Oleh: Intan Nurhaliza
Suara USU, Medan. Kue leker merupakan jajanan tradisional Nusantara bercita rasa manis dengan tekstur renyah yang banyak dijumpai di pinggir jalan. Jajanan berbentuk tipis ini biasanya dilipat menjadi setengah lingkaran dengan isian seperti pisang, cokelat, dan keju. Perpaduan kulit yang renyah dengan isian manis dan gurih menjadikan kue leker memiliki cita rasa khas yang tetap digemari hingga kini.
Di balik bentuknya yang sederhana, kue leker memiliki cerita menarik dari segi penamaan. Kata leker berasal dari bahasa Belanda, lekker, yang berarti enak atau lezat. Meski asal-usul kemunculannya belum diketahui secara pasti, Solo dan Surabaya kerap dikaitkan dengan perkembangan jajanan ini. Seiring waktu, kue leker semakin dikenal di berbagai daerah sebagai salah satu pilihan jajanan kaki lima.
Dari segi bentuk, kue leker memiliki kemiripan dengan crepes, yaitu makanan berbahan dasar adonan tipis yang dimasak di atas permukaan panas. Namun, keduanya memiliki karakteristik penyajian yang berbeda. Kue leker umumnya dibuat dalam ukuran lebih kecil dan dilipat menjadi setengah lingkaran. Teksturnya cenderung renyah, terutama pada bagian pinggir.
Adonan kulit leker umumnya dibuat dari campuran telur, tepung terigu, susu, gula, dan air. Adonan tersebut kemudian dituangkan tipis ke atas wajan kecil yang telah dipanaskan. Sebagian penjual menggunakan bara arang untuk memasaknya sehingga menghasilkan aroma dan cita rasa khas. Ketika kulit mulai matang dan mengering, isian seperti irisan pisang, cokelat, gula pasir, dan susu kental manis ditambahkan. Setelah itu, kulit dilipat membentuk setengah lingkaran sebelum disajikan.
Pada awalnya, kue leker dikenal dengan isian sederhana seperti pisang, cokelat meses, dan keju. Namun, perubahan selera konsumen mendorong munculnya berbagai pilihan rasa dan topping. Kini, beberapa penjual menawarkan kombinasi cokelat, stroberi, keju susu, hingga aneka isian lainnya. Variasi tersebut memberikan pilihan baru tanpa menghilangkan karakter dasar kue leker.
Perkembangan kue leker juga terlihat dari cara penyajian dan konsep penjualannya. Jika dahulu identik dengan gerobak sederhana, kini jajanan ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk usaha kuliner. Beberapa penjual menghadirkan ukuran mini maupun porsi lebih besar, serta menggunakan kemasan praktis agar mudah dibawa. Meski demikian, sebagian penjual tetap mempertahankan cara pembuatan tradisional menggunakan wajan datar dan arang.
Di tengah beragam pilihan kuliner modern, kue leker tetap memiliki daya tarik melalui kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya. Adonan tipis yang renyah serta isian yang dapat disesuaikan dengan selera menjadi ciri khas yang membedakannya dari jajanan lain. Inovasi rasa dan penyajian juga memperlihatkan bahwa kuliner tradisional dapat mengikuti perkembangan selera tanpa harus kehilangan identitasnya.
Perjalanan kue leker menunjukkan bahwa jajanan sederhana dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Berbagai inovasi pada rasa, ukuran, dan penyajian memberikan pengalaman baru bagi konsumen, sementara karakteristik dasarnya tetap dipertahankan. Di tengah tren kuliner modern, kue leker menjadi salah satu contoh bagaimana jajanan tradisional dapat terus bertahan melalui kreativitas dan penyesuaian.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment