Home Kuliner Di Balik Lapisan Warna-Warni, Tersimpan Keunikan Kue Lapis Tradisional Indonesia
Kuliner

Di Balik Lapisan Warna-Warni, Tersimpan Keunikan Kue Lapis Tradisional Indonesia

Share

Oleh: Danisha Ozza Aurellia S.

Suara USU, Medan. Lapisan warna-warni yang tersusun rapi menjadi daya tarik utama kue lapis. Jajanan tradisional ini tidak hanya dikenal karena tampilannya, tetapi juga karena perpaduan rasa manis dan gurih serta teksturnya yang lembut dan kenyal. Bahkan, sebagian orang memiliki kebiasaan menikmati kue ini dengan melepaskan lapisannya satu per satu sebelum disantap.

Sesuai namanya, kue lapis terdiri atas beberapa lapisan dengan warna berbeda yang disusun secara berurutan. Perpaduan warna tersebut menghasilkan tampilan menarik, seperti merah muda dan putih atau hijau dan putih. Warna hijau dapat diperoleh dari daun pandan atau daun suji, sedangkan warna lainnya dapat menggunakan pewarna makanan alami maupun buatan.

Dari segi cita rasa, kue lapis memadukan rasa manis dan gurih yang berasal dari bahan pembuatnya. Teksturnya yang lembut dan kenyal memberikan sensasi tersendiri saat disantap. Cara menikmatinya dengan melepaskan lapisan satu per satu juga menjadi kebiasaan yang membuat jajanan ini memiliki daya tarik tersendiri.

Mengutip buku Cinta Kuliner Indonesia yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2018, kue lapis termasuk jajanan pasar khas Indonesia. Buku tersebut menjelaskan bahwa kue ini memiliki tekstur lembut dan kenyal serta terdiri atas dua warna atau lebih yang disusun berlapis-lapis. Kue lapis juga dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dengan nama dan ciri khas yang beragam.

Bahan yang umum digunakan untuk membuat kue lapis meliputi tepung beras, tepung tapioka atau kanji, santan kelapa, gula pasir, dan garam. Daun pandan atau daun suji dapat ditambahkan untuk memberikan aroma harum sekaligus warna alami. Dalam proses pembuatannya, adonan dibagi menjadi beberapa bagian, kemudian diberi warna berbeda. Setiap bagian dituangkan secara bergantian ke dalam loyang dan dikukus secara bertahap hingga membentuk lapisan yang tersusun rapi.

Di sejumlah daerah, kue lapis hadir dengan variasi bahan dan nama yang berbeda. Manado memiliki balapis, sedangkan Bogor dikenal dengan kue lapis talas yang menggunakan talas sebagai bahan khasnya. Ada pula lapis sagu yang dikenal di beberapa daerah, termasuk Betawi. Di Betawi, salah satu variasi kue lapis sagu dikenal dengan sebutan kue pepe. Kudapan ini dibuat dari adonan tepung sagu yang diberi warna, kemudian dikukus secara berlapis hingga menghasilkan tekstur kenyal dan rasa manis.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa kue lapis tidak hanya dikenal melalui tampilan warna-warni, tetapi juga memiliki variasi yang berkembang sesuai dengan bahan dan kebiasaan kuliner setempat. Di tengah munculnya berbagai makanan modern, kue lapis tetap mempertahankan ciri khasnya melalui perpaduan rasa, tekstur, dan tampilan. Mengenalnya menjadi salah satu cara untuk menikmati sekaligus mengenal kekayaan kuliner tradisional Indonesia.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.