Oleh: Chealsea Caroline Sinukaban, Aflah Suryatama, Zahra Putri Ramadhani, Josua Handoko Saragih, Haya Khadija At-Thahira, Shawqi Fadlullah, M. Farrel Sheridan Darmawan, dan Zahra Zahira
PENDAHULUAN
Media sosial kini menjadi tempat yang sering digunakan untuk memperoleh informasi dan menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan. Melalui kolom komentar, pengguna dapat berdiskusi dan bertukar pendapat tanpa harus bertemu langsung. Hal ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam pembahasan isu-isu publik.
Akan tetapi, pendapat di media sosial terkadang disampaikan tanpa pertimbangan yang cukup. Contohnya adalah memberi tanggapan hanya dari judul berita, memakai kata-kata kasar, atau ikut menulis komentar negatif karena terpengaruh pengguna lain. Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat memicu kesalahpahaman dan membuat diskusi menjadi tidak nyaman.
Persoalan ini berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Sila kedua mengajarkan penghormatan terhadap martabat sesama manusia, sedangkan sila keempat menekankan kebijaksanaan dalam bermusyawarah dan menghargai perbedaan pandangan. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini membahas kebiasaan mahasiswa saat berkomentar serta pentingnya menerapkan etika ketika menyampaikan pendapat di ruang digital.
Etika Berpendapat di Ruang Digital
Etika berpendapat di ruang digital berarti menyampaikan gagasan, kritik, atau tanggapan dengan memperhatikan kebenaran informasi dan kemungkinan dampaknya bagi orang lain. Walaupun komunikasi berlangsung melalui layar, pengguna tetap bertanggung jawab atas perkataannya. Karena itu, komentar sebaiknya tidak ditulis secara terburu-buru tanpa memikirkan akibatnya.
Bertanggung jawab dalam berpendapat bukan berarti harus selalu sependapat dengan orang lain. Kritik tetap boleh disampaikan, tetapi hendaknya membahas gagasan atau masalahnya, bukan menyerang orang yang menyampaikannya. Sebelum berkomentar, pengguna perlu membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber, dan memilih bahasa yang pantas.
Nilai-Nilai Pancasila dalam Budaya Berpendapat
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua mengingatkan setiap orang untuk menghormati hak dan martabat sesama. Di media sosial, penerapannya dapat dilakukan dengan tidak menghina, mengejek, melakukan perundungan siber, atau merendahkan orang lain. Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempermalukan seseorang. Kritik dapat disampaikan dengan alasan yang jelas dan bahasa yang santun.
Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Sila keempat mengajarkan agar pendapat disampaikan secara bijaksana dan perbedaan disikapi dengan terbuka. Dalam diskusi daring, hal ini dapat diwujudkan dengan mendengarkan sudut pandang lain, menyampaikan alasan secara sopan, serta tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Tujuan berdiskusi bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan saling memahami dan mencari jalan keluar.
HASIL PENELITIAN
Jawaban dari 40 responden menunjukkan bahwa sebagian besar cenderung berhati-hati saat berkomentar di media sosial. Mayoritas menyatakan tidak sering menanggapi berita atau isu sosial, tidak berkomentar hanya berdasarkan judul tanpa membaca isi berita, dan tidak ikut menulis komentar negatif sekadar mengikuti orang lain.
Jawaban responden juga menunjukkan pemahaman bahwa kebebasan berpendapat tetap memiliki batas etika. Sebagian responden menyebutkan pentingnya memikirkan dampak komentar dan memilih tidak berkomentar ketika belum yakin akan kebenaran informasi. Namun, tanggapan seseorang masih dapat dipengaruhi emosi atau suasana diskusi, sehingga sikap bijak perlu terus dibiasakan.
Temuan ini hanya menggambarkan jawaban 40 responden yang diteliti. Oleh karena itu, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa atau pengguna media sosial.
PEMBAHASAN
Hasil kuesioner memperlihatkan kecenderungan positif dalam cara responden menyikapi komentar di media sosial. Tidak langsung menanggapi berita dari judul saja dan tidak mengikuti komentar negatif merupakan langkah yang dapat membantu mengurangi kesalahpahaman. Meski demikian, jawaban dalam kuesioner belum tentu menggambarkan perilaku responden dalam setiap keadaan.
Temuan tersebut sejalan dengan sila kedua Pancasila, yang menekankan penghormatan terhadap martabat manusia. Menggunakan bahasa yang santun dan menghindari serangan pribadi merupakan bentuk penerapan nilai kemanusiaan. Seseorang tetap dapat mengkritik pendapat orang lain tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya.
Sila keempat juga relevan karena mengajarkan kebijaksanaan dan penghargaan terhadap perbedaan. Pengguna media sosial dapat menerapkannya dengan membaca informasi sampai selesai, memeriksa sumber, mendengarkan pendapat berbeda, dan menahan diri ketika terbawa emosi. Dengan demikian, ruang digital dapat digunakan untuk bertukar pikiran, bukan sekadar saling menjatuhkan.
Kebiasaan sederhana dapat membantu membangun budaya berpendapat yang lebih sehat, seperti berhenti sejenak sebelum mengirim komentar, memastikan informasi benar, serta menilai apakah komentar memberi manfaat bagi diskusi. Kampus juga dapat mendukungnya melalui literasi digital, diskusi terarah, dan latihan menyampaikan kritik secara beretika.
KESIMPULAN
Berdasarkan kuesioner yang diisi 40 responden, sebagian besar menunjukkan kecenderungan berhati-hati saat menggunakan kolom komentar. Mayoritas menyatakan tidak sering berkomentar pada isu sosial, tidak hanya berpatokan pada judul berita, dan tidak mengikuti komentar negatif orang lain. Namun, hasil ini terbatas pada kelompok yang diteliti dan belum tentu menggambarkan perilaku seluruh mahasiswa.
Budaya berpendapat yang bertanggung jawab dapat dibangun dengan menerapkan sila kedua dan sila keempat Pancasila. Kedua sila tersebut mengajarkan penghormatan terhadap sesama, sikap bijaksana, dan penghargaan terhadap perbedaan. Karena itu, pengguna media sosial perlu memeriksa informasi, berpikir sebelum menulis komentar, dan menghindari serangan pribadi.
SARAN
- Mahasiswa dan pengguna media sosial sebaiknya memeriksa fakta, membaca berita secara lengkap, mempertimbangkan dampak komentar, dan menghindari kata-kata yang merendahkan orang lain.
- Perguruan tinggi dapat memperkuat literasi digital melalui diskusi dan debat terarah yang melatih mahasiswa menyampaikan kritik secara santun.
- Masyarakat diharapkan membiasakan komunikasi yang sehat, menghargai perbedaan, dan menanggapi komentar yang tidak pantas secara bijaksana.
Artikel ini merupakan tugas Mini Riset dengan dosen pengampu Bapak Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment