Home Kabar Kampus Gerak Kata dan IMBA USU Gelar Diskusi Buku, Ajak Mahasiswa Bedah Stoisisme 
Kabar Kampus

Gerak Kata dan IMBA USU Gelar Diskusi Buku, Ajak Mahasiswa Bedah Stoisisme 

Share

Reporter: Abdullah Umar Al Faruk

Suara USU, Medan. Komunitas Gerak Kata berkolaborasi dengan Ikatan Mahasiswa Bahasa Arab (IMBA) menggelar diskusi buku bertajuk Di Bawah Pohon Rindang di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, pada Kamis (30/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 15.06 hingga 17.00 WIB ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca sekaligus menghadirkan ruang bertukar pikiran bagi mahasiswa dan masyarakat umum.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan perwakilan IMBA, dilanjutkan dengan pembukaan oleh moderator. Acara kemudian masuk ke sesi inti, yaitu pemaparan materi oleh Rifky Lian Syahputra selaku pendiri (founder) Komunitas Gerak Kata.

Dalam diskusi tersebut, Rifky membuka pembahasan dengan mengajukan pertanyaan reflektif kepada para peserta. “Apakah kalian pernah berusaha sesusah mungkin, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan?” tanyanya.

Pertanyaan tersebut menjadi pengantar bagi Rifky untuk memperkenalkan buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Ia kemudian menjelaskan salah satu konsep utama dalam Stoisisme, yakni dikotomi kendali (dichotomy of control). Konsep yang diperkenalkan oleh para filsuf Stoa ini membagi kehidupan menjadi dua hal, yaitu sesuatu yang berada dalam kendali manusia dan sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Menurut Rifky, kehidupan manusia sering kali terasa berat karena terlalu banyak energi, pikiran, dan emosi yang dicurahkan untuk mengatur hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali. Oleh karena itu, manusia perlu belajar membedakan hal-hal yang dapat diusahakan dan hal-hal yang harus diterima.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Salah seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara menghadapi perasaan tidak suka terhadap seseorang, terutama ketika keputusan untuk memutus hubungan (cut off) justru membuat seseorang terus memikirkannya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Rifky menjelaskan bahwa seseorang perlu mengakui dan memvalidasi perasaannya sendiri. Menurutnya, memiliki perasaan tidak nyaman merupakan hal yang wajar. Namun, seseorang juga perlu melatih diri untuk mengelola perasaan tersebut agar tidak terus-menerus terjebak dalam pikiran yang berlebihan (overthinking).

Pertanyaan lain membahas penerapan Stoisisme dalam kehidupan rumah tangga, khususnya ketika seseorang kehilangan pasangan hidup. Peserta mempertanyakan bagaimana konsep menerima sesuatu yang berada di luar kendali dapat diterapkan saat menghadapi kehilangan orang terdekat.

Rifky menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak abadi. Kehilangan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Ia mengingatkan bahwa pasangan dan orang-orang terdekat bukanlah milik manusia sepenuhnya. Justru karena kehidupan mereka terbatas, manusia perlu menghargai waktu bersama dan menciptakan kenangan yang baik selama masih memiliki kesempatan. “Jangan sampai ketika sudah kehilangan, kita baru menyadari betapa berharganya kehadiran mereka,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Stoisisme bukanlah pemahaman yang dapat diterapkan secara instan. Diperlukan proses dan latihan dalam waktu yang panjang untuk membentuk kemampuan mengelola emosi serta menerima berbagai keadaan kehidupan.

Lebih lanjut, Rifky turut memperkenalkan konsep kosmopolitanisme dalam Stoisisme, yakni pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari satu kesatuan masyarakat dunia. Dengan demikian, kepedulian seseorang tidak seharusnya terbatas pada lingkungan terdekat, tetapi juga mencakup sesama manusia dan kehidupan di bumi secara lebih luas.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan penyelenggara menjelaskan bahwa kolaborasi antara Gerak Kata dan IMBA berangkat dari kesamaan perhatian terhadap pengembangan literasi dan pengetahuan di lingkungan kampus.

Sementara itu, salah seorang peserta bernama Lana Olivia, mahasiswa Program Studi Sastra Arab stambuk 2024, menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan. Menurutnya, diskusi buku tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperluas sudut pandang dalam menyikapi dan menyelesaikan berbagai persoalan. “Jujur, saya sangat berharap diskusi buku seperti ini bisa diadakan lagi. Selain berdiskusi, kami juga mendapatkan pemikiran-pemikiran baru yang sebelumnya belum kami ketahui. Cara pandang kami menjadi lebih luas, terutama dalam menyikapi dan menyelesaikan permasalahan,” ungkap Lana.

Ia juga menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi pendekatan sederhana untuk memperkenalkan buku kepada mahasiswa yang belum memiliki kebiasaan membaca. Menurutnya, diskusi buku merupakan kegiatan sederhana, tetapi dapat memberikan dampak positif dalam menumbuhkan ketertarikan terhadap literasi.

Melalui kolaborasi ini, Gerak Kata dan IMBA berharap ruang diskusi dan kegiatan literasi dapat terus berkembang di lingkungan kampus. Selain meningkatkan minat baca, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya bertukar gagasan serta mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka terhadap berbagai sudut pandang.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.