Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi
Suara USU, Medan. Di tengah teriknya cuaca, segelas es dawet menjadi salah satu pilihan untuk melepas dahaga. Perpaduan cendol hijau, santan gurih, dan manisnya gula merah menghadirkan cita rasa khas yang telah dikenal masyarakat Indonesia sejak lama. Lebih dari sekadar minuman penyegar, es dawet menyimpan jejak sejarah, tradisi, dan identitas kuliner yang berkembang di berbagai daerah.
Selain menjadi minuman pelepas dahaga, es dawet juga kerap disajikan dalam upacara pernikahan adat Jawa. Kehadirannya dalam tradisi tersebut memperlihatkan hubungan antara kuliner dan kehidupan sosial masyarakat. Seiring perkembangannya, dawet hadir dalam berbagai variasi, di antaranya Dawet Ayu, Dawet Ayu Rumput Laut, Dawet Ireng, Dawet Semarang, Dawet Jepara, dan Dawet Jabung. Setiap variasi memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi bahan, warna, maupun penyajiannya.
Selain memiliki beragam variasi, dawet juga menyimpan jejak dalam perkembangan bahasa Jawa. Dalam Kamus Bahasa Jawa–Indonesia yang dikembangkan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kata dhawet merujuk pada dawet atau cendol. Sementara itu, rujukan etimologi yang mengacu pada kamus bahasa Jawa Kuno mencatat kata dawĕt sebagai sebutan bagi minuman berbahan santan, gula cair, dan gumpalan tepung beras. Catatan tersebut menunjukkan bahwa istilah dawet telah lama dikenal dalam tradisi bahasa dan kuliner Jawa.
Jejak keberadaan dawet tidak hanya ditemukan dalam catatan kebahasaan, tetapi juga dikaitkan dengan peninggalan sejarah. Salah satunya ialah Prasasti Taji yang ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur, dan diperkirakan berasal dari abad ke-10. Prasasti tersebut kerap dikaitkan dengan jejak awal minuman tradisional ini dalam kehidupan masyarakat Jawa. Selain catatan sejarah, terdapat pula cerita rakyat mengenai asal-usul dawet, salah satunya yang berkembang di wilayah Pati, Jawa Tengah.
Dalam kisah tersebut, seorang penjual dawet bernama Ki Sagola menyediakan minuman bagi para pekerja yang sedang membangun pusat pemerintahan. Raden Kembangjaya kemudian tertarik pada kesegaran minuman tersebut. Cerita ini turut dikaitkan dengan penamaan Kadipaten Pesantenan. Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat mengenai perjalanan dawet, meskipun perlu dibedakan dari bukti sejarah tertulis.
Salah satu variasi dawet yang dikenal luas adalah Dawet Ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Minuman ini umumnya dibuat dari cendol berbahan tepung beras, santan kelapa, dan gula kelapa sebagai pemanis. Warna hijau cendol secara tradisional diperoleh dari perasan daun pandan, sedangkan daun suji dapat digunakan untuk menghasilkan warna yang lebih pekat. Dalam penyajiannya, dawet juga dapat dilengkapi potongan buah nangka atau durian untuk menambah aroma dan cita rasa.
Di balik perpaduan bahan yang sederhana tersebut, pembuatan dawet tradisional tetap memerlukan tahapan yang teliti. Mengutip informasi dari laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, prosesnya diawali dengan mencampurkan tepung beras dan air hingga adonan tidak menggumpal. Adonan kemudian dimasak bersama sedikit garam sambil terus diaduk hingga mengental dan matang.
Setelah itu, adonan dicetak melalui saringan berlubang di atas wadah berisi air dingin hingga membentuk butiran memanjang yang kenyal. Air dingin membantu mendinginkan cendol dan mempertahankan bentuknya. Sementara itu, gula merah direbus hingga larut untuk menghasilkan juruh atau air gula. Santan dimasak bersama sedikit garam dan daun pandan hingga mendidih. Setelah seluruh bahan dingin, dawet disajikan dengan campuran cendol, santan, dan juruh sesuai selera.
Di luar proses pembuatannya, dawet juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan agraris masyarakat Jawa. Secara tradisional, minuman ini dijajakan di sekitar persawahan, terutama ketika musim panen tiba. Rasa manisnya menjadi sumber energi, sedangkan kandungan airnya membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Dalam praktik yang dikenal sebagai urup dawet, minuman tersebut dapat ditukar dengan padi berdasarkan kesepakatan antara pedagang dan pemanen. Praktik ini menggambarkan hubungan ekonomi sederhana yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
Kedekatan dawet dengan kehidupan sehari-hari turut membuatnya kerap dibandingkan dengan cendol. Keduanya sering dianggap sebagai minuman yang sama karena memiliki tampilan dan bahan penyajian serupa. Secara umum, dawet lebih lekat dengan tradisi kuliner Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan cendol dikenal luas di Jawa Barat. Bahan pembuatannya pun dapat berbeda-beda, mulai dari tepung beras, tepung sagu, hingga tepung ganyong. Oleh karena itu, perbedaan keduanya tidak selalu dapat ditentukan hanya berdasarkan bahan atau bentuk, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan penyebutan dan tradisi kuliner di setiap daerah.
Seiring perubahan zaman, cara pedagang menjajakan dawet pun ikut mengalami perkembangan. Dahulu, pedagang Dawet Ayu dikenal menggunakan pikulan dengan dua gentong tanah liat di sisi kanan dan kiri. Satu gentong digunakan untuk menyimpan dawet, sedangkan gentong lainnya untuk santan. Gentong tanah liat dipercaya dapat membantu menjaga suhu isi di dalamnya agar tetap sejuk. Kini, banyak pedagang menggunakan gerobak dan wadah yang lebih praktis serta menambahkan es batu agar minuman terasa lebih dingin saat disajikan.
Berbagai jejak tersebut memperlihatkan bahwa es dawet bukan sekadar minuman pelepas dahaga, melainkan bagian dari warisan budaya yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Dari penggunaan bahan pangan sederhana hingga cara pedagang menjajakan dagangannya, dawet menyimpan pengetahuan lokal, cerita rakyat, serta kebiasaan sosial dan ekonomi yang diwariskan lintas generasi. Kehadirannya dalam tradisi pernikahan adat Jawa juga menunjukkan bahwa kuliner dapat menjadi bagian penting dari praktik kebudayaan.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment