Home Life Style Tren Snackpacking Generasi Z, Berburu Jajanan Lokal
Life Style

Tren Snackpacking Generasi Z, Berburu Jajanan Lokal

Share

Oleh: Ghefira Mannawa Salwa

Suara USU, Medan.  Snackpacking adalah tren wisata atau gaya berjalan-jalan kuliner yang dilakukan oleh anak muda, khususnya Generasi Z dengan cara menjelajahi berbagai ruang publik (seperti pasar tradisional, Car Free Day, atau sentra jajanan kaki lima) untuk berburu, mencicipi, dan merekomendasikan aneka ragam camilan atau jajanan lokal. Kegiatan ini bukan sekadar makan untuk mengisi perut, melainkan mencari pengalaman autentik yang ramah di kantong, mengeksplorasi rasa baru, sekaligus menciptakan konten kreatif untuk dibagikan di media sosial.

Berjalan-jalan sambil mencicipi berbagai jajanan kini menjadi salah satu kegiatan yang digemari anak muda. Berdasarkan data perilaku konsumen, sekitar 24% hingga 26% Generasi Z secara aktif menikmati makanan atau camilan secara on-the-go di ruang publik dibandingkan generasi pendahulu. Tidak sedikit dari mereka yang sengaja mendatangi suatu tempat hanya untuk mencoba makanan yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Mulai dari jajanan tradisional, camilan kekinian, hingga makanan yang sebelumnya belum pernah mereka coba. Kebiasaan berburu berbagai camilan dalam satu perjalanan ini dikenal dengan istilah snackpacking.

Fenomena tersebut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai ruang publik, salah satunya saat Car Free Day (CFD). Di tengah suasana yang biasanya dipenuhi orang-orang berolahraga dan berjalan santai, banyak anak muda justru menyempatkan diri untuk berburu aneka jajanan. Setelah berjalan mengelilingi kawasan CFD, mereka biasanya mendatangi deretan pedagang untuk melihat makanan apa saja yang menarik perhatian. Ada yang hanya membeli minuman segar, makanan ringan, hingga jajanan yang sedang viral di media sosial.

Bagi Generasi Z, kegiatan ini bukan sekadar membeli makanan untuk mengisi perut, di mana sekitar 28% Generasi Z bahkan menjadikan kegiatan berburu camilan sebagai sarana pelepasan stres (stress relief) di sela-sela aktivitas harian (innovamarketinsights). Ada pengalaman tersendiri ketika menemukan jajanan unik, mencoba rasa yang belum pernah dicicipi, hingga mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya tidak diketahui. Bahkan, tidak jarang mereka menjadikan aktivitas tersebut sebagai agenda bersama teman. Berkeliling mencari makanan, saling merekomendasikan jajanan, kemudian mencicipinya bersama menjadi bagian dari keseruan tersendiri.

Perkembangan media sosial juga ikut membuat kebiasaan ini semakin menarik, dengan catatan bahwa sebanyak 60% hingga 80% Generasi Z memutuskan untuk mencoba kuliner baru karena pengaruh konten di platform seperti TikTok dan Instagram Reels. Konten tentang rekomendasi makanan, ulasan jajanan, hingga video berburu kuliner sering kali membuat orang penasaran untuk mencoba hal serupa. Tampilan makanan yang unik, harga yang terjangkau, serta lokasi penjual yang mudah ditemukan menjadi beberapa hal yang menarik perhatian pengguna media sosial. Dari satu unggahan, sebuah jajanan bisa semakin dikenal dan mendorong orang lain untuk datang mencobanya.

Salah satu hal yang membuat snackpacking menarik adalah kebebasan dalam memilih makanan. Berdasarkan tren preferensi, faktor penentu dalam memilih makanan didominasi oleh rasa (40%), harga terjangkau (20-40%), serta ketersediaan atau kemudahan lokasi (20%). Anak muda bisa menjelajahi berbagai jenis jajanan tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Warung kecil, pasar tradisional, hingga pedagang kaki lima justru sering menjadi tujuan karena menawarkan makanan dengan cita rasa khas dan harga yang relatif terjangkau. Tidak selalu harus mendatangi tempat makan yang sedang populer, terkadang jajanan sederhana yang dijual di pinggir jalan justru memberikan pengalaman kuliner yang berkesan.

Kebiasaan ini juga membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengenal lebih dekat kuliner dari berbagai daerah. Setiap daerah memiliki makanan khas dengan bahan, rasa, dan cara penyajian yang berbeda. Ada jajanan yang sudah dikenal sejak lama, tetapi masih diminati hingga sekarang. Ada pula makanan tradisional yang mulai kembali menarik perhatian karena diperkenalkan melalui konten kreatif di media sosial.

Di balik kebiasaan tersebut, terdapat peluang yang cukup besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di bidang kuliner. Meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap jajanan dapat menjadi kesempatan bagi pedagang lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen yang lebih luas. Terlebih, kegiatan berburu makanan membuat konsumen memiliki kesempatan untuk menemukan produk yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka kenal.

Media sosial pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi yang mudah dijangkau. Sebuah jajanan dengan tampilan menarik, kemasan unik, atau cita rasa yang berbeda dapat menjadi bahan konten yang mengundang rasa penasaran. Ketika seseorang membagikan pengalaman mencicipi makanan tersebut, secara tidak langsung produk milik pedagang ikut dikenal oleh lebih banyak orang. Hal ini dapat membantu UMKM menjangkau calon pembeli tanpa harus selalu mengandalkan promosi secara langsung.

Namun, peluang tersebut tentu perlu diimbangi dengan kualitas produk. Pelaku UMKM tidak cukup hanya mengikuti makanan yang sedang viral atau membuat tampilan produk semenarik mungkin. Rasa, kebersihan, harga, dan pelayanan tetap menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Sebab, popularitas di media sosial mungkin dapat menarik pembeli untuk pertama kali, tetapi kualitas produk menjadi salah satu alasan mereka untuk kembali.

Selain itu, tren snackpacking juga dapat menjadi ruang bagi kuliner tradisional untuk kembali mendapat perhatian. Jajanan yang mungkin sebelumnya hanya dikenal di lingkungan tertentu berpeluang diperkenalkan kepada generasi muda melalui pengalaman berburu kuliner. Dengan begitu, anak muda tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga ikut mengenal dan memperkenalkan kekayaan makanan lokal kepada orang lain.

Walau begitu, tren kuliner di dunia maya memang gampang sekali bergeser. Apa yang sedang hits hari ini belum tentu masih digandrungi dalam beberapa waktu ke depan. Makanya, para pelaku usaha lokal sebaiknya memandang fenomena ini sebagai celah untuk memajukan bisnisnya, bukan sekadar latah mengikuti popularitas sesaat. Tentu saja, terobosan dalam hal kemasan maupun cara promosi tetap bisa dijalankan tanpa harus merusak keaslian cita rasa aslinya. Di tengah arus tren kuliner yang bergerak dinamis, kebiasaan unik anak muda ini bisa menjadi jembatan ampuh agar jajanan tradisional kita makin dikenal dan terus dicintai oleh generasi-generasi selanjutnya.

Redaktur: Rifatul Suaidah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.