alat musik Taiko. Pembukaan ini turut dihadiri jajaran dekanat, termasuk Dekan FIB USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., dan Ketua Program Studi Sastra Jepang, Alimansyar, S.S., M.A., Ph.D.
Pada hari kedua, panggung semakin diramaikan oleh berbagai penampilan. Pengunjung disuguhkan Dance Competition dan Random Play Dance, disusul hiburan musik dari Moe Jidai Densetsu, Sastra Musika, Shanghai Karate Club, dan Komunal Primitif. Seluruh panitia dan pengunjung kemudian membaur dalam tarian Bon Odori bersama sebelum festival ditutup dengan pertunjukan kembang api dalam sesi Hanabi Taikai.
Keramaian festival ini turut menarik perhatian mahasiswa dari luar Program Studi Sastra Jepang. Humairah Hunaifiyah Al-layalin Manik, mahasiswi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, mengaku awalnya datang ke kampus hanya untuk mengurus pendaftaran wisuda.
“Jujur, aku sebenarnya hari ini datang mau daftar wisuda dan tidak tahu ada acara ini. Tapi ternyata acaranya sangat menyenangkan dan banyak kegiatan menarik. Kesan pertama aku, pesertanya benar-benar effort banget dan datang dengan persiapan penuh, jadi aku tidak menyesal hari ini datang ke kampus,” tutur Humairah (23/10).
Humairah juga menyarankan agar promosi acara ke depannya lebih digencarkan sehingga kemeriahan serupa dapat dinikmati oleh lebih banyak mahasiswa.
Di sisi lain, Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang, Naina Azahra, merasa puas dengan jalannya acara. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh panitia yang berhasil menciptakan ruang eksplorasi budaya bagi masyarakat.
“Sejauh ini semuanya sudah bekerja dengan sangat baik, walaupun ada kesalahan-kesalahan kecil yang merupakan human error wajar. Saya tetap mengapresiasi sebesar-besarnya, hal itu sama sekali tidak mengurangi esensi kemeriahan acara ini,” ucap Naina (23/10).
Naina memastikan pihaknya akan terus menyempurnakan pelaksanaan Aotake Matsuri pada tahun-tahun mendatang.
“Untuk inovasinya, yang pasti kita tetap mempertahankan apa yang sudah ada dan bakal buat yang lebih menarik lagi. Tidak sekadar ajang cosplay atau rumah hantu, pokoknya semua akan kami optimalkan dari tahun ke tahun,” pungkasnya.
Redaktur: Emia Timentha Tarigan
Leave a comment