Reporter: Abdullah Umar AL Faruk
Suara USU, Medan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) menyelenggarakan kegiatan International Summer Course ke-3 bertajuk “The 4th Empowerment Practices for Disadvantaged People” di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Serikat Petani Indonesia (SPI), Parapat, hingga Samosir pada Minggu (25/10/2026) sampai Kamis (29/10/2026). Kegiatan internasional berdurasi lima hari ini diikuti oleh para peserta dari Malaysia, Vietnam, Pakistan, Nigeria, dan Aljazair untuk mempelajari persoalan pemberdayaan kelompok marjinal sekaligus menjelajahi kekayaan budaya di Sumatera Utara.
Selain mengikuti sesi materi di ruang kelas, para peserta internasional diajak berwisata akademik melalui kegiatan field trip ke sejumlah wilayah, seperti Alam Tani Desa Desa Pasar VI Kwala Mencirim, Parapat, dan Pulau Samosir. Melalui kunjungan lapangan ini, para mahasiswa dapat mengamati langsung praktik pemberdayaan masyarakat bagi kelompok marjinal di lapangan.
Ketua Pusat Kajian Agraria dan Hak Asasi Petani (PUSKAHAP) FISIP USU, Randa Putra Kasea Sinaga, S.Sos., M.Kesos., menjelaskan bahwa program summer course tahun ini terbagi ke dalam tiga fokus utama. Program pertama mengangkat topik kewirausahaan dalam kajian administrasi bisnis dan sosial, program kedua membahas kewirausahaan sosial dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), sedangkan program ketiga berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang termarjinalkan. “Summer course ini tidak hanya tentang perkuliahan, tetapi juga memperkenalkan budaya di Sumatera Utara. Setelah dari Pusdiklat SPI, kami membawa mereka menuju Samosir untuk melihat culture dan kehidupan masyarakat di sana,” ujar Randa.
Randa berharap kegiatan ini dapat membangun jejaring yang kuat antara mahasiswa USU dan mahasiswa asing. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya alokasi waktu persiapan yang lebih panjang serta dukungan pendanaan yang memadai agar jangkauan perekrutan peserta pada masa mendatang dapat meluas hingga ke Benua Eropa.
Salah satu peserta summer course asal Malaysia, Wahyu Badrun, menyampaikan harapannya agar hubungan kekeluargaan antara panitia dan peserta tidak terputus setelah rangkaian acara selesai. Ia menginginkan program bermanfaat ini dapat terus diselenggarakan secara rutin setiap tahun. “Saya harap program ini diteruskan secara tahunan sebab program ini memberikan banyak manfaat kepada pelajar dari berbagai latar belakang negara untuk mengenali suatu budaya. Contohnya, kami di program ini mengenal budaya suku Batak tentang cara hidup tradisional dan bagaimana masyarakat beradaptasi di pulau ini,” tuturnya.
Melalui International Summer Course ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan pemahaman mengenai pemberdayaan masyarakat marjinal yang telah dipelajari ke dalam aksi nyata di negara asal masing-masing. Selain itu, para peserta juga diharapkan dapat menjaga jejaring komunikasi dan hubungan kolaboratif lintas negara yang telah terbangun selama kegiatan.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment