Home Life Style Menolak Tekanan Tren di Media Sosial, Fenomena De-Influencing pada Gen Z
Life Style

Menolak Tekanan Tren di Media Sosial, Fenomena De-Influencing pada Gen Z

Share

Oleh: Ghefira Mannawa Salwa 

Pernah merasa ingin membeli sesuatu hanya karena barang tersebut terus muncul di For You Page? Satu produk bisa terlihat di berbagai konten dalam waktu yang berdekatan, mulai dari video rekomendasi, ulasan kreator, hingga unggahan yang menyebutnya sebagai barang yang wajib dimiliki. Tanpa sadar, sesuatu yang awalnya tidak dibutuhkan dapat berubah menjadi barang yang terasa harus dimiliki.

Kebiasaan tersebut kemudian mulai mendapat respons melalui tren de-influencing. Tren ini muncul ketika sejumlah kreator justru menggunakan media sosial untuk mengingatkan audiens agar tidak mudah terbawa arus konsumsi. Mereka membagikan pengalaman menggunakan suatu produk, menunjukkan kekurangannya, atau menyarankan audiens untuk tidak membelinya jika memang tidak diperlukan.

Kemunculan de-influencing menjadi menarik karena menunjukkan adanya perubahan dalam cara Gen Z berhadapan dengan tren digital. Jika sebelumnya media sosial sering menjadi tempat munculnya dorongan untuk membeli, kini platform yang sama juga digunakan untuk mempertanyakan kembali dorongan tersebut. Bukan lagi sekadar “produk ini sedang viral”, tetapi mulai muncul pengingat seperti, “Jangan beli barang ini  gamau bikin uang kamu terbuang.”

Fenomena de-influencing tidak hanya berkembang di Indonesia. Dalam Journal of Business Research, penelitian terhadap pengguna TikTok menunjukkan bahwa konten de-influencing dapat memberikan pengaruh yang lebih positif terhadap rasa percaya diri dan penerimaan diri dibandingkan konten influencer pada umumnya. Konten influencer yang menampilkan citra ideal terkadang dapat mendorong audiens untuk membandingkan dirinya dengan gambaran yang sulit dicapai.

Berbeda dengan itu, konten de-influencing cenderung memperlihatkan pengalaman yang lebih apa adanya. Kreator tidak hanya membicarakan kelebihan suatu produk, tetapi juga dapat menunjukkan kekurangan atau alasan mengapa produk tersebut sebenarnya tidak perlu dibeli. Cara penyampaian seperti ini membuat audiens mendapatkan gambaran yang lebih realistis dan tidak terus-menerus diarahkan pada gambaran kesempurnaan.

Hal tersebut menjadi penting karena media sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang melihat dirinya maupun lingkungan di sekitarnya. Ketika pengguna terus melihat orang lain memiliki barang tertentu, menggunakan produk tertentu, atau mengikuti tren yang sama, keinginan untuk ikut memiliki dapat muncul tanpa benar-benar mempertimbangkan kebutuhan pribadi.

Selain memengaruhi cara pandang terhadap tren, de-influencing juga mendorong Gen Z untuk lebih berhati-hati sebelum membeli sesuatu. Produk yang sedang ramai di media sosial tidak lagi otomatis dianggap sebagai barang yang harus dimiliki. Ada pertimbangan lain yang mulai muncul, seperti kebutuhan, fungsi, harga, hingga kemungkinan barang tersebut hanya akan menjadi barang yang jarang digunakan.

Perubahan ini membuat media sosial tidak hanya berfungsi sebagai ruang promosi. Pengalaman dan pendapat pengguna juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi orang lain sebelum mengambil keputusan. Dari sini, muncul kebiasaan untuk tidak langsung mengikuti tren dan lebih berani menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan sendiri.

Sikap tersebut juga dapat membantu seseorang mengatur pengeluaran dengan lebih sadar. Alih-alih membeli banyak barang yang sedang populer, pengguna dapat memilih produk yang benar-benar akan digunakan dalam jangka panjang. Pilihan sederhana seperti membandingkan harga, mencari ulasan lain, atau memberi waktu sebelum membeli dapat menjadi cara untuk menghindari keputusan yang hanya didorong oleh tren.

Fenomena tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk consumer resistance terhadap budaya konsumsi berlebihan di ruang digital. Sikap selektif dalam memilih produk, termasuk kecenderungan menggunakan barang yang lebih fungsional dan tidak mudah tergoda oleh tren, menunjukkan adanya perubahan dalam cara Gen Z memandang konsumsi.

Di sini, peran de-influencing bukan berarti mengajak seseorang untuk berhenti berbelanja sepenuhnya. Lebih dari itu, tren ini mengingatkan bahwa keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada kebutuhan serta manfaat, bukan semata-mata karena sebuah produk sedang viral dan banyak direkomendasikan di media sosial.

De-influencing menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu harus menjadi ruang yang mendorong seseorang untuk terus membeli. Di tengah cepatnya pergantian tren, ruang digital juga dapat digunakan untuk berbagi pengalaman, mengingatkan orang lain, dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sadar. Sebab, mengikuti tren tidak selalu berarti harus memiliki semua yang sedang ramai. Ada kalanya, pilihan untuk tidak membeli justru menjadi keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, Gen Z tidak hanya menjadi konsumen yang mengikuti arus, tetapi juga memiliki kendali untuk menentukan apa yang benar-benar layak dibeli dan digunakan.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.